Gestalt (Bag.1)

Apa itu gestalt?
Apa kaitan gestalt dengan terapi?
Lalu apa hubungannya dengan kepemimpinan?

Istilah gestalt yang artinya “bentuk” berakar dari bahasa Jerman. Mari kita ambil contoh mobil. Dalam sebuah mobil ada bagian-bagian (spareparts) yang saling terkait dan bekerja sama secara sinergistis membentuk sebuah sistem. Mobil bisa berfungsi sebagai alat transportasi, bisa untuk berekreasi atau berolah raga, maupun sebagai alat kreasi bagi penikmat karya seni.

Parts dan Mobil

Nah, suku cadang mobil seperti mesin, ban, pelek, rangka, gardan, baut, dashboard dan stir bila cuma diletakkan begitu saja hanya akan menjadi tumpukan suku cadang, tidak kurang tidak lebih. Namun jika bagian-bagian tadi dirangkai sesuai dengan karakteristik masing-masing akan membentuk satu kesatuan utuh dan hasilnya akan berbeda.

Secara prinsip, masing-masing suku cadang tadi tidak berubah bentuknya, tapi kesatuannya menjadi bentuk baru bernama mobil dan bisa menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai tambah lebih. Suku cadang dalam bentuk terurai, tidak banyak berfungsi. Namun begitu dipadukan, dapat dipetik manfaatnya. Energi dari mesin disalurkan ke belakang untuk memutar roda-roda belakang mobil; roda tersebut berputar dan bertransformasi menjadi gerak; mobil pun berjalan, di mana roda belakang mendorong roda depannya atau sebaliknya – tergantung mobil tersebut dirancang menggunakan tarikan roda mana yang lebih dulu.

Seperti diketahui, mobil tentu saja mesti dikemudikan dengan benar, dijaga arahnya supaya tidak menabrak dan digas agar tidak berhenti. Mobil harus dibelokkan (ke kiri atau ke kanan) dan diarahkan sesuai tujuannya; berhenti sejenak dengan menginjak rem jika ada penghalang di depannya, lalu menginjak gasnya lagi. Begitu seterusnya hingga sampai di tujuan.

Parts dan Manusia

Itulah sejatinya fungsi terapis. Seorang terapis mesti faham bahwa sebuah entitas bukan cuma menjumlahkan bagian-bagiannya, tetapi mengaktifkan peran masing-masing parts menjadi kesatuan sistem yang harmonis. Setiap parts memiliki peranannya sendiri-sendiri dan mesti bekerja sama secara sinkron dengan parts lainnya untuk meraih tujuan yang dicanangkan. Hasil yang didapatkan dari gabungan beberapa parts yang ada menjadi sesuatu yang baru dan memiliki makna serta fungsi baru. Seorang terapis seyogyanya tahu pasti apa hasil yang ingin diraih pasiennya dan faham bahwa untuk memperolehnya harus diperoleh lewat racikan serta cara yang pas.

Tapi, apa itu parts dalam diri manusia? Bagian (parts) adalah aspek kualitas dari seseorang: bagian yang efisien, bagian yang betah di rumah, bagian yang senang mengasuh, bagian yang hobi belanja, sifat anak kecil, si ceria, dan semua bagian-bagian lain yang membentuk Anda menjadi individu yang unik dan khas, tak peduli apakah Anda menyadarinya atau tidak.

Siapa saja yang merasa kagum dengan dirinya, siapa saja yang berbicara seakan-akan idenya turun dari langit, siapa saja yang kadang melakukan hal “gila” sebenarnya sedang mengalami apa yang disebut sebagai “melakukan kontak dengan bagian” tertentu dari keseluruhan bagian dari dirinya, entah sadar atau tidak ketika melakukannya.

Orang memiliki parts yang kerap tidak disadarinya dan kadang tidak tahu pula apa tujuan yang sedang dilakukan oleh parts-nya. Ketika sedang aktif menjalankan satu part, tidak berarti bahwa yang bersangkutan sedang berkomunikasi dengan bagian itu. Setiap orang pasti memiliki parts dan parts akan terus tumbuh sepanjang kita hidup. Semakin tua, semakin berpengalaman dan semakin otak kita kaya akan kreasi, maka semakin banyak parts yang akan muncul dan berkembang.

Terbentuknya Bagian-bagian

Bagaimana bagian-bagian (parts) itu terbentuk? Paling tidak ada 2 hal yang mendasari. Parts terbentuk dan berkembang melalui peran dan emosi yang kita mainkan sehari-hari. Keduanya membentuk jalinan atau untaian. Tentu saja tambahan peran (menjadi ibu rumah tangga; memperoleh jabatan baru; mengambil kursus lain, dan seterusnya) dapat mempengaruhi atau menghasilkan emosi-emosi baru. Peran bisa saja berhubungan dengan keluarga – sebagai ibu, istri, ayah, adik – atau dengan pekerjaan kita, misalnya karyawan, kepala bidang, project officer dan seterusnya. Saya, misalnya, memiliki part sebagai ayah, suami, trainer, entrepreneur, dan penulis.

Ada juga yang namanya sub-part (sub bagian). Misalnya sub-bagian saya adalah sopir ketika mengantarkan anak saya ke sekolah. Meskipun peran utamanya adalah seorang ayah, seseorang tetap saja memiliki sub-peran sebagai anak dan bahkan cucu dari seseorang (dan sub-peran ini akan tetap ia miliki meskipun ayah dan kakeknya sudah tiada).

Kita juga memiliki peran yang kita mainkan pada waktu-waktu yang berbeda. Di organisasi sosial, klub otomotif, keagamaan, reuni sekolah atau pada saat perusahaan kita dalam krisis, misalnya, kita punya peran sebagai si pendamai, tukang bikin onar, atau tukang kipas. Atau mungkin Anda terkenal sebagai negosiator ulung yang bisa membuat dua orang yang bermusuhan menjadi damai dalam satu jam.

Di sisi lain, bagian juga terbentuk di sekitar emosi seseorang. Banyak orang memiliki bagian yang romantis, gembira, kreatif, pemarah, penyendiri, pengayom, cengeng, bahkan kejam atau sadistis! Tolong diingat bahwa memiliki bagian-bagian tidak sama artinya dengan pasti akan menggunakannya. Maksudnya, meskipun seseorang memiliki bagian kejam tidak berarti dia akan melakukan mutilasi.
………… artikel ini bersambung di bulan Februari 2015

Sumber :
Buku # 1 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Januari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *