NLP Presuppositions (Bag.1)

Landasan bagi NLP adalah seperangkat presuppositions (keyakinan) tentang diri sendiri dan dunia yang kita tinggali. Presuppositions ini juga berfungsi sebagai prinsip untuk memandu bagaimana kita menjalani hidup kita.

1. You cannot not communicate
Anda mustahil untuk tidak berkomunikasi
Pernahkah Anda hadir di sebuah meeting/rapat, duduk di pojok ruangan dengan melipat tangan, wajah Anda memancarkan amarah dan tidak mau terlibat dalam diskusi sama sekali? Atau mungkin sebaliknya, Anda duduk di ruang makan dengan wajah cemberut dan tidak berkata sepatah katapun selama makan malam bersama keluarga Anda? Apakah Anda sedang berkomunikasi? Lalu, pesan apa yang sesungguhnya sedang Anda sampaikan? Dan siapa orang yang menjadi sasaran Anda?

Lewat nada suara, aksi, dan bahasa tubuh, Anda selalu berkomunikasi.

2. The map is not the territory
Peta itu bukanlah wilayah yang sesungguhnya
Kantor saya di bilangan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Untuk mengetahui di mana persisnya, saya bisa merujuknya ke sebuah peta. Peta itu sendiri bukanlah Permata Hijau, namun representasi visual dari Permata Hijau. Orang lain, dengan gagasan yang berbeda di benaknya, dapat menggambarkan representasi (peta) Permata Hijau dengan cara yang berbeda. Keduanya akan merupakan representasi dari Permata Hijau dan memberikan sebuah perspektif yang berbeda.

Dengan cara yang sama, Anda membuat representasi internal (peta-peta) dari pengalaman Anda di kepala. Anda mengingat kejadian lewat gambar, suara, rasa, bau, cecap dan kata-kata. Representasi-representasi internal ini membuat Anda tergantung pada filter-filter Anda (keyakinan, nilai, keputusan dst).

Peta Anda tentang sebuah kejadian bukanlah merupakan kejadian itu sendiri. Bagaimana Anda memilih merepresentasikan peta itu di benak, tergantung bagaimana Anda memaknai kejadian itu. Biarpun Anda dan saya berada di TKP (tempat kejadian perkara) yang sama, peta-peta kita bisa sangat berbeda, tergantung pada filter kita masing-masing. Kalaupun kita memperdebatkan kejadian itu, sesungguhnya bukan kejadian itu yang kita perdebatkan, melainkan lebih pada perbedaan interpretasi (peta-peta) dari kejadian itu, menurut versi masing-masing.

Contoh: misalkan Anda yakin bahwa bos Anda adalah orang yang kejam. Jenis representasi (peta) seperti apa yang akan Anda buat ketika Anda terlibat rapat dengannya? Apakah Anda cenderung akan terfokus pada hal-hal yang membuktikan pandangan Anda? Seandainya saya juga berada dalam rapat yang sama, dan saya menilainya sebagai orang yang baik hati, seperti apa perbedaan peta (memori) saya dengan peta Anda?

Panca indera Anda mengambil data mentah dari lingkungan Anda dan data mentah tersebut mutlak tidak berarti apa-apa sampai Anda memberi arti (peta) yang Anda pilih tentang data tersebut. Kalau Anda memilih sebuah arti yang berbeda, ini akan mengubah pengalaman dari kejadian itu.

Orang merespon pada peta realitasnya, bukan pada realitasnya itu sendiri. NLP adalah tentang mengubah peta-peta ini – bukan mengubah realitasnya.

3. Respect for the other person’s model of the world
Hormatilah peta dunia orang lain
Kita masing-masing punya interpretasi terhadap realitas (model dunia) pribadi. Interpretasi kita bisa sangat mirip, bisa pula berbeda.

Kita masing-masing memetakan pengalaman dunia secara berbeda-beda, karena kita semua punya seperangkat pengalaman dan keyakinan yang juga berbeda-beda. Anda mungkin tidak paham atau setuju dengan perilaku saya, namun bila Anda punya pengalaman yang sama dengan keyakinan dan nilai-nilai yang saya miliki, Anda mungkin akan memahami atau bahkan menyetujuinya.

Anda tidak harus setuju dengan model dunia saya. Anda cukup hanya menghormati apa yang saya lihat, dengar, rasakan – yang menginterpretasikan dunia dan berperilaku berbeda dengan apa yang Anda lakukan.

Januari 2013

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *