Dunia Bocah (Bag.1)

Ada seorang bocah kecil yang oleh kakeknya diberi sebuah ketipung (alat tetabuhan di mana kulitnya bisa mengeluarkan suara bila dipukul – semacam drum) untuk hadiah kenaikan kelas. Ia sangat gandrung pada mainan barunya ini dan memainkannya sepanjang hari: pung… ketipung… pung… pung… ketipung. Suaranya amat memekakkan telinga, mengganggu keluarga serta para tetangganya. Kedua orangtuanya memohon-mohon kepada si anak untuk menghentikan tetabuhannya, namun bocah kecil ini cuek dan tetap meneruskan menabuh mainan kecintaannya: pung… ketipung … pung …. pung… ketipung – sepanjang hari hampir tanpa henti. Orangtuanya menjadi putus asa, dan akhirnya mereka mencari bantuan dokter yang sangat disegani di kampung itu.

“Mohon bantulah kami untuk menghentikan anak ini menabuhi ketipungnya!” pinta mereka.

Si dokter menjabarkan kepada si anak bagaimana suara yang terus menerus bisa merusakkan gendang telinganya. Namun nasihatnya terlalu canggih buat seorang bocah ingusan seumur dia, yang tentu saja belum paham apa arti gendang telinga. Ia terus saja memainkan ketipungnya.

Orangtuanya memanggil guru yang dikenal sangat pintar di kampung itu. “Mohon bantulah kami untuk menghentikan anak ini menabuhi ketipungnya!” pinta mereka.

Sang guru memberi anak ini buku panduan dan menceritakan bahwa bila ia mau membacanya, maka permainan ketipungnya akan meningkat. Namun anak ini menilai panduan yang ada dalam buku itu terlalu panjang dan membosankan. Ia pun mengabaikannya dan meneruskan menabuhi mainannya lagi, dengan caranya.

Orangtuanya mencari bantuan seorang terapis yang sangat kondang di seantero kampung itu. “Mohon bantulah kami untuk menghentikan anak ini menabuhi ketipungnya!” harap mereka.

Si terapis memberi anak ini latihan meditasi dan pelajaran tentang manajemen amok (anger management). Si anak mengurangi volume dan frekuensi tetabuhannya, sebentar doang. Namun, tidak lama kemudian, ia mulai memainkannya lagi dengan bersemangat.

Seorang NLPer kebetulan melintas. Ia mendekati si bocah yang sedang memainkan ketipungnya, mendengarkan sejenak permainannya (melakukan pacing), kemudian mengulurkan pisau lipat dan sebuah batu (melakukan leading) sambil berkata, ”Saya penasaran, apakah kamu bisa mengetahui apa isi ketipungmu?”

***
Bulan depan : (Dunia Bocah 2)

Sumber :
Buku # 3 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Februari 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *