The
Magic of Language (2)
Kata-kata
tidak hanya merepresentasikan, tapi juga 'membingkai' (framing)
pengalaman seseorang. 'Membingkai' dalam arti membawa aspek-aspek
tertentu sebagai latar depan (foreground) dan meninggalkan
sisanya sebagai latar belakang (background).
Ambil contoh kata "tapi", "dan"
serta "meskipun". Tatkala kita
menghubungkan dua pengalaman menjadi satu dengan memakai
kata hubung yang berbeda tadi, efeknya akan mengarahkan
fokus perhatian kita pada aspek yang berbeda dari pengalaman-pengalaman
itu.
(1)
"Hari ini cerah tapi besok akan turun
hujan," ini memfokuskan perhatian kita lebih pada 'besok
akan turun hujan' dan sering mengabaikan kenyataan bahwa
'hari ini cerah'.
(2) Bila seseorang menghubungkan dua pengalaman berbeda
itu dengan kata "dan" - contohnya.,
"Hari ini cerah dan esok akan turun hujan" - kedua
pengalaman diatas sama-sama ditekankan.
(3) Bila seseorang berkata,"Hari ini cerah meskipun
esok akan turun hujan," efeknya akan memfokuskan perhatian
kita lebih pada pernyataan pertama - yakni hari ini cerah
- dan meninggalkan lainnya sebagai latar belakang.
Jenis
membingkai ulang (reframing) ini tetap,
apapun konten yang sedang dibicarakan. Contoh:
(1)
"Hari ini saya bahagia tapi saya tahu
hal ini takkan berlangsung lama;"
(2) "Hari ini saya bahagia dan saya
tahu hal ini takkan berlangsung lama;" dan
(3) "Hari ini saya bahagia meskipun
saya tahu hal ini takkan berlangsung lama," akan menciptakan
perubahan dalam penekanan yang mirip dengan contoh cuaca
diatas.
Hal serupa muncul dalam pernyataan berikut:
(1)
"Saya ingin meraih cita2 saya tapi
saya punya sebuah masalah;"
(2) "Saya ingin meraih cita2 saya dan
saya punya sebuah masalah;" dan
(3) "Saya ingin meraih cita2 saya meskipun
saya punya sebuah masalah."
Ketika
struktur semacam ini muncul dalam banyak konten dengan cara
yang sama, kita menyebutnya sebagai pola (pattern).
Beberapa orang, misalnya, punya kebiasaan (pola)
dimana mereka sering mengabaikan sisi positif dari pengalamannya
dengan kata "tapi".
Jenis
framing seperti ini dapat secara signifikan mempengaruhi
cara kita menilai sebuah masalah dan merespon sebuah situasi.
Mari kita lihat pernyataan ini:
*)
"Anda dapat melakukan apapun yang anda inginkan, kalau
anda mau bekerja cukup keras."
Ini sebuah keyakinan yang mantap dan mendorong (empowering).
Pernyataan di atas menghubungkan dua pengalaman dalam relasi
sebab-akibat: "melakukan apapun yang anda inginkan"
dan "bekerja cukup keras."
"Melakukan
apapun yang anda inginkan" adalah sesuatu yang
sangat memotivasi. "Bekerja cukup keras"
adalah sesuatu yang tidak terlalu diinginkan. Karena keduanya
ditautkan, dimana pernyataan: "anda dapat melakukan
apapun yang anda inginkan" diletakkan sebagai
latar depan (foreground), akibatnya akan menciptakan
sebuah motivasi yang kuat, karena mengaitkan sebuah impian
atau harapan dengan sumberdaya yang diperlukan untuk membuatnya
menjadi kenyataan.
Perhatikan
apa yang terjadi bila anda membalik urutan pernyataan diatas
dan mengatakan,"Bila anda mau bekerja cukup keras,
anda dapat melakukan apapun yang anda inginkan."
Meskipun pernyataan ini menggunakan kata-kata yang sama
persis, efeknya akan berkurang, karena keinginan untuk "bekerja
cukup keras" telah diletakkan sebagai latar depan.
Ini seakan lebih seperti upaya untuk meyakinkan seseorang
agar bekerja cukup keras daripada penekanan bahwa "anda
dapat melakukan apapun yang anda inginkan."
Dalam
bingkai yang kedua ini, " melakukan apapun yang anda
inginkan" muncul lebih sebagai ganjaran untuk "bekerja
keras." Pada pernyataan pertama, keinginan untuk "bekerja
keras" dibingkai sebagai sumberdaya internal untuk
"melakukan apapun yang anda inginkan." Perbedaan
ini, meski kecil, dapat membuat efek besar pada bagaimana
pesan diterima dan dipahami.
Reframing
"meskipun"
Memahami
pola-pola verbal memungkinkan kita memilih moda linguistik
mana yang dapat membantu kita menajamkan dan mempengaruhi
arti yang kita persepsikan. Sebagai contoh adalah membingkai
ulang "meskipun". Teknik ini dipakai dengan menggunakan
kata "meskipun" untuk mengganti kata "tapi"
dalam setiap kalimat dimana kata "tapi" sedang
digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi pengalaman
positif seseorang.
Algoritmanya sebagai berikut:
1.
Kenali sebuah pernyataan dimana sebuah pengalaman positif
'di korupsi' dengan kata "tapi."
Misalkan., "Saya menemukan sebuah solusi dari masalah
saya, tapi hal ini akan muncul lagi nanti."
2.
Sisipkan kata "meskipun" sebagai pengganti
kata "tapi," dan perhatikan bagaimana
hal ini mengubah fokus perhatian anda.
"Saya menemukan sebuah solusi dari masalah saya,
meskipun hal ini akan muncul lagi nanti."
Struktur ini membuat orang mempertahankan fokus positif
serta menyeimbangkan persepsinya. Dalam terapi dan coaching
teknik ini terbukti ampuh untuk orang yang punya kebiasaan
mengatakan "Ya, tapi…."
****
Sumber:
Materi yang dibawakan dalam NLP Practice Group
(Sesi 1) untuk para alumni NLP Certification Program, The
8th at Bellezza, tanggal 2 Februari 2008.
|