Lugu Itu Perlu (Bag.1)

Nasruddin, si ikon dalam kisah-kisah sufi, mencari uang dengan cara yang sangat tolol. Ia berdiri di pinggir jalan dan menunggu orang mengulurkan recehan kepadanya. Ketika orang melewatinya, dan sambil tertawa mereka menawarkan uang pecahan besar dan pecahan kecil, Nasruddin selalu mengambil pecahan yang lebih kecil.

Suatu hari, seorang laki-laki yang merasa kasihan kepada Nasruddin berkata, “Kawan, kamu sebaiknya mengambil pecahan yang lebih besar. Dengan begitu, uangmu akan lebih banyak dan lebih cepat terkumpul. Orang-orang pun tidak akan menganggapmu sebagai si pandir lagi.”

“Bapak benar,” sahut Nasrudin dengan lugunya. “Namun kalau aku selalu ambil pecahan yang lebih besar, orang-orang tidak akan menganggapku sebagai si pandir lagi. Mereka akan berhenti menawari aku uang untuk membuktikan bahwa aku lebih tolol daripada mereka. Akibatnya aku malah tidak akan punya uang samasekali.”

***

Suatu ketika, Nasrudin sedang dalam perjalanan dengan seorang pendeta dan rahib. Pada hari kesekian, bekal persediaan mereka tinggal sepotong kecil roti. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu. Setelah berdebat dengan seru, akhirnya mereka sepakat memberikan roti itu kepada orang yang malam itu mendapat mimpi yang paling relijius. Tidurlah mereka.

Pagi harinya, saat bangun, si pendeta bercerita: “Aku bermimpi melihat Kristus membuat tanda salib. Itu adalah tanda yang istimewa sekali.”

Rahib menimpali, “Itu memang istimewa. Tapi aku bermimpi melakukan perjalanan ke nirwana, dan menemui tempat paling damai.”

Nasrudin berkata dengan lugunya, “Aku bermimpi sedang kelaparan di tengah gurun, dan tampak bayangan nabi Khidir bersabda “Kalau engkau lapar, makanlah roti itu.” Jadi aku langsung bangun dan memakan roti itu saat itu juga.”

***

Nasrudin diminta oleh tetangganya untuk mengajarinya bahasa Kurdi. Sebetulnya Nasrudin juga belum menguasai berbahasa Kurdi, hanya beberapa patah kata saja. Tapi karena tetangganya memaksa, ia pun akhirnya bersedia.

“Kita mulai dengan sop panas. Dalam bahasa Kurdi, itu namanya Aash” ajar Nasrudin.
“Bagaimana dengan sop dingin?” tanya tetangganya.

Seperti biasanya, Nasrudin spontan menyahut dengan lugunya, “Ehmm, sop dingin. Perlu diketahui bahwa orang-orang Kurdi tidak pernah membiarkan sopnya menjadi dingin. Jadi kamu tidak akan pernah mengatakan sop dingin dalam bahasa Kurdi.”

***

………… artikel ini bersambung di bulan Juni 2015

Sumber :
Buku # 3 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Mei 2015

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *