Salah Cetak (Bag.2)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Imprint dan Keyakinan

Andre, misalnya, seorang anak yang menyimpulkan bahwa ia tidak bisa belajar dengan baik berdasarkan pengalaman masa kecilnya.

Ceritanya berawal ketika berusia kurang lebih 4 tahun, ia mengambil mainan LEGO milik kakaknya dan berusaha untuk memasangnya. Permainan ini sebenarnya untuk anak usia 6 tahun ke atas, tapi Andre tidak mengetahuinya. Ia tidak mengerti mengapa anak usia 6 tahun mampu, sedang ia tidak mampu. Ia hanya mencoba dan mencoba, tapi selalu gagal.

Orangtua Andre ada di ruangan itu mengamati rasa frustrasi anaknya. Mereka dibuat bingung oleh rengekan Andre soal LEGO itu, namun tidak tahu bagaimana cara merespon si Andre kecil. Tanpa sadar ayahnya mengomentari, ”Sudahlah, taruh lagi di tempatnya. Kamu memang tidak bisa belajar apa pun!”

Pada kesempatan lain, ketika Andre mencoba memasang LEGO itu lagi dan gagal, ia ingat kata-kata ayahnya. ”Ayah benar, aku memang nggak bisa belajar apa pun,” pikirnya. Serta merta ia meletakkan LEGO itu tanpa mencobanya lagi dengan lebih keras dan akhirnya memilih mengambil mainan yang jauh lebih mudahdilakukan.

Beberapa tahun kemudian, Andre muda suka sekali mengotak-atik mainannya. Kalau ia sedang mencoba membuka mainan mobilnya dengan obeng dan mentok alias nggak bisa-bisa, kata-kata ayahnya bahwa ia memang tidak bisa belajar apa pun kembali terngiang. Akhirnya ia tidak mau mencoba dengan lebih keras lagi.

Melewati masa-masa mudanya, Andre semakin banyak memiliki pengalaman yang mendukung kesimpulannya bahwa ia memang tidak mampu belajar sesuatu dengan baik. Didasarkan pada serangkaian pengalaman ini, ia sekarang punya imprint bahwa ia memang punya keterbatasan.

Lain ceritanya dengan Heru [juga nama samaran]. Ia punya pengalaman masa kecil yang kelak akan sangat mendukung kehidupannya setelah dewasa.

Ketika berusia lima tahun Heru pindah dari Jakarta ke Jogja dan kebetulan tinggal di sebuah rumah yang banyak pepohonannya. Sebagai anak kecil ia punya rasa ingin tahu yang tinggi dan selalu ingin mencoba apa saja, termasuk memanjat setiap pohon yang ia lihat. Esok harinya, setelah memilih satu pohon yang ingin ia naiki, Heru mulai bergerak dari satu dahan ke dahan berikutnya dan merasa sangat menikmati pengalaman barunya ini. Ketika sudah cukup tinggi, Heru melihat sekeliling, puas dan memutuskan sudah waktunya untuk turun kembali. Begitu melihat ke bawah, Heru ketakutan setengah mati. Ia memeluk dahan besar dengan kuat dan berteriak pada ibunya yang sedang bekerja di dapur, “Ibu… tolong, aku nggak bisa turun!”

Ibunya berlari ke pekarangan, terkejut serta takut karena anaknya berada di atas pohon yang cukup tinggi. Namun ibunya dengan tenang berkata, “Heru, pegang erat-erat dahan itu nak… Ya begitu… bagus! Kamu kan sudah bisa naik sampai di situ. Kalau kamu tahu jalannya naik ke atas, tentunya kamu bisa menemukan jalan turunnya. Bisa kakimu turun sedikit… dan rasakan dahan yang agak kuat yang bisa menahan tubuhmu?”

Heru merasa tenang mendengar suara ibunya. Ia merasa memiliki kemampuan, karena sudah berhasil memanjat pohon sendiri. Ia mulai mencari cara untuk turun, pelan-pelan dan hati-hati, sampai akhirnya ia tiba di tanah dengan selamat. Meskipun ia menjadi jauh lebih hati-hati kalau hendak naik pohon, di kemudian hari Heru bisa turun dengan tenang dengan perasaan yakin bahwa ia dapat mencari jalan sendiri.

Kejadian ini menjadi imprint di otak Heru. Ketika ia mulai sekolah dan menemukan tugas yang sulit, Heru teringat ketika ia memanjat pohon, sadar bahwa kalau ia berusaha dan bertanya, akhirnya pasti akan menemukan jalannya. Ia tetap mencoba sampai berhasil, meskipun kawan-kawannya sudah menyerah. Setiap kesuksesan kini menjadi fondasi yang memperkuat imprint Heru bahwa ia dapat belajar dan berhasil menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya.

……..Artkel ini bersambung di bulan Maret 2017

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Februari 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *