Ikan dalam Mimpi

Kalau profesi Anda seorang terapis, sebaiknya Anda membuat prioritas untuk ‘membereskan’ sistem keyakinan klien Anda sebelum Anda melangkah lebih jauh. Karena, kerapkali hanya dengan mengubah bingkai berpikirnya (baca artikel “Keras Kepala” di buku ini), setengah dari masalahnya sudah terselesaikan dan sisanya si klien sendiri yang akan meneruskan terapinya.

Menurut Robert Dilts dalam buku Beliefs: Pathways to Health & Well-being [1990] yang ditulisnya bersama Tim Hallbom serta Suzi Smith, yang harus diwaspadai oleh seorang terapis adalah tiga jebakan yang muncul sepanjang prosesnya.

Ikan dalam Mimpi

Jebakan pertama adalah apa yang disebut sebagai Ikan dalam Mimpi (Fish in the Dream). Di bawah ini adalah dialog antara seorang pasien dengan terapis (yang yakin bahwa melihat ‘Ikan dalam Mimpi’ adalah akar dari segala persoalan psikologis seseorang). Bayangkan seorang pasien datang ke kliniknya, mulai menceritakan masalahnya dan tiba-tiba si terapis memotong pembicaraan sang pasien:

Terapis: “Maaf memotong, ngomong-ngomong semalam Anda tidak bermimpi melihat ikan, bukan?”

Pasien: “Entahlah… rasanya sih tidak.”

Terapis: “Anda tidak mimpi melihat ikan?”

Pasien: “Ehm… tidak….tidak….”

Terapis: “Lalu, mimpi apa Anda semalam?”

Pasien: “Anu, saya berjalan-jalan di sebuah tempat.”

Terapis: ”Adakah genangan air di sepanjang selokannya?”

Pasien: “Ehmmm, saya tidak terlalu yakin.”

Terapis: “Tapi kemungkinan ada, kan?”

Pasien: “Saya kira, mungkin ada genangan air di sepanjang selokan di jalan yang saya lalui itu.”

Terapis: “Mungkin saja terdapat ikan di genangan air tersebut, kan?”

Pasien: “Ngga…. ngga ada.”

Terapis: “Apakah Anda melihat ada restoran di sepanjang jalan dalam mimpi Anda?”

Pasien: “Tidak ada.”

Terapis: “Tapi kemungkinan ada. Anda berjalan di sepanjang jalan, bukan?”

Pasien: “Anu, ehm.. saya kira mungkin saja ada restoran dalam mimpi saya.”

Terapis: “Apakah restoran tersebut menyediakan masakan dengan menu ikan?”

Pasien: “Ehm, anu…saya kira bisa saja restoran tersebut menawarkan menu ikan goreng dan semacamnya.”

Terapis: “Aha! Itu dia! Saya sudah menduga. Pastilah, Ikan dalam mimpi (Fish in the Dream.)”

Cerita di atas mengilustrasikan salah satu jebakan dalam mengidentifikasikan keyakinan dimana Anda sendiri – sebagai people helper (terapis, coach dst) – yang terjebak untuk mencari penguatan pembuktian keyakinan ANDA pada diri orang lain. Seorang terapis yang pernah dilecehkan secara seksual dimasa kecilnya, misalnya, cenderung berusaha mengungkap pelecehan pada pasien-pasien yang sedang ditanganinya. Ia akan terus mencari pelecehan seksual pada kebanyakan pasien-pasiennya – tidak perduli apakah ada atau tidak dalam sejarah kehidupan pasien yang bersangkutan.

Ikan Herring Merah

Jebakan kedua adalah Ikan Herring Merah (Red Herring). Ketika klien menceritakan pada Anda tentang keyakinan mereka, seringkali Anda mendengar uraian logis yang direka-reka untuk merasionalkan perilaku-perilakunya. Namun biasanya alasan-alasan yang kedengaran logis ini tidak ada kaitan apapun dengan perasaan cemas yang dirasakannya.

Dilts dkk menyebut konstruksi-konstruksi logis semacam ini sebagai “red herrings.” Katanya, “Ketika Anda menangani pasien yang ‘obsesif-kompulsif’ kemungkinan besar Anda akan menjumpai fenomena ini.” Sebagai contoh, pasien wanita Anda mungkin punya uraian-uraian tentang mikroba (kuman, bakteri dst) dan itulah sebabnya ia merasa cemas. Uraiannya ini tidak harus selalu berkaitan dengan perasaan yang sedang dideranya. Sigmund Freud mengklaim hal ini disebabkan oleh perasaan-perasaan seksual yang ditekan (repressed sexual feelings). Dan menurut Dilts, perasaan-perasaan yang sedang dialami wanita ini seringkali timbul sebagai akibat sebuah konflik internal bawah sadar yang sejatinya tidak berkaitan samasekali dengan perkara seksualnya.

Tirai Asap

Satu lagi perilaku bermasalah yang bisa menjebak Anda dalam mengidentifikasikan keyakinan seorang klien, yakni apa yang disebut sebagai Tirai Asap (the smokescreen).

Adakalanya ketika berhadapan dengan sebuah keyakinan, khususnya yang berhubungan dengan identitas diri (atau sebuah isu yang sangat menyakitkan untuk dihadapi), yang bersangkutan akan membuat tameng/pertahanan dengan sebuah layar yang berkabut. Anda bisa menyebutnya Tirai Asap kalau tiba-tiba pasien/klien Anda mulai tulalit (tidak nyambung), atau mulai mendiskusikan sesuatu yang tidak ada kaitannya samasekali dengan proses yang sedang Anda lakukan. Tampak seakan-akan orang ini masuk ke dalam kabut kebingungan. Sangatlah penting buat Anda untuk menyadari bahwa orang sering ‘diliputi kabut’ tepat pada titik di mana Anda justru mulai menemukan sesuatu yang BENAR-BENAR sangat penting. Ibarat cumi-cumi yang menebar tinta untuk melarikan diri dari pemangsanya, orang tersebut menutupi dengan tabir kabut karena ia – bagian dari dirinya – merasa takut. Orang ini enggan berurusan dengan keyakinan yang terkait dengan identitas dirinya – keyakinan yang menyakitkan atau tidak menyenangkan – di mana yang bersangkutan tidak ingin mengakui atau emoh membicarakannya.

Tidak mustahil kalau orang tersebut beralibi, “Saya tiba-tiba blank saat Anda menanyakan hal itu.” Bila Anda mencecarnya dengan pencarian ke sebuah waktu di masa lalunya, barangkali ia akan menjawab, “Saya bisa mengingat awal-awal kejadian namun hal ini tidak ada kaitannya samasekali dengan masalah yang saya hadapi sekarang.” Atau ada kemungkinan pasien Anda ini tiba-tiba mulai menceritakan sebuah kejadian yang samasekali tidak relevan; atau kemungkinan lain ia tampak benar-benar bingung dan malah tidak merespon apapun terhadap pertanyaan Anda.

***

Dari deskripsi di atas, kita kenal ada tiga jebakan yang sering dihadapi oleh para terapis dalam mengidentifikasikan keyakinan pasien-pasiennya, yakni: (1) Fenomena ‘Ikan dalam mimpi’ di mana terapis terjebak pada refleksi/bayangan dari keyakinan si terapis sendiri; (2) Ikan herring merah, yaitu percaya pada konstruksi keterangan pasien tentang perasaan-perasaan yang timbul karena yang bersangkutan tidak tahu apa persisnya yang menyebabkan perasaan itu muncul; dan (3) Tirai Asap, dimana pasien Anda membuat tembok batas atau melakukan disosiasi sehingga ia terproteksi ketika diminta untuk mengkonfrontir sesuatu yang menyakitkannya atau sebuah identitas yang sengaja ingin disembunyikannya.

Kalau Anda orang tua atau seorang pemimpin, untuk poin 3 khususnya, Anda mesti ekstra hati-hati ketika menghadapi anak atau staf Anda yang sedang bermasalah. Pada saat Anda mengorek informasi darinya, kadang hal yang ingin dihindari oleh anak/staf Anda untuk dibicarakan, justru itulah inti masalah yang sebenarnya!

 

May 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *