Pengambilan Keputusan yang Hebat (Bag.1)

(Tulisan ke-1 dari 3 tulisan yang akan kita bahas selama 3 bulan kedepan)

Pengambilan keputusan adalah topik besar buat setiap orang. Ini merupakan salah satu kemampuan penting yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Jika Anda parah dalam hal ini, maka… kasihan dech Anda! Dan jika Anda luar biasa dalam hal ini, ibaratnya dunia sudah berada di ujung jari Anda. Namun, kalau pun Anda sudah merasa luar biasa sekarang ini, sebenarnya Anda tidaklah sehebat yang Anda kira. Apa pasal?

Jujur saja, kita semua (kecuali beberapa orang yang beruntung) TIDAK pernah diajari kemampuan ini. Kita mendapatkannya secara acak di masa kanak-kanak dengan mengamati orang dewasa, yang sebenarnya mereka juga mengambilnya secara acak di masa kecilnya. Ini seperti putaran pembelajaran secara kebetulan yang tiada putus-putusnya.

Anda ingin tahu bagaimana orang-orang hebat mengambil keputusan? Bagaimana jenderal-jenderal besar melakukannya? Begitu pun para juara Olimpiade, ibu-ibu rumah tangga dengan sepuluh anak, dan rahib-rahib yang kesepian melakukannya?

Kalau Anda ingin jago dalam mengambil keputusan, di bawah ini adalah struktur yang dipunyai orang-orang hebat – yang dimodel oleh NLP – dalam mengambil keputusan. Ada sederet langkah yang harus Anda ikuti untuk mendapatkan hasil yang Anda inginkan. Jika Anda melewati atau mengubah langkah-langkah ini, Anda akan mendapatkan hasil yang berbeda. Jika Anda mengacaukan langkah-langkah ini, Anda akan mendapatkan hasil yang kacau juga. Tentu saja, setelah Anda menjadi pembuat keputusan yang baik, Anda bisa lebih kreatif dengan langkah-langkahnya, tapi sebelum itu Anda harus mengikuti apa yang harus dilakukan.

Ada tiga langkah untuk pengambilan keputusan yang hebat, yakni :

1) Membingkai masalah.
2) Mengumpulkan informasi.
3) Membuat kesimpulan.

 

Mari kita uraikan secara rinci satu persatu:

Langkah 1: Membingkai masalah

Dalam hal ini, Anda mesti membingkai masalah dengan mengajukan pertanyaan spesifik yang ingin Anda jawab

Kita ambil berapa contoh berikut:

– Hari ini saya mau makan nasi padang atau nasi goreng?
– Bagaimana cara saya melipat-gandakan gaji saya?
– Dimana saya bisa menemukan cinta sejati dalam hidup saya?

 

Pertanyaan itu membentuk kerangka untuk keputusan, karena menyoroti beberapa aspek masalah sambil mendorong hal-hal lainnya ke samping. SETIAP pertanyaan yang mungkin bisa Anda ajukan akan memfokuskan perhatian Anda pada satu hal dan mengabaikan hal-hal lainnya

Sebagai contoh:

– Saya mungkin juga bisa pesan gado-gado, tapi itu adalah alternatif yang
berada di luar bingkai saya saat ini.
– Mungkin juga akan sama mudahnya untuk membuat gaji saya tiga kali lipat, tapi itu di luar bingkai.
– Alih-alih mencari cinta sejati, mungkin lebih baik menunggu wanita /pria
tersebut menemukan diri saya, tapi itu juga di luar bingkai.

Ketika Anda membingkai masalah, Anda menghapus/meniadakan potongan-potongan realitas (chunks of reality) dari pertimbangan. Jadi berhati-hatilah pada apa yang Anda hapus. Sering terjadi, bingkai keputusan awal malah justru menggergaji alternatif terbaik.

 

REFLEKSI DIRI:

– Ujilah beberapa keputusan yang Anda buat dalam 2 bulan terakhir . Mengapa Anda memilih keputusan itu, dan bukan pada pilihan keputusan
yang lain?

– Berapa lama waktu yang Anda alokasikan untuk membingkai masalahnya? (Seharusnya berkisar antara 10 – 25% dari total waktu pengambilan keputusan).

Langkah ke 2 akan kita bahas bulan depan

Comments are closed.