Pasien Juga Manusia (Bag.2)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Ada seorang mahasiswi kedokteran yang punya semangat menyala-nyala untuk membantu sesama. Ia ingin menolong orang lain dan membantu meringankan penderitaan mereka. Dengan memberanikan diri mahasiswi ini mendatangi dosennya yang memang sangat terkenal kepiawaiannya, terutama kebijaksanaannya. Ia memohon agar bisa magang di tempat praktiknya. Dia paham bahwa kepedulian dan motivasi tinggi saja tidak cukup untuk menolong sesama, harus dibarengi dengan keterampilan.

Awalnya sang dosen yang juga dokter itu menolak dengan halus. “Belum saatnya. Kamu masih terlalu muda,“ katanya. “Kamu harus menggali pengalaman hidup dulu. Terlalu dini untuk menerimamu sekarang.”

Karena tekadnya yang sudah bulat dan motivasinya yang sedang membara, mahasiswi ini enggan ditolak begitu saja. Ia ngotot untuk diberi kesempatan magang, setidaknya untuk beberapa bulan, sehingga dokter bisa menilai apakah ia sudah layak atau belum.

Akhirnya melalui perjuangan yang gigih, hati sang dokter pun luluh dan menerima mahasiswi itu magang. Untuk beberapa minggu pertama mahasiswi ini mendampingi praktik sang dokter. Dia dengan cermat mempelajari berbagai obat yang digunakan si dokter, baik yang generik maupun yang khusus. Dia melakukan modeling (istilah NLP) dan dengan seksama merekam cara dokter menerima pasien-pasiennya. Di malam hari, ketika dokter membaca literatur di perpustakaan pribadinya, dia mencatat satu persatu buku yang dibacanya. Atas seijin dokter, dibawanya pulang buku-buku itu untuk dipelajarinya juga. Karena begitu tekunnya dia memodel, tidak berapa lama kemudian dia mampu memperoleh keterampilan serta pengetahuan yang dibutuhkannya.

Sang dokter juga merasakan hal yang sama. Dia menyadari bahwa mahasiswi itu sudah PAHAM apa yang dibutuhkannya di bidangnya. Dokter juga tahu bahwa welas asih dan keikhlasan adalah sesuatu yang kadang melebihi pengetahuan serta keterampilan itu sendiri. Welas asih dan keikhlasan sesungguhnya lebih dari sekadar “memberi informasi” yang diperolehnya dari pelajaran serta gudang pengetahuan yang diterimanya di kampus. Welas asih dan ikhlas lebih berasal dari nurani dan kesediaan untuk memberi.

Merasa percaya diri dengan pengetahuannya, mahasiswi tadi memohon-mohon kepada mentornya untuk diijinkan menangani pasien. Namun permintaan ini selalu ditolak oleh si dokter, sampai akhirnya suatu hari si dokter mengatakan, “Ini, ada seorang pasien pria yang perlu dibantu.”

Dokter dan mahasiswi berjalan masuk ke ruang praktik yang kebetulan melewati ruang tunggu pasien. Kebiasaan sang dokter, ia selalu menyapa dan memperhatikan pasien-pasien yang sedang menunggu giliran. Setelah masuk ke ruang praktiknya, ia bertanya, “Saya ingin tahu, apakah kamu memperhatikan pria pertama yang menunggu giliran tadi?”

“Ya. Saya memperhatikannya,” jawab si mahasiswi.

“Nah,“ ujar dokter itu, “Coba ceritakan pada saya kondisinya dan jenis pengobatan apa yang menurutmu cocok diberikan kepadanya?”

Si mahasiswi tersentak kaget, karena dia hanya memperhatikan busana dan ciri-ciri tubuhnya saja. Bila disuruh mengamati kondisi kesehatannya, mendiagnosa penyakitnya dan kemudian memberikan pengobatan yang cocok, tentu saja dia tak sanggup.

“Wah, sayang sekali,“ kata dokter. “Kamu seharusnya tahu bahwa pasien itu membutuhkan buah tomat.”

Tanpa dikomando lagi, mahasiswi tersebut mengambil peluang yang ada di depannya. “Dokter,“ ujarnya. “Anda sudah mencermati pasien tadi dengan detil. Juga sudah melakukan diagnosis dan tahu resepnya. Beri saya kesempatan memberikan resep itu kepadanya.”

Mahasiswi tadi tidak percaya karena ternyata si dokter mengiyakan. Dengan segera ia panggil pasien tadi masuk ke ruang praktik, disuruhnya duduk dan ia mengatakan, “Saya tahu keluhan Anda, yang Anda perlukan adalah buah tomat.”

Pasien laki-laki itu tersentak kaget dan beranjak dari kursinya. “Apa? Tomat?” Ia lari dari ruang praktik sambil berteriak-teriak.

………Artkel ini bersambung di bulan Juli 2016

Sumber :
Buku # 3 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Juni 2016

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *