Ikan Besar di Kolam Kecil (Bag.2)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Kesukaan akan kelebihan relatif ini mengingatkan pada sebuah anekdot lawas. Alkisah, dua orang pemburu yang berteman tengah bersantai dan menikmati kopinya masing-masing, ketika tiba-tiba seekor harimau kelaparan menghampiri mereka. Tanpa sempat memakai sepatunya mereka berlari pontang panting dikejar harimau lapar itu. Dalam upaya menyelamatkan diri itu, seorang dari mereka berkata, “Coba tadi aku sempat pakai sepatu dulu” Temannya menyahut, “Buat apa pakai sepatu? Sepatu tidak membantu kamu lari lebih cepat ketimbang harimau” Orang yang pertama menimpali, “Memang tidak. Aku tidak perlu lari lebih cepat daripada harimau; aku hanya cukup berlari lebih cepat daripada kamu.”

Argumen yang mirip dengan fenomena di atas mendorong makin banyak orang menjalani bedah plastik. Sedot lemak bisa memberi kelebihan fisik dan kebanggaan tersendiri bagi mereka yang pertama melakukannya. Namun kalau semua orang juga melakukan, kelebihan dan kebanggaan itu sirna. Walakhir, orang akan menuntut bedah plastik yang lebih canggih lagi dalam sebuah “perlombaan silikon” yang tiada habis-habisnya, dan ini merupakan peluang menggiurkan bagi para pebisnis di industri kecantikan.

***

Nah, dari contoh-contoh di atas, kini Anda tahu apa yang membuat diri Anda bahagia atau tidak bahagia. Membandingkan diri dengan orang lain bisa memotivasi, tetapi bisa pula membuat frustrasi. Kalau Anda membandingkan diri dengan orang yang jauh lebih “rendah” daripada Anda, Anda akan bahagia meskipun hal ini tidak memotivasi (Anda hanya bisa mensyukuri). Namun, membandingkan diri dengan orang yang semakin hari semakin jauh lebih “tinggi” daripada Anda adalah hal yang tidak membahagiakan, sekaligus bisa membuat frustrasi (meski bisa untuk memotivasi diri).

Adakah jalan tengahnya?

Barangkali, Anda tetap bisa mencanangkan tujuan Anda yang “tinggi” itu dengan catatan setiap harinya Anda harus berpegangan pada motto: “Hari ini saya harus lebih baik dari kemarin, dan esok saya harus lebih baik dari hari ini.”

Di sini, Anda tetap punya prinsip “Ikan besar di kolam kecil”, namun kolamnya ada di benak dan setiap waktu bisa Anda setel ulang.

Sumber :
Buku # 3 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Juni 2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *