NLP dan Pilihan Karir

Businessman shooting star.

Businessman shooting star.

Banyak alumni seminar dan training saya menanyakan apakah NLP bisa dipakai sebagai landasan membangun bisnis sendiri. Biasanya, respon saya kurang lebih seperti ini:

Dibandingkan dengan kelompok ‘orang-orang biasa’, banyak, banyak sekali orang yang sudah menyelesaikan program NLP saya (Personal Power, Train the Trainers, Managing with NLP, Certification Program dst) tampaknya berkeinginan untuk ‘berbisnis sendiri’ – membangun usaha, menjadi entrepreuner atau self-employed. Mulanya saya melihat hal ini sebagai efek samping dari perubahan ‘attitude, technique and methodology’ NLP yang saya sampaikan. Kini, saya melihatnya sebagai bagian dari ‘penilaian’ mereka bahwa NLP memungkinkan mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan. Benarkah?

Ada satu hal yang membuat saya penasaran ketika melihat orang yang baru saja menyelesaikan program NLP tiba-tiba memutuskan untuk ‘melakukan sesuatu dengan NLP’: Apa yang membuat perubahan ini?

Saya tidak ragu bahwa beberapa orang memiliki semua keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses dalam berbisnis, tapi mereka kurang percaya diri, atau kurang punya dorongan untuk bertindak. Dan NLP memungkinkan mereka lebih percaya diri serta memiliki dorongan untuk sukses. Itu tidak diragukan lagi. Namun, ada orang-orang yang punya mimpi menjadi pengusaha, dan lagi-lagi, NLP tampaknya juga memberi mereka keyakinan bahwa mereka dapat meraih sukses. Namun perlu diingat, punya seperangkat keterampilan yang diartikan sama dengan bisa meraih kesuksesan, sebenarnya dua hal yang tidak relevan untuk disandingkan.

Ini mungkin salah satu otokritik teknik ‘Circle of Excellence’: kompeten dalam satu bidang tanpa memiliki rasa PD (percaya diri) menjadikan seseorang kurang keberanian untuk menerapkan keterampilannya tersebut. Sebaliknya, PD tanpa kompetensi bisa sangat membahayakan. Dapatkah Anda bayangkan, seseorang tidak bisa berenang tiba-tiba nekat nyemplung di laut luas untuk menolong orang lain? Saya sering melihat hal ini dalam konteks-konteks lain, dan tentu saja akibatnya fatal.

Menurut saya, orang-orang yang melakukan sesuatu dengan NLP (apakah sebagai trainer, konsultan, terapi dsb) dan sukses, adalah orang-orang yang telah memiliki pengalaman mengelola organisasi sebelumnya, baik profit maupun non-profit. Orang-orang yang melompat dari sebuah posisi di mana mereka tidak biasa untuk mengambil keputusan, melakukan rekrutmen, memecat karyawan, berhadapan dengan konsumen (baik perorangan maupun organisasi), menghadapi kontraktor dan membuat kontrak, memasarkan dirinya atau sebuah produk/jasa dan seterusnya, dalam kacamata saya, tidak akan piawai dalam menjalankan sebuah bisnis.

Ini bukan hanya terjadi dalam NLP saja.

Banyak orang yang cuma paham sedikit tentang ‘internet’, lalu melompat ke dalam kehebohan, melupakan hal-hal seperti hak cipta, hukum korporasi, menegosiasikan kontrak, teknik pemasaran, menentukan tarif, dan semacamnya. Siapa pun yang membuat janji – tersurat maupun tersirat – bahwa: “Saya bisa memberi apapun yang Anda butuhkan untuk sukses”, menurut hemat saya, sebenarnya ia sedang merancang orang agar gagal, dan ini bisa menyebabkan bencana besar dalam prosesnya. (Ingat, ketika Anda sibuk memodel berbagai keterampilan bisnis yang Anda butuhkan untuk sukses dan belajar dari kesalahan-kesalahan, lalu apa yang terjadi dengan tabungan, rumah dan mobil Anda?)

NLP menyediakan seperangkat keterampilan, namun seperti yang sering saya uraikan di dalam training (khususnya modul Personal Power) bahwa sukes bukan hanya membutuhkan seperangkat keterampilan. Anda memang bisa memodel atau belajar dari kesalahan dengan lebih efektif dibanding orang-orang biasa lainnya, namun itu belum cukup. Kalau Anda berniat menjadi entrepreuner, kerjakan dulu pekerjaan rumah Anda, sementara Anda masih bisa menikmati gaji dari pekerjaan Anda. Saya bukan mengatakan “Jangan jadi pengusaha”, saya selalu mengatakan bahwa ‘difference that makes difference (perbedaan yang membuat berbeda)’ ada pada ‘attitude/belief, technique, and outcome/methodology’.

*****

Sumber: Materi untuk didiskusikan dalam pertemuan NLP Practice Group (Sesi 4) (komunitas alumni NLP Certification Program), Jakarta, 28 Juni 2008.

Comments are closed.