Menangkal Hipnosis

Kisah ini saya kutip dari buku Monster and Magical Sticks, di mana pengarangnya yang bernama Steven Heller membagikan metafora berikut:

Suatu sore, saya dan beberapa teman pergi makan malam di sebuah restoran lokal. Pramusaji yang melayani kami adalah seorang pria yang amat ‘aneh’. Pria ini tampak kaku, tegang, kasar, lelet dan tidak bersahabat. Akibatnya, pelayanan yang kami terima jauh dari memuaskan.

Karena saya ingin menikmati makan malam yang asyik, saya mencoba untuk ‘menggoda’nya agar suasana cair dan terasa lebih santai. Ketika ia membawakan pesanan kopi kami di nampan, saya sentuh lengannya dan berkata, ”Sayang sekali, Anda sudah melupakan malam yang sangat spesial itu… dengan orang yang sangat spesial… kejadian-kejadian yang mengesankan… perasaan-perasaan penuh kehangatan yang pastinya akan membuat Anda malu untuk mengungkapkannya… karena kami adalah orang asing yang tidak Anda kenal.”

Untuk sesaat ia tampak bingung, lalu melirik ke arah kiri, dan sesaat kemudian wajahnya kelihatan sumringah seraya bertanya, ”Bagaimana Anda tahu hal itu?” Ia lalu tertawa ngakak. Tiba-tiba sikapnya langsung berubah, seperti kena sihir saja. Ia mengatakan, “Luar biasa. Memang luar biasa sekali malam itu. Saya tidak mengerti bagaimana Anda bisa tahu kejadian itu.”

Lalu, ketika kedua kalinya ia mendatangi meja kami, saya berkata, ”Heran nggak, ketika Anda mengingat kejadian menggembirakan itu, perasaan hangat mulai mengalir, sikap Anda mulai berubah dan Anda merasa lebih santai?”

Sepanjang malam itu kami menerima pelayanan yang luar biasa. Yang lebih mengesankan lagi, ketika akan meninggalkan restoran, ia mengatakan bahwa kami adalah tipe rombongan tamu yang paling dinanti-nantikannya. Ia juga berpesan, jika lain waktu berkunjung lagi pastikan kami mencarinya.

Sesungguhnya, saya benar-benar tidak tahu apa yang pria ini halusinasikan, namun komunikasi saya membawanya kembali ke kejadian-kejadian di masa lalunya. Ia lalu menemukan sebuah pengalaman yang mengisi celah komunikasi yang saya ungkapkan, dan kenangan itu membantunya mengubah keseluruhan sikapnya dalam hitungan detik.

Apakah itu yang namanya sugesti hipnosis?

Sugesti Lewat Kata-kata

Salah satu definisi klasik dari sugesti hipnosis adalah: menggunakan kata-kata yang menyebabkan si subjek kembali ke sebuah waktu dan mendapatkan kembali sebuah kenangan/memori yang menimbulkan pengaruh emosional. Kalau kita menganggap ini sebagai sebuah definisi dari sugesti hipnosis, maka komunikasi Steven dan respon dari si pramusaji pada kisah tadi akan klop satu sama lain. Komunikasi Steven memungkinkan si pramusaji merespon lewat satu dari dua pilihan berikut: (1) bertanya pada Steven cerita ngawur apa yang sedang ia utarakan, atau (2) merespon seperti yang telah dilakukan oleh pramusaji itu di atas.

Kalau metafora dari Steven di atas dianggap sebagai hipnosis, maka mungkin istilah tepatnya adalah Conversational Hypnosis (Hipnosis lewat Percakapan). Atau barangkali Anda lebih suka menyebutnya sebagai “sugesti lewat kata-kata?” Rasanya istilah ini boleh juga… bahkan terasa lebih enak didengar, mungkin ya?

Apa pun namanya, tampaknya sugesti-sugesti (komunikasi berikut respon-responnya) seperti ini sering kita amati dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam lingkungan yang bernuansa emosional. Ruang terapi adalah salah satu contoh dari lingkungan emosional seperti yang sedang kita bicarakan ini.

Selanjutnya Steven membagikan lagi metafora yang kedua:

Seorang pasien memasuki ruang seorang terapis, lalu duduk dan berkata, ”Saya merasa down hari ini. Semalam saya kencan dengan seseorang, tapi kencan saya yang semalam ini benar-benar melukai saya.”

Si terapis merespon, “Saya mengerti. Itu rasanya benar-benar tidak enak.”

Apa sesungguhnya yang terapis ini pahami? Apakah si terapis jadi teringat satu waktu di mana ia “terluka” karena kencan yang dialaminya, atau ia teringat dengan kalimat tajam yang diucapkan pasangannya kala itu, “Jangan ganggu aku dengan telponmu, aku yang akan menelponmu.” Atau dengan kalimat ini, “Sebenarnya aku tidak bermaksud melukaimu, tapi kalau boleh jujur… aku jatuh cinta pada teman kostmu.”

Kita tidak tahu apa yang si pasien maksudkan dengan ”kencan saya yang semalam ini benar-benar melukai saya”. Bisa jadi ia hendak mengungkapkan bahwa saat kencan semalam kepalanya terluka karena dipukul pacarnya dengan asbak. Si terapis merespon pernyataan “…kencan saya yang semalam ini benar-benar melukai saya,” dengan berhalusinasi… lalu mengisi celahnya dengan gambaran-gambaran, perasaan-perasaan dan respon-respon dari sejarah masa lalunya sendiri.

***

Dari metafora di atas, muncul satu pertanyaan: Sebenarnya siapa yang sedang menghipnosis siapa? Menurut Steven, dalam proses terapi cuma ada dua kemungkinan: Anda menggunakan hipnosis atau pada akhirnya Anda dihipnosis oleh orang yang membayar Anda untuk membantunya itu.

Nah, sekarang Anda sudah tahu ‘kan bahwa kata-kata bisa menghipnosis (mensugesti) seseorang? Anda kini juga tahu kalau suatu waktu Anda dihipnosis oleh seseorang? Ada dua kemungkinan: Anda bisa menangkalnya (membuang muka dan pergi begitu saja) atau membaliknya: Anda yang kini justru menghipnosisnya. Asyik ‘kan?

Sumber :
Buku # 1 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi #2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Juii 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *