Perkawinan Kedua (Bag.1)

 

 

Apa manfaat presuppositions NLP dalam terapi?

Bagaimana para master melakukannya?

 

Sesungguhya presuppositions (yang terjemahannya kurang lebih dugaan, asumsi, sangkaan, perkiraan atau pra-andaian, presuposisi) dapat membawa perubahan terapeutikal yang sangat dramatis bila dimanfaatkan secara elok. Orang bisa setuju atau tidak setuju dengan pernyataan-pernyataan langsung seperti ini, namun presuppositions umumnya bisa diterima di alam bawah sadar seseorang dan tidak terdeteksi di alam sadarnya.

Berikut adalah dua contoh betapa di tangan master-masternya presuppositions berubah menjadi “alat terapi kilat” yang jempolan.

Master pertama adalah Carl Whitaker. Suatu ketika Whitaker menangani pasangan suami istri yang sudah bercerai lima tahun dan telah menjalani terapi jauh lebih lama daripada itu. Sepasang mantan suami istri ini duduk berdampingan dengan keserasian nonverbal (nonverbal rapport) yang sangat bagus dan saling bercermin (mirroring), baik posisi tubuh maupun pola napasnya.

Sepanjang sesi terapi, keduanya saling menimbang rasa dan saling menghargai. Sangat kentara bahwa keduanya selama ini telah berusaha mati-matian untuk mengklopkan perbedaan-perbedaan yang muncul. Para sahabatnya pun heran mengapa keduanya tidak rujuk kembali saja, sebab sesungguhnya keduanya masih sangat akur.

Karena tidak ada yang istimewa, Whitaker meminta di sesi berikutnya mereka membawa serta kedua anak mereka. Si anak “bandel” yang tinggal dengan ayahnya tidak muncul, namun putera “kesayangan” yang tinggal dengan ibunya hadir dalam sesi berikutnya itu.

Sesi ini sangat kontras dengan sesi sebelumnya. Suami istri tersebut kali ini duduk lebih berjarak, dengan anak laki-laki tersebut berada di tengah namun agak lebih dekat ke arah ibunya. Perilaku si suami hampir mirip dengan sesi sebelumnya, namun si istri berubah total. Ia bertingkah jauh lebih seksi dan dinamis, khususnya ketika ia berbicara pada – atau membicarakan tentang – anak laki-laki kesayangannya tersebut. Hal ini terjadi berulang-ulang. Si istri menjabarkan panjang lebar apa aktivitas-aktivitas yang mereka berdua lakukan, bagaimana ia sangat percaya pada anaknya, bagaimana kompaknya mereka berdua, dan seterusnya. Apa pun sebutannya, “penjeratan” ataukah “pelanggaran batas-batas antar-generasi”, nampak gamblang bahwa si ibu sangat amat “terlibat” dengan putranya itu dan memperlakukannya lebih sebagai “kekasih” ketimbang anak kandungnya.

Tepat seusai si ibu menjabarkan contoh lain bagaimana ia dan anaknya saling dukung, Whitaker mengarahkan gesturnya ke si ibu dan anaknya tersebut seraya berkata, “Oh, jadi perkawinanmu yang kedua jauh lebih memuaskan ketimbang perkawinanmu yang pertama,” dan lalu mengarahkan gesturnya ke si ayah.

Otak si ibu untuk beberapa saat berhenti bekerja. Nyatalah bahwa – sebelum diucapkan oleh Whitaker – ia tidak pernah menyangka jika relasinya dengan anaknya itu seperti sebuah “perkawinan”. Sejak saat itu rasanya mustahil bagi si ibu untuk tetap memikirkan relasi tersebut serupa dengan waktu-waktu sebelum Whitaker mengungkapkannya. Seperti yang kerap Whitaker ungkapkan, “Orang boleh setuju atau tidak setuju denganku, namun mereka tidak bisa mengabaikanku.

Kekuatan dahsyat dari pernyataan Whitaker pada si ibu terletak pada presupposition-nya bahwa mereka “kawin”. Si ibu boleh saja setuju bahwa perkawinan keduanya jauh lebih baik, atau tidak setuju dan mengatakan bahwa sesungguhnya tidak lebih baik, namun sulit buat si ibu untuk menampik dugaan (presupposition) bahwa ia telah bertingkah/berperilaku seakan-akan ia memang kawin dengan anak laki-lakinya itu – terutama ketika ia selesai menjabarkan panjang lebar interaksi yang lebih terdengar bak perkawinan yang bahagia itu!

Meskipun si istri secara sadar menolak komentar Whitaker, dampaknya tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena umumnya orangtua tidak ingin mengawini anaknya sendiri, si ibu tidak bisa menghindari kenyataan tentang keterlibatannya yang amat sangat pada anak lelakinya tersebut. Kalau sebelumnya ia mungkin berpikir, ”Apakah relasi saya sangat dekat dengan anak saya atau tidak?” kini menjadi, ”Apakah ini memang terlalu dekat? Apakah saya memperlakukannya sebagai seorang kekasih/pasangan?” Dan untuk selanjutnya ia tentu akan menghindari bertingkah/berperilaku sedemikian rupa yang mengesankan adanya keintiman seperti perkawinan. Si anak tersebut juga akan melakukan hal yang serupa dengan perubahan yang sudah dilakukan oleh ibunya.

 

***

 

………Artkel ini bersambung di bulan Januari 2018

 

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Desember,  2017