Putri:
"Ayah, mengapa sesuatu mudah sekali menjadi kacau
dan berantakan?"
Ayah:
(sambil keheranan, kemudian bertanya) "Apa yang kau
maksud dengan kacau, sayang?"
Putri:
(sambil menahan kesal) "Lihat saja meja aku sekarang.
Barang-barang berserakan di mana-mana. Kacau
berantakan
sekali, Ayah! Padahal baru semalam dirapikan. Biasanya
semua selalu beres, tapi sekarang mudah sekali berantakan!
Kenapa, Ayah? Kenapa?
Ayah:
(sambil menatap ke sekeliling ruangan, lalu menatap putrinya
dan berkata) "Perlihatkan pada Ayah, yang beres itu
seperti apa?"
Putri:
(merespon dengan memindahkan segala sesuatu di rak ke
posisi yang telah ditentukan dan berkata) "Nah, Ayah,
ini baru sempurna. Tapi aku yakin, sebentar lagi pasti
tidak akan rapi lagi seperti ini."
Ayah:
"Bagaimana jika kotak pensil itu digeser sepuluh
cm kesini. Apa yang terjadi?"
Putri:
"Jangan, Ayah, malah jadi berantakan. Lagipula letaknya
harus lurus, bukan miring seperti yang Ayah lakukan."
Ayah:
"Bagaimana kalau Ayah pindahkan pensil itu ke sini?"
Putri:
"Sama saja, Ayah. Berantakan juga."
Ayah:
"Bagaimana jika buku ini dibiarkan terbuka sebagian?"
Putri:
"Itu juga berantakan! Kacaaaau!"
Ayah:
(berpaling pada putrinya dan berkata) "Sayang, bukan
barang-barang itu yang mudah kacau atau berantakan. Kau
memiliki lebih banyak cara untuk menjadi kacau, namun
hanya punya satu cara untuk menjadi rapi."
----------