Memanfaatkan Kesan

Seorang pria muncul di sebuah kota dengan menenteng sebuah cemeti dan menawarkan akan membawa orang yang akan menuju kota berikutnya hanya dengan membayar ongkos separuh dari biasanya. “Hanya setengah harga,” teriaknya. “Diskon 50%, hanya untuk hari ini saja” susulnya dengan nada yang meyakinkan sambil melecut-lecutkan cemeti atau cambuknya ke tanah.

Dengan serta merta sejumlah calon penumpang segera berkumpul. Mereka membayar ongkos dan mengikutinya, menduga bahwa orang itu meninggalkan kereta beserta kudanya di balik tikungan jalan. Ketika mereka berjalan sampai ke tikungan itu – dan tikungan berikutnya – mereka menduga orang itu meninggalkan kudanya di pinggiran kota. Ketika berjalan meninggalkan kota, mereka menyimpulkan bahwa kereta kudanya pasti ada di tempat perhentian pertama di tepi jalan.

Akhirnya, ditengah-tengah perjalanan – dengan berjalan kaki – menuju ke kota berikutnya, mereka memprotes. “Di mana kuda dan keretanya?” tanya mereka. “Siapa yang menyebut-nyebut kereta?” jawab si pria itu. “Kan tadi saya bilang kalau saya akan membawa kalian ke kota berikutnya, dan saya sekarang membawa kalian ke sana.”

***

Anda pasti paham lelucon ini. Mereka para calon penumpang yang ‘terhipnosis’ oleh cemeti yang dibawa pria ini dan menduganya sebagai sais kereta kuda.

Para pemasang iklan kerap memanfaatkan ‘hipnosis’ semacam ini. Iklan sabun mandi, pasta gigi, vitamin dan semacamnya di TV biasanya menampilkan pria berjubah putih yang memberikan informasi berisi pujian tentang produk-produk itu. Jubah putih, sikap serius, dan suara yang tenang mengesankan pria tersebut sebagai seorang dokter dan mengemas informasi yang diberikannya sebagai penjelasan ilmiah, meskipun iklan itu tidak menyebutkan kedua hal itu.

***

Akhir-akhir ini sering muncul berita-berita di surat kabar yang menceritakan bagaimana orang-orang tertipu (terhipnosis, menurut pengakuan mereka) jutaan rupiah dengan membeli jam tangan merek tertentu. Jam tangan itu dijual dengan harga sangat murah dari penjual yang ‘terkesan’ berasal dari luar negeri karena memakai bahasa Inggris (kadang berlogat Melayu), membawa dolar (yang kadang seumur hidupnya belum pernah dilihatnya), berpakaian perlente dan berwajah tampan/cantik.

Ngomong-ngomong ini sebenarnya hipnosis, salah kesan atau semata-mata keserakahan?

Sumber:
Bakul (buku) ke-2 dari serial buku Beras Kencur dengan judul Perusahaan yang Terhipnosis.
Merupakan buku terbaru RH Wiwoho, terbit Mei 2010.

February 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *