
Orang Baik Cenderung Depresi
Dan Mengalami Kelelahan Emosional Yang Parah
Orang Baik Cenderung Depresi Dan Mengalami Kelelahan Emosional Yang Parah
Pernahkah kamu merasa semakin berusaha berbuat baik, justru semakin banyak orang yang memperlakukanmu semena-mena.
Kamu selalu ada untuk mereka, mendengarkan keluh kesah mereka,membantu ketika mereka butuh bantuan.
Berusaha memahami perasaan semua orang. Tapi ketika giliranmu yang butuh sandaran, tak banyak yang tinggal.
Menyakitkan, bukan? Kenapa ya? Orang yang paling peduli justru yang paling sering terlupakan. Ternyata ada penjelasan ilmiahnya.
Para ahli menyebutnya people pleasing behavior.
Sebuah pola psikologis di mana seseorang terus-menerus mengutamakan kebutuhan orang lain bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Dr. Sherry Pagoto dari University of Massachusetts Medical School menemukan fakta menarik.
Orang-orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain cenderung mengalami kelelahan emosional yang parah. Mereka kesulitan mengatakan tidak dan perlahan-lahan kehilangan jati diri mereka sendiri. Mungkin kamu bertanya-tanya, “Kok bisa ya?”
Jawabannya ada di masa kecil kita. Banyak dari kita dibesarkan dengan pemahaman bahwa anak baik adalah yang tidak pernah marah, selalu mengalah, dan tidak boleh menolak permintaan orang lain.
Tapi tahukah kamu? Kebaikan tanpa batas itu seperti pisau bermata dua.
Semakin kamu membiarkan orang mengambil advantage, semakin mereka merasa berhak atas waktu, tenaga, dan emosimu. Nedra Glover Toywab, seorang terapis lulusan University of Michigan dalam bukunya said Boundaries. Find Peace punya kata-kata yang sangat mengena tanpa batasan yang jelas, kebaikanmu akan dianggap sebagai kewajiban.
Artinya, jika kamu terus memberikan tanpa pernah berkata cukup, maka orang lain tidak akan tahu kapan harus berhenti meminta.
Ini dia ironinya. Kita takut menyakiti orang lain, tapi akhirnya malah menyakiti diri sendiri. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita tidak pernah diajarkan bahwa menolak itu normal. Penelitian Grow dan John dari UC Berkley bahkan membuktikan orang yang selalu menekan emosinya demi menjaga harmoni justru lebih rentan mengalami depresi dan kesepian berkepanjangan.
Karena hidup dalam topeng kebaikan yang terus-menerus membuat mereka kehilangan ruang untuk menjadi diri sendiri. Jadi kalau kamu merasa semakin baik malah semakin terluka.
Mungkin ini saatnya bertanya pada diri sendiri. Apakah aku benar-benar tulus atau hanya takut ditinggalkan? Karena kebaikan yang lahir dari ketakutan hanya akan membungkam suaramu sendiri.
Dan kamu, kamu pantas untuk didengar. Kamu berhak menetapkan batas. Kamu boleh berkata tidak tanpa merasa bersalah. Kamu layak menjaga dirimu sendiri. Ingat, kebaikan sejati bukan tentang menyenangkan semua orang, tapi tentang menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima, antara peduli pada orang lain, dan mencintai diri sendiri.
Jika kamu merasa tersentuh dengan pesan ini, yuk share ke teman-teman yang mungkin butuh mendengarnya.
Sampai jumpa
Link Youtube : Orang Baik Cenderung Depresi Dan Mengalami Kelelahan Emosional Yang Parah
