Konflik, Konfrontasi dan Kompetisi

Di sebuah tempat yang memakan ruang cukup besar di LongHouse Gallery, East Hampton, dekat kota New York, ada sebuah pemandangan menarik. Di tempat itulah terletak sebuah papan catur lengkap dengan buah catur dan di depannya terbaca tulisan Play It by Trust (Mainkanlah dengan Kepercayaan). Mengapa cuma satu set papan catur bisa menghiasi sebuah galeri kondang dan harus pula diletakkan di tempat yang cukup mencolok?

Memang, sepintas replika catur ini tampak biasa (ukurannya saja yang jumbo, karena luas papan caturnya sendiri 16 kaki persegi atau lebih dari 5 meter persegi). Papan ini terdiri dari buah catur: pion, raja, menteri, kuda, benteng, dan seterusnya. Hanya saja semua warnanya putih! Dan anehnya lagi, papan caturnya terdiri dari kotak-kotak yang warnanya semuanya juga putih!

Lalu, bagaimana cara memainkan catur raksasa ini?

Inilah yang memang menjadi keunikan pajangan di galeri LongHouse dekat kota New York ini. Papan dan buah catur ini diciptakan oleh Yoko Ono, istri almarhum John Lennon, pencipta lagu, penyanyi dan sekaligus gitaris The Beatles yang fenomenal itu. Ono, yang seringkali diasosiasikan sebagai “wanita yang menghancurkan kekompakan The Beatles” adalah seseorang yang sangat berbakat dan artis yang dikagumi oleh banyak orang, jauh sebelum menikah dengan John Lennon. Di tahun 1966 ia menciptakan catur yang tidak lazim ini.

Menurut penuturannya, Ono sengaja membuat catur provokatif ini dengan pesan-pesan politis yang mengandung multi tafsir. Dan kalimat yang dilekatkan di papan ini juga ambigu: Play It by Trust! Pesannya bisa: a) agar catur ini bisa dimainkan, maka Anda harus percaya pada lawan main Anda dan tentu saja Anda sendiri juga harus bisa dipercaya; atau b) menyoroti sebuah konflik yang sia-sia, mengingat kedua belah pihak secara esensi sama.

Setelah melihat catur jumbo ini, kalau Anda lalu memikirkan, mengingat-ingat, menghubungkan, mencari dan memahami konflik, konfrontasi serta kompetisi di organisasi Anda sendiri, memang itulah yang barangkali menjadi tujuan Yoko Ono. Apalagi, kalau Anda kemudian masuk ke dalam sejarah hidup Anda sendiri, mengingat situasi yang nampak ada kemiripan, mengingat kata-kata, kejadian-kejadian… dan tiba-tiba ada secercah ide atau gagasan baru muncul dari benak Anda, maka itulah sesungguhnya inti dari metafora, yang oleh Milton H Erickson sering disebut sebagai “Metafora Terapeutik”, atau oleh kedua praktisi NLP James Lawley serta Penny Tompkins dinamakan Symbolic Modelling.

Sumber :
Buku # 1 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Januari 2014

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *