Kisah-kisah Dilematis

Empat kisah berikut, dalam konteks pembelajaran, dapat digunakan untuk menguak keyakinan, pemikiran dan nilai-nilai seseorang. Akhir ceritanya sengaja dibuat terbuka atau ambigu, untuk mendorong pembacanya berkomentar atau berspekulasi pada apa yang mereka pikir sebagai jawaban yang “benar”. Tentu saja, dalam kasus ini tidak ada jawaban yang benar – paling tidak dalam tulisan ini tidak tersedia jawabannya. Pokok persoalannya sekitar masalah konflik loyalitas, memutuskan siapa yang bertanggung jawab pada pelanggaran aturan-aturan tertentu, atau harus memilih sebuah respon atas sebuah situasi yang sulit. Inilah cerita-cerita tersebut.

Dilema Dokter

Seorang dokter muda yang bekerja di sebuah rumah sakit menemukan bahwa ia memiliki kekuatan untuk menyembuhkan semua orang yang usianya di bawah 65 tahun – apa pun jenis sakit atau kecelakaannya – hanya dengan menyentuhnya. Senggolan selembut apa pun dari salah satu bagian kulitnya dengan kulit seorang pasien akan menyembuhkan penyakit pasiennya tersebut. Ia ingin menggunakan kelebihannya ini untuk kemaslahatan umat manusia. Namun ia menyadari bahwa talentanya ini tidak bisa dipindahtangankan kepada orang lain, hanya ampuh selama dia hidup saja, dan tidak akan tinggal dalam organ-organ tubuhnya ketika ia meninggal kelak. Pertanyaannya adalah: Bagaimana sebaiknya sang dokter menggunakan kelebihannya ini? Bagaimana cara ia memilih pasien-pasien yang akan dibantunya? Apa dampak negatif yang mungkin muncul dari kelebihannya ini?

Dilema Pelancong

Seorang tukang kayu, penjahit dan tukang sulap pergi melancong bersama. Mereka berteduh di sebuah goa. Sambil menunggu waktu, mereka “menciptakan” seorang wanita dari sepotong kayu, mendandaninya, dan akhirnya memberinya napas kehidupan. Pertanyaan yang kemudian muncul: Siapa yang berhak mengambil wanita ini sebagai istrinya? Tukang kayu yang membuat tubuhnya, tukang jahit yang mendandani badannya atau tukang sulap yang memberi wanita ini napas kehidupan?

Dilema Laki-laki

Seorang laki-laki mengajak ibu, istri dan anaknya pergi berlayar. Tiba-tiba cuaca berubah menjadi tidak bersahabat. Udara mendung, angin bertiup tanpa dapat diduga arahnya, dan perahu yang mereka tumpangi tidak bisa dikendalikan lagi. Perahu itu akhirnya menabrak batu karang besar dan bocor di beberapa tempat. Celakanya, dalam perahu itu cuma ada dua buah pelampung untuk menyelamatkan penumpang. Kecuali si laki-laki, ketiga penumpangnya yakni ibu, istri dan anaknya sama sekali tidak dapat berenang. Oleh karenanya, biarpun masing-masing dipasangi pelampung di badannya, mereka tidak akan mungkin bisa menyelamatkan diri. Si laki-laki ini memutuskan untuk memasang satu pelampung di tubuhnya, dan menyisakan satu pelampung lagi untuk diberikan kepada ibu, istri atau anaknya. Pertanyaan yang muncul: Siapa yang harus dia tolong dan pasangi pelampung yang kedua? Ibu kandung yang telah melahirkannya, istri yang diikrarkannya untuk sehidup semati, atau anak semata wayang yang merupakan darah daging dan penerus keturunannya?

Dilema si Papa

Ada seorang laki-laki miskin atau papa, buruk rupa dan sakit-sakitan pula, yang hidup sendirian di sebuah desa terpencil. Demikian miskin dan buruknya wajah laki-laki ini, sehingga tak satu orang pun tetangganya yang mau bergaul dengannya. Anak-anak kecil langsung lari ketakutan kalau melihat ia melintas. Setiap ia pergi mencari sisa-sisa makanan orang, mereka memalingkan muka dan menutup hidung karena penyakitnya menimbulkan bau busuk. Dengan keadaan seperti ini, wanita mana yang mau menjadi istrinya? Hingga pada suatu malam ia bermimpi, jika ia berdoa sepanjang malam tanpa sedetik pun memejamkan mata atau tertidur, ia boleh memilih satu dari tawaran berikut: harta, kesehatan, atau ketampanan? Pilih harta supaya bisa hidup layak dan tak lagi mengais sisa-sisa makan orang, tapi tetap penyakitan dan berwajah buruk? Pilih kesehatan supaya ia bisa bekerja mencari uang dan orang tidak menutup hidung setiap ia melintas, tapi tetap miskin dan hidup sendirian karena tak ada wanita yang mau menjadi istri seorang lelaki berwajah “hancur”? Atau pilih tampan supaya ada wanita yang mau dinikahi, namun ia tetap miskin dan penyakitan?

Sumber :
Buku # 1 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Mei 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *