Bijak atau Pandir

Nasrudin adalah seorang ikon Sufi abad XIII. Ia selalu dikisahkan sedemikian rupa sehingga orang tidak pernah tahu apakah sesungguhnya ia orang yang benar-benar bijak atau pandir mutlak. Salah satu kisahnya seperti berikut.

Alkisah, seorang tetangga Nasrudin secara kebetulan melihatnya sedang berjalan mengelilingi rumah sambil menaburkan sesuatu. Setelah memperhatikan perilakunya sejenak, ia bertanya, “Nasrudin, mengapa kamu menaburi sekeliling rumahmu dengan remahan-remahan roti?”

Nasrudin, tanpa jeda sedetik pun, menyahut, “Untuk menghalau macan.”

Mendengar jawaban Nasrudin, sekejap orang itu terheran-heran dan berpikir. Lalu ia berkata, “Tapi, Nasrudin, bukankah di kampung ini tidak pernah ditemukan adanya macan?”

“Aku tahu,“ katanya sambil menyeringai dengan riang. “Itu artinya kerjaku ampuh, kan?”

Pesan moral dari metafora di atas: a) Perlukah kita mencari jawaban untuk sebuah kasus yang sesungguhnya tidak ada? atau, b) Apakah sebaiknya kita mesti bijak dalam menerapkan ukuran-ukuran yang sifatnya pencegahan?

Pertanyaan untuk refleksi diri:

Menurut Anda, tindakan Nasrudin masuk kategori bijaksana atau tolol?
Dalam bekerja, bagaimana Anda mengumpulkan fakta-fakta otentik untuk membuktikan bahwa sesuatu sudah dilakukan dengan tepat atau belum?
Apakah Anda sering menghambur-hamburkan sumberdaya untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang sesungguhnya tidak ada?

Sumber:
Salah satu tulisan RH. Wiwoho dalam Serial Buku Beras Kencur #5 karyanya,

April 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *