Jangan merusak pintunya, temukan kuncinya (Bag.6)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

5. Tingkat Motivasi (Proaktif >< Reaktif)

Saya sering bertanya pada pasangan muda yang baru menikah: “Ingin punya anak yang gesit, tanggap dan ringan tangan? Atau anak yang kalem, hati-hati dan penuh perhitungan?” Percayakah Anda bahwa sebagian besar condong pada pilihan pertama? Apa sebab? Karena ciri-ciri anak seperti itu tampak lebih pintar, sedangkan yang kedua kelihatan lebih bodoh.

Profil 5, profil terakhir yang akan kita bahas, adalah mengenai Tingkat Motivasi seseorang. Yang pertama adalah orang yang memiliki kecenderungan proaktif yang kira-kira mirip dengan kriteria anak pada contoh pertama di atas. Yang kedua adalah reaktif, yang mirip dengan kriteria contoh kedua. Saya ingin memberi catatan khusus pada kata “Reaktif”, sebab ada sebagian orang yang kurang sreg dengan kata tersebut karena berkonotasi negatif, padahal sebenarnya positif. Saya ingin menggarisbawahi bahwa reaktif tidak berkonotasi negatif seperti yang nanti akan Anda buktikan setelah kita membahasnya.

Orang yang memiliki kecenderungan proaktif biasanya suka mengambil inisiatif. Mereka cenderung bertindak dengan sedikit atau bahkan hampir tanpa pertimbangan. Langsung menceburkan diri dalam sebuah situasi tanpa berpikir atau menganalisanya matang-matang. Sering membuat orang lain cemas karena “tubruk sana tubruk sini”. Namun umumnya mereka ‘self starter’ dan cakap dalam menyelesaikan tugas.

Disisi lain, reaktif biasanya menunggu orang lain memulai atau menanti sampai saatnya tepat untuk bertindak. Mereka cenderung ingin benar-benar memahami dan mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum mengambil tindakan. Ini adalah orang yang percaya sekali pada kesempatan (opportunity) dan keberuntungan (luck). Mereka kerap disindir sebagai NATO (No Action Talks Only) atau omdo (omong doang), terutama oleh proaktif. Namun mereka adalah orang yang cakap dalam membuat analisis dan sabar serta cermat dalam mengumpulkan informasi.

Dalam bidang apa kira-kira proaktif cocok ditempatkan? Tentara. Kalau dalam perang, seorang tentara lebih banyak berpikir daripada menembak, tak sampai satu hari dia sudah masuk ambulans. Kecuali kalau dia jendral yang tugasnya mengatur strategi perang. Pemadam kebakaran juga harus proaktif. Kalau dia diperintahkan segera meluncur ke lokasi kebakaran dan dia banyak berpikir atau bertanya: “Ada air nggak di sana? Hidrannya jauh nggak? Selang kita bisa menjangkau lokasi nggak?” dan seterusnya, saya pikir puluhan rumah sudah ludes terbakar sebelum dia sampai disana. Profesi lain: dokter dan petugas di UGD, Tim SAR, petugas ambulans, dst.

Bagaimana dengan wirausahawan? Saya kira wirausahawan atau entrepreneur sebaiknya proaktif, karena harus tanggap menghadapi perubahan pasar yang begitu cepat dan harus sigap dalam mengambil keputusan sehingga subordinate-nya tidak bingung menunggu untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. Tentu saja wiraswasta yang sangat proaktif harus didampingi seseorang yang lebih reaktif, orang yang tekun mengumpulkan data serta informasi sebagai landasan keputusan bosnya.

Lalu, profesi apa yang cocok untuk reaktif? Periset, pemain catur, bagian kredit di bank atau leasing company, peracik obat dan bagian klaim di perusahaan asuransi adalah contohnya.

Orang proaktif cenderung tidak sabaran dalam bekerja. Mereka tidak nyaman dengan birokrasi atau politik kantor. Saking terburu-burunya, mereka suka ‘menginjak kaki orang’. Bertindak terlalu cepat tanpa berpikir panjang dan ‘tubruk sana tubruk sini’ sebelum akhirnya menyadari sudah berada di jalur yang salah. Sebaliknya reaktif justru merasa tertekan dan cemas bila disuruh mengambil inisiatif. Mereka terlalu lama mempertimbangkan dan menganalisa segala sesuatunya, kadang tanpa disertai tindakan apapun!

Bila Anda bergerak di bidang pemasaran atau penjualan, Anda akan mengenali bahwa orang proaktif cenderung langsung membeli ketika mereka harus melakukan sesuatu dengan ‘segera’. Sebaliknya reaktif umumnya membeli produk atau jasa yang bisa membuat mereka jadi ‘paham’.

Sebagai manajer, bila Anda punya anak buah yang proaktif, Anda harus bisa menyalurkan energinya kearah hal-hal yang produktif. Bila dibiarkan menganggur, dia akan frustrasi dan mengambil inisiatifnya sendiri yang mungkin tidak sesuai dengan kebijakan perusahaan. Disisi lain, orang reaktif harus dilibatkan dalam proses menganalisis apapun yang sedang dihadapi perusahaan Anda. Mereka adalah analis yang cakap. Kehati-hatiannya bisa membuat tim kerja Anda memiliki banyak waktu untuk ‘mematangkan’ hasil dan bila perlu mencari alternatif-alternatif lainnya.

Dalam rekruitmen, bagaimana cara memfilter Tingkat Motivasi kedua orang ini? Pada saat Anda melakukan wawancara, Anda bisa mengamati bahasa verbal maupun non-verbal kedua orang ini. Umumnya proaktif langsung menjawab pertanyaan Anda tanpa berpikir panjang. Memakai kalimat-kalimat pendek dan struktur kalimatnya rapi serta jelas. Uraiannya langsung ke persoalan. Bahasa tubuhnya menunjukkan tanda-tanda ketidaksabaran, berbicara cepat, banyak gerakan dan tidak mampu duduk dalam waktu yang lama.

Sebaliknya, orang reaktif bila menjawab pertanyaan sering berpikir lama dan menganalisa segala konsekuensinya dulu baru kemudian menjawab. Kalimatnya sering tidak lengkap, subyek atau kata kerja sering hilang. Kalau berbicara penuh dengan kata-kata infinitas: nanti, besok, kapan-kapan dan seterusnya. Kalimatnya panjang dan berbelit-belit. Topik pembicaraan yang disukainya adalah tentang berpikir, menganalisa, memahami, menanti atau tentang suatu prinsip. Oleh karena itu orang reaktif mampu duduk diam dalam jangka waktu yang lama, termasuk ketika tes wawancara.

Ada hasil penelitian menarik yang dilakukan di Bell Laboratories. Hasilnya bisa dibaca di jurnal Harvard Business Review, Juli 1993. Riset dilakukan untuk mencari perbedaan antara pekerja rata-rata (average performers) dan pekerja berkinerja tinggi (outstanding performers). Keduanya, baik proaktif maupun reaktif, merasa telah ‘mengambil inisiatif’. Namun bagaimana mereka memberi arti pada kata ‘inisiatif’ lah yang menarik. Pekerja rata-rata mengartikan kata ‘inisiatif’ sebagai meneruskan informasi, seperti misalnya meneruskan memo pada supervisornya bahwa ada software yang harus dilakukan debugging (istilah komputer yang artinya membuang ‘kutu’ atau menyempurnakan program). Sebaliknya, pekerja berkinerja tinggi mengartikan ‘inisiatif’ sebagai tindakan untuk melakukan debugging sendiri. Kata yang sama ‘inisiatif’ memiliki dua pengertian yang berbeda: yang satu berhubungan dengan re-aksi dan lainnya dengan pro-aksi!

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang hiperaktif, bisakah kita kategorikan proaktif juga? Dalam batas tertentu ya. Banyak orang tua yang tidak suka bila anaknya hiperaktif karena kesannya nakal, perusak dan kurang ajar. Sebaliknya, mereka juga kurang senang kalau punya anak yang pendiam, kalem dan sangat sopan karena terkesan bodoh dan malas. Orang tua yang mengeluh anaknya hiperaktif adakalanya karena dia sendiri mungkin terlalu reaktif, sehingga sulit untuk ‘memahami’ dan ‘matching’ dengan perilaku anaknya. Menurut saya, hiperaktif tidak menjadi masalah asal konteksnya tepat. Berikan saja saluran seperti olah raga, keterampikan tangan, dan aktivitas outdoors lainnya.

Tidak semua anak hiperaktif akan tetap hiperaktif setelah melewati masa kanak-kanaknya. Bisa saja ketika dewasa dia menjadi kalem dan penuh pertimbangan. Kalaupun masih ada sisa-sisa keaktifannya, bukankah hal ini justru menguntungkan kalau dia berminat membuka bisnis sendiri atau berwiraswasta? Sebaliknya untuk anak reaktif, sering orang tuanya memaksa si anak untuk action, action, action! Anak yang reaktif ketika diberi tugas akan cenderung menganalisis, memikirkan konsukuensi, menimbang-nimbang langkah pertama apa yang harus dilakukannya dan mungkin dia lebih nyaman bila orang lain melakukannya dulu. Kelak ketika dia dewasa, barangkali hal ini justru menjadi nilai kompetitifnya ketika bekerja pada bidang yang sesuai dengan kecenderungannya.

Jadi, mana yang lebih baik? Ini sama dengan permainan sepakbola, Anda mau mencari penyerang atau kiper? Penyerang adalah pemain yang harus punya naluri mengejar bola dan bisa memanfaatkan celah sekecil apapun untuk membuat gol. Dia harus aktif berlari dan terus berlari untuk merebut bola, karena tugasnya memang membuat gol sebanyak-banyaknya. Sedangkan kiper adalah pemain yang harus diam menunggu dan ukuran suksesnya adalah sesedikit mungkin gol bersarang di jaringnya.

****

Inilah kelima Ciri Motivasi yang ingin saya bagikan kepada Anda, pembaca. Uraian lebih lengkap dapat Anda temukan di buku saya, PROFIL: Kunci Menuju Puncak Motivasi, atau seminar MANAGING with NLP untuk mendapatkan tambahan 5 Gaya Kerja plus aplikasinya.

*****

Sumber : Buku PROFIL – RH. Wiwoho

January 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *