Perkawinan Kedua (Bag.2)

Artikel ini lanjutan dari bulan sebelumnya jika belum membaca klik disini

 

Master kedua adalah Milton Erickson. Pada tahun 50-an, Erickson sedang menjadi pembicara tamu di VA Hospital di Palo Alto, California. Para terapis membawa pasien-pasiennya yang paling sulit untuk ditangani oleh Erickson secara bergilir satu persatu.

Salah satu klien yang dihadirkan adalah seorang anak muda yang kerap melakukan pelbagai tindak kekerasan. Anak muda ini sudah menunggu di koridor rumah sakit, sambil melihat pasien-pasien lain keluar masuk – bahkan beberapa di antaranya masih berada dalam keadaan trans.

Ketika akhirnya para terapis membawanya masuk untuk menemui Erickson, anak muda ini tidak punya pikiran samasekali apa yang ditunggunya. Erickson mula-mula bertanya pada si terapis, ”Mengapa Anda membawa bocah ini pada saya?”

Sesudah si terapis membacakan daftar tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak ini, Erickson memerintahkan kepada si terapis, “Duduklah.”

Erickson lalu berpaling kepada anak laki-laki itu, menatap matanya dengan tajam, dan berkata, ”Seberapa terkejut kamu kalau seluruh perilakumu berubah total minggu depan?”

Anak laki-laki muda ini menatap dengan trans dan berkata, ”Saya SANGAT terkejut!”

Erickson lalu berpaling kepada si terapis dan berkata, ”Bawa keluar bocah ini.”

Si terapis berpikir bahwa Erickson memutuskan untuk tidak mau menanganinya. Namun, seminggu kemudian seluruh perilaku buruk anak ini nyatanya benar-benar berubah total.

Erickson, tanpa diragukan lagi, telah mengamati penerimaan yang dalam (heightened receptivity) dari anak ini, lalu memutuskan untuk memberinya sebuah presupposition bahwa seluruh perilakunya akan berubah. Erickson bukannya mengajukan pertanyaan, “Kelakuanmu mau berubah atau tidak?” Pertanyaan Erickson mengandaikan (presupposed) bahwa perilaku anak ini akan berubah; jadi persoalannya hanya seberapa terkejut anak ini ketika hal itu terjadi.

Respon anak itu – baik verbal maupun nonverbal – menunjukkan kepada Erickson bahwa ia telah benar-benar menerima presupposition itu. Dan ketika tahu bahwa ia sudah berhasil, Erickson mengakhiri percakapan untuk menghindari anak ini malah membatalkan apa yang sudah diikrarkannya.

Kalau saja anak ini menjawab, “Saya tentu saja akan merasa terkejut,” atau kelihatan ragu, Erickson pasti akan melakukan terapi dengan cara-cara lain. Namun, karena anak ini menjawab, “Saya SANGAT terkejut,” itu mengindikasikan bahwa ia telah menerima presupposition yang dilontarkan oleh Erickson bahwa perubahan akan terjadi.

Di dalam cerita ini juga terdapat presupposition penting lain yang mendukung proses intervensi yang brilian itu. Ketika Erickson bertanya, “Mengapa Anda membawa bocah ini pada saya?” ia mengandaikan (presupposed) bahwa pasiennya adalah seorang anak yang masih bau kencur alias bocah (boy, yakni sebutan untuk anak yang belum akil balik atau belum dewasa) dengan seluruh konotasinya, yakni: belum dewasa, banyak hal yang harus dipelajari, tergantung pada orang lain, perlu bimbingan, dan seterusnya. Lalu ketika ia memerintahkan si terapis untuk, “Duduklah,” Erickson memberi presupposition bahwa si terapis sendiri (yang dalam kasus ini menjadi figur orangtua buat si bocah yang dibawanya ini) berada dalam posisi menerima perintah dari Erickson.

Dengan dua ungkapan pendek ini, Erickson meletakkan dirinya sebagai superior yang otoritatif pada orang-orang yang sedang menangani anak ini – dengan seluruh presupposition dan implikasinya. Tanpa diawali dengan dua presuposisi ini, besar kemungkinan pertanyaan yang diajukan belakangan oleh Erickson tidak akan punya dampak sedemikian hebatnya.

***

 

Meski umumnya presuposisi-presuposisi yang powerful dalam terapi tidak seglobal milik Erickson atau sedemikian membingungkannya seperti yang dilakukan oleh Whitaker, namun efeknya dapat sedahsyat cerita di atas — khususnya dalam mengubah persepsi dan perilaku seseorang. Apalagi kalau dibawakan lewat jalinan presuposisi-presuposisi kecil yang saling terkait. Buktikanlah!

 

 

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Januari,  2018