Meributkan Hal-hal Sepele (Schismogenesis) (Bag.1)

 

Schismogenesis adalah proses di mana dua orang menunjukkan lebih banyak dan lebih banyak lagi bentuk ekstrem dari perilaku yang mencetuskan perilaku tidak pantas yang juga meningkat di pihak lain, dan kondisi ini melingkar-lingkar bagai spiral dan semakin memburuk.

 Gregory Bateson

 

Cukup membingungkan? Saya kira tidak, setelah Anda meneruskan membaca tulisan di bawah ini. Karena mungkin Anda pernah melakukannya atau kerap melihat keluarga atau kerabat Anda terjebak hal ini.

Panas, dingin, panas…

Jika Anda memiliki mobil dengan AC yang suhunya dapat diatur dari dua sisi berbeda, maka begitulah Schismogenesis dapat dipahami, yakni ketika Anda mengajak kedua buah hati Anda mengendarai mobil tersebut. Si Kakak duduk di depan knop pengatur suhu AC yang satu, dan si Adek duduk di depan knop AC yang satunya lagi. Ketika Kakak merasa kepanasan, ia berusaha mengoreksi dengan menurunkan suhunya agar lebih dingin. Usahanya ini ternyata justru memicu kekacauan, karena sekarang si Adek merasa kedinginan. Adek pun memutar knop di depannya untuk menaikkan suhu agar tidak kedinginan. Si Kakak kembali menurunkan suhu, karena ia mulai kepanasan lagi. Tak lama kemudian gantian si Adek menaikkannya kembali. Begitu seterusnya. Usaha sang Kakak untuk mengoreksi suhu malah memicu terjadinya lingkaran ketidakmampuan menyesuaikan diri, dan situasi ini justru menjadi semakin parah. Ya… begitu pengatur suhu berada pada posisi yang salah, segala usaha untuk mengubahnya bisa berpotensi meredakan atau malah memperburuk situasi.

Tiga ilustrasi di bawah ini barangkali bisa memperjelas pengertian di atas:

Ilustrasi Pertama

Di bawah ini adalah perbincangan sepasang suami istri yang sesungguhnya saling mencinta. Sekar, sang istri, sedang menyiapkan makan malam. Suaminya, Asto, sedang duduk di meja makan menunggu makanan dihidangkan, sambil membaca sebuah majalah.

Sekar  : Mau makan nasi goreng apa?
Asto    : Nasi goreng telor, apa lagi?
Sekar  : Apa maksudmu dengan kalimat apa lagi?
Asto    : Maksudku, aku suka nasi goreng telor, tapi kalau kamu mau, bisa coba yang lain.
Sekar  : Maksudmu, kamu tidak suka kalau nasi goreng lain?
Asto    : Bukan begitu. Aku juga suka nasi goreng yang lain kok. Bikin saja nasi goreng lain.
Sekar  : Ngga usah, kalau memang kamu maunya nasi goreng telor.
Asto    : Sudahlah. Bikin nasi goreng teri saja.

(Sekar akhirnya membuat nasi goreng teri, mencicipinya dan kemudian menyeringai).

Asto    : Nggak enak ya?
Sekar  : Aku ngga tahu cara bikin nasi goreng teri.
Asto    : Kalau nggak enak, buang saja.
Sekar  : Udah… udah… udah…!
Asto    : Udah gimana? Itu ‘kan cuma sepiring nasi.
Sekar  : Kamu ini suka ngegedein hal yang remeh temeh deh.
Asto    : Kamu! Justru KAMU-lah yang ngeributin hal-hal begituan.

Merasa familier dengan kisah tadi? Bagaimana sepasang suami istri bisa mengakhiri percakapan mereka dengan pertengkaran gara-gara nasi goreng? Keduanya keliru mengartikan MAKNA pihak lain. Masing-masing berada dalam dunia MAKNA-nya sendiri. Dan keduanya menafsirkan MAKNA masing-masing lebih tinggi, sehingga sering muncul ucapan berikutnya: “Benarkah kamu peduli terhadap saya?”

Awal masalah bermula ketika Asto menanggapi pertanyaan istrinya dengan berkata, ”Nasi goreng telor, apa lagi?”

Sekar mendengar jawaban itu sebagai tuntutan jenis nasi goreng yang diinginkan Asto, yakni nasi goreng telor. Dan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban itu (yakni, “apa lagi?”) tampaknya membentuk metapesan [pesan di balik pesan]: “Dasar goblok. Kamu seharusnya sudah ngerti.”

Asto berharap ia diberi pilihan, misalnya, “Bagaimana kalau nasi goreng komplit seperti yang di restoran itu?” Saat itu sesungguhnya Sekar sedang menawarkan pilihan pada Asto. Tetapi Asto menanggapinya dengan gaya bicara sinis yang secara tidak langsung berarti, “Eh, kamu kan tau siapa saya. Sudahlah, saya ini orangnya tidak neko-neko. Saya selalu menyantap makanan yang itu-itu saja. Jadi nggak usahlah pake nanya-nanya segala; bikin saja apa yang kamu mau.”

 

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

………Artkel ini bersambung di bulan Juni 2018
 
 
 

Mei,  2018