Jangan merusak pintunya, temukan kuncinya (Bag.1)

Hendri masuk ke kantor saya. Wajahnya terlihat kusut menahan rasa jengkel. Dia longgarkan dasi Giani Versacenya lalu membanting tubuh sekenanya.

“Aku nggak ngerti. Benar-benar nggak ngerti. Apalagi yang harus kuberikan? Mobil sudah, incentive sering. Promosi jabatan baru saja diterimanya. Tapi kerjaannya?” katanya sambil menyebut nama salah satu manajernya. “Punya gagasan?”

“Pernah mengancam untuk memecatnya?” sahut saya. “Aku serius nih, “ujarnya sambil menahan napas, tanda tidak senang dengan jawaban saya. “Aku juga serius,” kata saya menegaskan. Setelah beberapa saat kami mendiskusikan Profil 1 yang ada dalam buku PROFIL yang saya tulis, dia berseru: ”Oh, jadi dia memiliki Tingkat Motivasi menjauhi? Pantas saja, hampir semua rewards yang kuberikan tidak banyak manfaatnya.” Dua bulan kemudian dia menelpon dan bercerita tantang perubahan-perubahan besar yang terjadi pada manajernya itu.

“Anak saya malas sekali belajar,” kata seorang ibu di sela rehat kopi dalam salah satu seminar Managing with NLP saya. “Saya tidak tahu, mau jadi apa dia kelak. Berkali-kali saya nasihati, bahkan saya tunjukkan contoh anak-anak yang putus sekolah dan kemudian menjadi anak jalanan, tapi tetap saja tuh dia tidak mau berubah.” Setelah sesi pembahasan kombinasi Profil selesai, si ibu menyadari bahwa dia memakai ‘kata kunci’ yang salah dalam berkomunikasi dengan anaknya. Akibatnya, si ibu tidak berhasil memotivasinya, bahkan justru menjadi ganjalan dalam hubungan dengan sang anak.

Komunikasi adalah problem nomor satu baik di kantor, di rumah maupun di masyarakat luas. Perselisihan antar orang semakin lama semakin sering terjadi. Dari mulai operator telpon dengan prospek pelanggan, dendam anak pada orang tuanya, sampai konflik kekeraskepalaan antar dua kepala negara yang berakhir dengan perang berkepanjangan. Komunikasi yang buruk dapat berakhir dengan pertikaian dan kebencian, pada sisi lain komunikasi yang tepat dapat menggerakkan seseorang pada potensi maksimalnya.

Setiap orang itu unik dan, seperti diketahui, orang berkomunikasi melalui sejumlah filter atau saringan yang dibentuk oleh masa lalu, identitas, keyakinan serta nilai-nilai yang dimilikinya. Beberapa orang berpikir dengan urut-urutan yang sistematis, sementara yang lain lebih suka melihat opsi yang dimilikinya. Beberapa orang tertarik pada hal-hal yang baru dan berbeda, yang lainnya ingin tetap status quo atau serupa dengan apa yang sudah diketahuinya.

Alangkah menyenangkannya, bila kita mampu memahami apa yang orang lain maksudkan saat dia berbicara pada kita. Lebih-lebih lagi bila kita mampu memprediksi perilakunya dari kata-kata yang diucapkannya. Dan yang lebih hebat lagi, bila kita mampu menggerakkan perilakunya melalui respon yang kita berikan padanya.

Melalui buku PROFIL, saya ingin sharing dengan pembaca mengenai tiga hal di atas, yakni bagaimana memahami, memprediksi dan mempengaruhi seseorang, dengan satu model yang saya sebut sebagai Profil. Mari kita kupas lebih lanjut mengenai hal ini.

Profil sebenarnya akronim dari dua kata: Pro(gram) dan Fil(ter). Program yang dimaksud adalah kebiasaan atau kecenderungan orang dalam hal-hal tertentu. Misalnya, ketika seseorang berhadapan dengan penjahat dan diancam: “Harta atau nyawa?” Ada orang yang mati-matian mempertahankan hartanya, bila perlu menyabung nyawa. Namun ada pula orang yang lebih rela menyerahkan hartanya langsung ketimbang bertaruh nyawa. Kedua kecenderungan seperti ini bisa kita sebut sebagai refleks, respon tidak sadar atau tindakan spontan. Pola seperti ini akan terus dilakukan seseorang sepanjang konteks kejadiannya sama atau mirip.

Contoh lain. Mengapa ada orang yang memiliki kecenderungan memutuskan sesuatu dengan keyakinannya ‘sendiri’ sementara banyak orang yang mengambil keputusan berdasarkan opini atau pendapat ‘orang lain’. Orang pertama kita sebut memiliki Program internal dan orang kedua mempunyai Program eksternal. Lalu, bagaimana cara kita membedakan kedua orang tersebut? Mudah saja, dengan sebuah pertanyaan yang disebut sebagai Filter. Untuk kasus internal dan eksternal di atas, Filternya adalah: “Bagaimana Anda tahu bahwa Anda telah melakukan ….. (konteks) dengan baik?

Sebelum membahas lebih jauh tentang Profil, saya ingin mengingatkan bahwa Profil dalam buku PROFIL ini dikembangkan dari Meta Program, satu teknik dalam NLP (Neuro Linguistic Programming). Dari banyak teknik yang dikembangkan oleh NLP seperti: Reframing, Pacing-Leading, Anchoring, Well-formed Outcomes, Chunking, Beliefs, Meta Model, Milton Model dan sebagainya, Meta Program menjadi salah satu teknik yang pertama kali dikembangkan oleh Leslie-Cameron Bandler dan Richard Bandler. Meta Program merupakan salah satu teknik ‘paling luwes’ yang dipunyai NLP dan merupakan jawaban mengapa teknik-teknik lain kadang tidak mempan digunakan pada seseorang. Dengan Meta Program hambatan seperti resistensi dalam menghadapi klien yang ‘sulit’ dapat dieliminir dan pekerjaan intervensi menjadi lebih efisien, efektif dan elegan.

Ada kurang lebih 50 patterns dalam Meta Program dan saya mencoba mengembangkan 5 diantaranya karena saya anggap aplikasinya sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kepentingan personal maupun profesional, khususnya dalam memahami Ciri Motivasi seseorang. Kelima hal inilah yang saya sebut sebagai Profil (telah saya daftarkan pada Direktorat Jendral Paten dan Hak Cipta) dan saya uji validasi serta manfaatnya selama bertahun-tahun dan ternyata cocok digunakan dalam pengembangan pribadi maupun organisasi di Indonesia.

***

Sumber: disarikan dari buku PROFIL, RH. Wiwoho.

August 2011

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *