Kunci menuju puncak motivasi

PROFIL: Kunci menuju puncak motivasi

                                                     Jangan merusak pintunya, temukan kuncinya.
R.H. WIWOHO

Hendri datang ke kantor saya. Wajahnya murung dan terlihat jengkel. Dia melonggarkan dasi Giani Versacenya dan membanting tubuh sekenanya.
Aku tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti. Apalagi yang harus kuberikan? Mobil sudah, insentif sudah. Promosi jabatan baru saja diterimanya. Tapi kerjaannya? katanya sambil menyebut nama salah satu manajernya. Punya gagasan?

Pernah mengancam untuk memecatnya? sahut saya. Aku serius nih,ujarnya sambil menahan nafas, tanda tidak senang dengan jawaban saya. Aku juga serius,kata saya menegaskan. Dialog berlangsung panjang, dan setelah kami mendiskusikan Profil 1 yang ada dalam buku ini, dia berseru: Oh, jadi dia memiliki Arah Motivasi menjauhi? Pantas saja, hampir semuarewards yang kuberikan tidak banyak manfaatnya.Dua bulan kemudian, dia menelpon dan bercerita tentang perubahan-perubahan besar yang terjadi pada manajernya itu.

Anak saya malas sekali belajar, kata seorang ibu di sela rehat kopi dalam salah satu seminar saya. Saya tidak tahu, mau jadi apa dia kelak. Berkali-kali saya menasehatinya dan memberikan contoh anak-anak yang putus sekolah dan kemudian menjadi anak jalanan. Tetap saja dia tidak mau berubah.Setelah sesi pembahasan kombinasi profil selesai, si Ibu menyadari bahwa dia memakai kata kunci yang salah dalam berkomunikasi dengan anaknya. Akibatnya, si dia tidak berhasil memotivasi anaknya, bahkan justru menjadi ganjalan dalam hubungan dengan sang anak.

Komunikasi adalah problem nomor satu baik di kantor, di rumah maupun di masyarakat luas. Perselisihan antar orang semakin lama semakin sering terjadi. Dari mulai operator telpon dengan prospek pelanggan, dendam anak pada orang tuanya, sampai konflik kekeraskepalaan antar dua kepala negara yang berakhir dengan perang berkepanjangan. Komunikasi yang buruk dapat berakhir dengan pertikaian dan kebencian. Pada sisi lain komunikasi yang tepat dapat menggerakkan seseorang pada potensi maksimalnya.

Setiap orang unik dan seperti diketahui, orang berkomunikasi melalui sejumlah filter atau saringan yang dibentuk oleh masa lalu, identitas, keyakinan serta nilai-nilai yang dimilikinya. Beberapa orang berpikir dengan urut-urutan yang sistematis, sementara yang lain lebih suka melihat opsi yang dimilikinya. Beberapa orang tertarik pada hal-hal yang baru dan berbeda, sementara yang lainnya ingin tetap status quo atau serupa dengan apa yang sudah diketahuinya.

Alangkah menyenangkannya, bila kita mampu memahami apa yang orang lain maksudkan saat dia berbicara kepada kita. Lebih-lebih lagi bila kita mampu memprediksi perilakunya dari kata-kata yang diucapkannya. Dan yang lebih hebat lagi, bila kita mampu menggerakkanperilakunya dengan respons yang kita berikan kepadanya.
Nah, buku ini berisi tentang tiga hal di atas yakni bagaimana memahami, memprediksi danmempengaruhi seseorang, dengan satu model yang saya sebut sebagai ProFil.

Sekilas tentang ProFil

ProFil yang untuk selanjutnya akan ditulis dengan cara biasa: Profil sebenarnya merupakan singkatan atau akronim dari dua kata: Pro(gram) dan Fil(ter). Program yang dimaksud disini adalah kebiasaan atau kecenderungan orang dalam hal-hal tertentu. Seperti masalnya, ada kecenderungan orang ketika berhadapan dengan penjahat dan diancam:Harta atau nyawa? Ada orang yang mempertahankan hartanya mati-matian, dan bila perlu menyabung nyawa, namun ada pula orang yang lebih rela menyerahkan hartanya langsung ketimbang nyawanya dalam taruhan. Kedua kecenderungan seperti ini bisa kita sebut sebagai refleks, respon tidak sadar atau tindakan spontan. Pola seperti ini akan terus dilakukan seseorang sepanjang konteks kejadiannya sama atau mirip.
Contoh lain. Ada orang yang memiliki kecenderungan memutuskan sesuatu dengan keyakinannya sendiri, sementara banyak orang lain mengambil keputusan berdasarkan opini atau pendapat orang lain. Dalam buku ini, kelompok orang pertama kita sebut memilikiProgram Internal, dan yang kedua punya Program Eksternal.
Lalu, bagaimana kita membedakan kedua kelompok orang tersebut? Dengan sebuah pertanyaan yang disebut sebagai Filter. Misalnya dalam kasus internal dan eksternal di atas, filternya adalah: Bagaimana anda tahu bahwa anda telah melakukan (konteks) dengan baik?

Apa itu Neuro Linguistic Programming (NLP)?

Dari namanya NLP terdiri dari tiga kata yaitu Neuro atau system syaraf, Linguistic yakni bahasa, baik verbal maupun non-verbal, dan Programming, sebuah kata yang berasal dari istilah komputer yang artinya satu set prosedur yang menghasilkan satu output tertentu.  Bila diartikan secara longgar NLP berarti: apapun yang masuk ke dalam tubuh seseorang, baik secara verbal maupun non-verbal (baik oleh diri sendiri maupun orang lain), akan menjadi program di dalam syaraf seseorang. Dengan kata lain, sebenarnya perilaku manusia adalah hasil dari kebiasaan (habits) atau program yang ada di otak seseorang. Misalnya: ada orang yang secara verbal selalu mengatakan kepada diri sendiri, saya bodoh beratus-ratus kali, maka akhirnya yang bersangkutan merasa dirinya benar-benar bodoh. Contoh lain: bila seseorang berlatih melakukan kebiasaan non-verbal, misalnya menendang bola dengan kaki kiri berulang-ulang kali, akhirnya secara spontan dia mampu menendang bola dengan sangat baik lewat kaki kirinya.

NLP dikembangkan pertama kali oleh Richard Bandler dan John Grinder pada tahun 70-an dan menjadi teknik terapi yang kontekstual, ekologis dan powerful. (Bila anda ingin mengetahui sejarah singkatnya, baca buku saya, Reframing: Kunci Hidup Bahagia 24 Jam Sehari, telah diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama). Prinsip kerjanya adalah: apa pun yang bisa diprogram buruk pada manusia selalu bisa di-reprogram menjadi baik, karena NLP berasumsi bahwa content mengikuti struktur, dan bukan sebaliknya. Apapun yang bisa dilakukan oleh seseorang, selalu bisa dilakukan oleh orang lain, apabila kita mampu membuat modelnya, karena NLP berasumsi bahwa setiap orang memiliki semberdaya yang sama. Tidak ada yang namanya gagal. Yang ada hanyalah umpan balik dari tindakan kita. Ada banyak prinsip lagi yang dalam NLP disebut sebagai presupposition dan menjadi fondasi kerja praktisi serta trainer NLP.

Dari banyak teknik yang dikembangkan oleh NLP seperti: Reframing, Pacing-Leading, Anchoring, Well-formed Outcomes, Chunking, Beliefs, Meta Model, Milton Model dan sebagainya, salah satunya adalah Meta Program yang pertama kali dikembangkan oleh Leslie-Cameron Bandler dan Richard Bandler. Meta Program merupakan salah satu teknik paling luwes yang dipunyai oleh NLP, dan merupakan jawaban mengapa teknik-teknik lain kadang tidak mempan digunakan pada seseorang. Dengan Meta Program hambatan seperti resistensi dalam menghadapi klien yang sulit dapat dieliminir dan pekerjaan intervensi serta proses konsultasi menjadi lebih efisien, efektif dan elegan.