Sahabatku Bernama Takut (Bag.1)

Fani tidak pernah tahu mengapa “makhluk” yang satu ini (“Takut”, ia menyebutnya) hadir dalam kehidupannya dan terus menerus mengikutinya, sampai-sampai ia tidak berani pergi ke luar rumah, menjumpai teman-temannya dan berbicara dengan orang asing.

Suatu hari Fani memutuskan, “Aku akan pergi ke luar rumah dan menemui teman-temanku.” Namun ia tak beranjak menjauh dari pintu rumahnya ketika dilihatnya Takut menghadang jalannya, berdiri setinggi menara, dan tertawa sambil berkata, “Kamu tidak boleh keluar. Pikirkanlah apa yang bakal terjadi kalau kamu bertemu dengan orang-orang yang tidak kamu kenal. Bisa saja mereka akan meremehkan dan menertawakanmu. Selain itu, tengoklah, betapa buruknya cuaca hari ini, gelap gulita. Kalau hujan turun dan petir sambar menyambar, kamu bisa mati kesambar olehnya. Lebih baik tidak usah pergi!”

Fani mendengarkannya. Walaupun ia mencoba untuk berdebat, namun ujung-ujungnya ia memutuskan untuk setuju dengan Takut.

Hari berikutnya ia bangun dan bertekad, “Hari ini aku akan pergi ke luar rumah dan menikmati sinar matahari.” Namun sekali lagi, di pintu rumahnya, ia dihalangi oleh si Takut. Kali ini ia berkelahi dalam upayanya melewati pintu. Namun setelah berjam-jam berjuang mati-matian akhirnya ia lelah, dan ujung-ujungnya ia memutuskan untuk tidak jadi pergi lagi.

Hari berikutnya lagi, ia bangun dan berpikir, “Hari ini aku akan pergi ke luar dan memetik bunga.” Tepat di depan pintu rumah, Takut sudah menunggu seperti biasanya, namun kali ini ia tidak tampak mengancam dan tidak sekokoh biasanya. Ia pukul si Takut hingga sedikit terhuyung, lalu mendorongnya dan kemudian ia lari kencang-kencang melewati pintu rumahnya.

Ia nikmati hari yang indah itu, menjumpai teman-temannya, memetik bunga kesayangannya, mandi sinar matahari, dan masih banyak lagi hal-hal menyenangkan yang ia lakukan.

Keesokan harinya, ia lakukan lagi hal ini. Begitu juga dengan esoknya lagi… tanpa pernah memikirkan si Takut lagi. Tampaknya, Takut sudah lenyap dari benaknya, selama-lamanya.

Namun, kemudian di hari keempat, ketika sedang berjalan-jalan di hutan pinus, tiba-tiba Fani melihat seekor beruang besar berlari menuju ke arahnya, menggertak dan menggeram. Ia berdiri dengan kaku, terkesiap oleh teror ini. Lalu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba Takut menampakkan diri, memeluk dan menarik tubuhnya serta membantunya berlari, berlari dan terus berlari secepatnya, seolah membimbingnya melarikan diri dari si beruang.

Ketika tiba di rumah, Takut berkata, “Aku sudah mengatakan bahwa hal buruk seperti ini bisa saja terjadi ketika kamu pergi ke luar rumah. Barangkali sekarang kamu mau mendengarkan saran-saranku.”

Fani mengiyakan… dan pagi harinya ketika bangun ia melihat Takut berdiri setinggi pintu rumah dan terkesan mengancam. Dengan ragu-ragu ia mendekat dan berkata, “Hei Takut, mengapa kamu berubah menjadi besar lagi dan terkesan mengancam?”

Takut menjawab, “Kamu mesti belajar berkompromi dengan diriku setiap hari. Dan kamu mesti belajar untuk membedakan saat-saat kamu membutuhkanku dan kapan saatnya tidak.”

“Oh, kini aku paham,“ kata Fani. Dan tepat ketika ia mengakhiri kalimat ini, tubuh Takut tiba-tiba menciut menjadi seukuran orang kerdil, duduk dengan kaki dilipat di lantai. Melihat ini, Fani memungut dan memasukkannya dalam kantong bajunya dengan hati-hati.

Fani tidak pernah tahu mengapa Takut bisa hadir dalam kehidupannya. Namun, sekarang ia gembira mengantonginya, karena ia tahu bahwa ia bisa memanggilnya kapan saja saat memerlukannya.

***

………Artkel ini bersambung di bulan Februari 2016

Sumber :
Buku # 3 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *