Kisah Petani, Anak dan Kudanya

Alkisah, di sebuah perkampungan miskin, hiduplah seorang petani yang dikenal sangat cekatan. Ia memiliki seekor kuda yang sangat elok. Semua pekerjaannya, mulai dari mencari kayu di hutan sampai menjualnya di kota, dan semua keperluan transportasinya menjadi sangat efisien berkat kesigapan sang kuda.

Suatu hari, kudanya melarikan diri. Semua tetangganya mendengar berita itu lalu datang dan menghiburnya, “Tentunya kamu sedih atas hilangnya kudamu itu?”

Petani itu balik bertanya, “Kok kamu tahu?”

Tiga hari kemudian sang kuda kembali sambil membawa dua ekor kuda liar. Seluruh tetangga ikut bergembira dan menyalaminya. “Tentu kamu bahagia karena kudamu telah kembali sambil membawa dua ekor kuda.”

Petani itu balik bertanya, “Kok kamu tahu?”

Sore harinya, anak lelakinya mencoba menaiki salah satu kuda liar itu. Kuda itu melemparkannya ke tanah dan membuatnya patah kaki. Seluruh tetangganya ikut bersedih dan datang menghiburnya, “Tentu kamu sedih karena anakmu patah kakinya.”

Petani itu lagi-lagi bertanya, “Kok kamu tahu?”

Beberapa hari kemudian datang serombongan tentara menjemput anaknya untuk masuk wajib militer. Ketika melihat kaki si anak patah, para tentara itu membebaskannya dari kewajiban. Tetangganya kembali berdatangan dan memberinya komentar betapa bahagianya dia. Si petani tetap menanggapinya dengan balik bertanya, “Kok……?”

————————-

Arti sebuah kesedihan atau kebahagiaan tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya. Ketika sudut pandang berubah, maka berubah pula artinya. Mendapat dua ekor kuda gratis adalah hal yang membahagiakan. Namun, menjadi patah kaki gara-gara kuda itu adalah hal yang menyedihkan. Patah kaki adalah hal yang menyedihkan. Namun, kalau gara-gara patah kaki lalu terbebas dari wajib militer adalah hal yang membahagiakan.

 

Sumber:
Buku REFRAMING: Kunci hidup bahagia 24 jam sehari – RH. Wiwoho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *