Belajar Caranya Belajar

Dari semua metafora pembelajaran, kisah di bawah ini merupakan salah satu favorit saya. Cerita ini berasal dari tradisi Tiongkok kuno yang mengilustrasikan pentingnya upaya yang konsisten dalam belajar.

Penyair Tao Yunming adalah salah satu budayawan terkemuka yang hidup di jaman dinasti Dong Jin. Suatu hari ia didatangi oleh seorang anak muda dan ia mengatakan, “Mister Tao, Anda adalah cendekiawan yang paling saya kagumi. Selain terpelajar, pintar dan bijak, Anda juga terkenal sebagai guru yang mumpuni. Bisakah Anda mengajari saya bagaimana cara belajar yang paling baik?”

Sambil menatap dalam-dalam mata si anak muda, Tao berkata, ”Tidak ada cara terbaik. Kalau maksimal, kamu akan maju. Kalau kendur, kamu ketinggalan.”

Si anak muda mendengarkan dan menunggu keterangan berikutnya dari Tao.

Menyadari anak muda ini belum paham, Tao meraih tangannya dan membawanya ke taman. Ia menunjuk sebuah tunas pohon dan berkata, ”Cermati tunas itu. Apakah kamu melihat tunas itu tumbuh berkembang?”

Si anak muda menatap tunas pohon yang ditunjuk Tao Yunming cukup lama dan menjawab, “Tidak. Saya tidak melihatnya berkembang.”

Tao menyahut, ”Benarkah? Lalu bagaimana ceritanya sampai tunas itu bisa menjadi pohon yang besar kelak?” Ia melanjutkan, “Sesungguhnya, tunas itu tumbuh berkembang setiap saat. Namun kita tidak bisa melihatnya dengan kasat mata. Sama halnya dengan belajar. Pengetahuan kita terkumpul sedikit demi sedikit. Kadang kita tidak menyadarinya. Namun, bila secara konsisten melakukannya, kamu akan membuat kemajuan besar.”

Si anak muda masih terbengong.

Masih dengan menggenggam tangan si anak muda, Tao menunjuk wungkal (batu asah untuk mengasah pisau) di sisi sungai dan berkata, ”Mengapa sisi cembung dari batu itu berubah menjadi cekung seperti sadel kuda?”

“Karena tiap hari dipakai orang untuk mengasah pisau,” jawabnya.

Tao bertanya lagi, “Lalu, kapan persisnya batu itu mulai menjadi cekung?”

Si anak muda itu tidak menjawab; hanya menggelengkan kepalanya.

Tao berkata lagi, “Itu karena para petani memakainya setiap hari. Belajar adalah proses yang sama. Kalau kamu tidak konsisten melakukannya, kamu akan mandek.”

Si anak muda ini akhirnya mafhum. Ia berterima kasih kepada Tao Yunming. Tao kemudian menuliskan kata-kata ini untuk dibawa pulang si anak muda, “Belajar dengan tekun itu layaknya seperti sebatang tunas di musim semi. Tunas tumbuh berkembang, meskipun kita tidak melihat prosesnya setiap saat. Mengendurkan gairah belajar ibaratnya seperti tidak menggunakan wungkal (batu asah). Kamu akan kehilangan, kalau tidak belajar dengan konsisten.”

****

 

Pesan pertama dari metafora di atas adalah: agar pembelajaran bisa efektif, dibutuhkan pendekatan yang konsisten dan persisten. Banyak orang memulai pembelajaran dengan penuh gairah dan energik, namun tidak berapa lama kemudian langsung kedodoran dan kehilangan api semangatnya. Lebih bijak belajar secara berkala dan tekun.

Kedua, seorang trainee (peserta progam) yang baik sadar bahwa pembelajaran harus diulang-ulang agar tidak mandek dan memudar keampuhannya.

Ketiga, perusahaan tempat di mana trainee bekerja seyogyanya menyediakan lingkungan belajar serta alokasi waktu yang cukup, yang memungkinkan trainee mengulang pelajarannya secara berkala. Di sinilah pentingnya perusahaan memiliki coach yang mumpuni.

Sebuah penelitian dari Laabs menyimpulkan bahwa: “Peningkatan dalam produktivitas untuk training saja 22%; ketika training dibarengi dengan coaching peningkatannya melonjak menjadi 88%.”

 

Sumber :
Buku # 3 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Oktober 2016