REFRAMING
(1)
Kisah Petani, Anak dan Kudanya
Alkisah,
di sebuah perkampungan miskin, hiduplah seorang petani yang
dikenal sangat cekatan. Ia memiliki seekor kuda yang sangat
elok. Semua pekerjaannya, mulai dari mencari kayu di hutan
sampai menjualnya di kota, dan semua keperluan transportasinya
menjadi sangat efisien berkat kesigapan sang kuda.
Suatu hari, kudanya melarikan diri. Semua tetangganya mendengar
berita itu lalu datang dan menghiburnya, "Tentunya
kamu sedih atas hilangnya kudamu itu?"
Petani itu balik bertanya, "Kok kamu tahu?"
Tiga hari kemudian sang kuda kembali sambil membawa dua
ekor kuda liar. Seluruh tetangga ikut bergembira dan menyalaminya.
"Tentu kamu bahagia karena kudamu telah kembali sambil
membawa dua ekor kuda."
Petani itu balik bertanya, "Kok kamu tahu?"
Sore harinya, anak lelakinya mencoba menaiki salah satu
kuda liar itu. Kuda itu melemparkannya ke tanah dan membuatnya
patah kaki. Seluruh tetangganya ikut bersedih dan datang
menghiburnya, "Tentu kamu sedih karena anakmu patah
kakinya."
Petani itu lagi-lagi bertanya, "Kok kamu tahu?"
Beberapa hari kemudian datang serombongan tentara menjemput
anaknya untuk masuk wajib militer. Ketika melihat kaki si
anak patah, para tentara itu membebaskannya dari kewajiban.
Tetangganya kembali berdatangan dan memberinya komentar
betapa bahagianya dia. Si petani tetap menanggapinya dengan
balik bertanya, "Kok
?"
-------------------------
Arti
sebuah kesedihan atau kebahagiaan tergantung dari sudut
pandang mana orang melihatnya. Ketika sudut pandang berubah,
maka berubah pula artinya. Mendapat dua ekor kuda gratis
adalah hal yang membahagiakan. Namun, menjadi patah kaki
gara-gara kuda itu adalah hal yang menyedihkan. Patah kaki
adalah hal yang menyedihkan. Namun, kalau gara-gara patah
kaki lalu terbebas dari wajib militer adalah hal yang membahagiakan.
Sumber:
Buku REFRAMING: Kunci hidup bahagia 24 jam sehari
- RH. Wiwoho