Siapakah Anda?

 

Jika pertanyaan itu dilontarkan, umumnya orang akan mengaitkannya dengan perilaku Anda. Dan biasanya orang mengaitkan perilaku hanya dalam konteks yang sangat sempit, misalnya ‘berperilakulah yang sopan’, ‘jaga perilakumu’, ‘perilakunya itu lho!’. Menurut saya, perilaku adalah setiap tindakan, gerakan dan kata-kata seseorang – apakah itu di rumah, di kantor, di depan umum, internal maupun eksternal. Apapun yang Anda lakukan, mulai dari membangun jalan tol sampai dengan melamun, merupakan contoh dari perilaku Anda. Menangis adalah perilaku, memukul juga perilaku dan bahkan diam pun perilaku!
Ringkasnya, perilaku Anda adalah ekspresi SIAPA diri Anda melalui APA yang Anda lakukan.

Lalu, apakah setiap perilaku dilakukan secara sadar? Perilaku manusia, seperti halnya perilaku binatang, menunjukkan bentuk kekhasan spesies. Lihat seekor cicak. Ketika Anda memperhatikan seekor cicak di dinding diam tak bergerak, benar-benar memfokuskan dirinya pada sasaran di depannya – kita sebut sang cicak sedang dalam ‘perilaku mengejar nyamuk‘ – apakah cicak menyadari sepenuhnya apa yang sedang dilakukannya saat itu? Saya kok ragu. Apakah cicak tersebut sedang berpikir, “Aha .. ini dia aku sedang berperilaku mengejar nyamuk.” Si cicak hanyalah memfokuskan dirinya seratus persen: mendengarkan, memperhatikan, dan mungkin membaui pada satu area tertentu. Itu adalah perilaku cicak.

Demikian pula dengan perilaku manusia. Ketika Anda sedang asyik melakukan sesuatu – apakah itu menonton pertunjukkan drama, melakukan smash pada pertandingan badminton atau mungkin sedang mengganti popok bayi – Anda mengkonsentrasikan seluruh panca indera Anda ke satu arah. Sadarkah ketika Anda melakukan hal-hal itu? Saya tidak yakin. Bisa jadi Anda tidak sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi di sekitar Anda.

Apa artinya? Perilaku adalah tindakan Anda sehari-hari. Tindakan yang sebagian Anda sadari dan sisanya tidak. Banyak perilaku yang tidak Anda sadari ketika terjadi, otomatis dan diluar kendali Anda sepenuhnya. Ini penting untuk diketahui, mengingat sering orang mengartikan perilaku sebagai suatu hal yang selalu disadari. Atau paling tidak, seseorang bisa mengeremnya saat perilaku itu sedang atau akan muncul.

Misalnya, saya kerap mendengar orang mengkritik pola makan orang yang kegemukan. “Sudah tahu badannya gemuk, makannya banyak pula.” Saya ragu orang yang kegemukan tidak tahu bahwa dia harus mengurangi porsi makannya. Besar kemungkinan dia tahu, namun saat di meja makan, secara sadar, dapatkah dia mengendalikan perilaku makannya?

Serupa dengan peminum. Dalam keadaan sadar, saya rasa hampir semua peminum tahu bahwa menenggak alkohol selain mahal, juga kurang baik untuk kesehatan dan membuat kecanduan. Namun, mengapa mereka tetap melakukannya juga?

Terlalu banyak minum alkohol, hobi makan makanan berlemak, menggigiti kuku – perilaku atau habits semacam ini seringkali dilakukan tanpa disadari oleh yang bersangkutan. Kita bisa memberi ratusan contoh dari perilaku-perilaku semacam ini.

Lucunya, perilaku yang tidak Anda sadari adakalanya justru nampak jelas di mata orang lain. Banyak dari Anda mungkin punya pengalaman melihat perilaku Anda melalui mata orang lain – misalnya ketika ada orang menirukan perilaku atau cara bicara Anda. Anda mendengarkannya secara takjub, tidak percaya. “Apa benar saya seperti itu?”

Seorang kawan menirukan kebiasaan Anda, menggambar sebuah karikatur, berjalan seperti Anda, pesan minuman kesukaan Anda serta berbicara dengan logat seperti Anda. Anda terheran-heran mendapatkan bahwa ada banyak hal tentang diri Anda yang jelas nyata buat orang lain, tapi tidak buat Anda. Ini bukan karena Anda tidak mengenali ciri khas Anda, cuma Anda tidak pernah benar-benar memikirkannya sebelumnya.

***

Lebih jauh tentang perilaku dan bahasan menarik lainnya? Temukan dalam buku karangan
RH. Wiwoho, REFRAMING edisi revisi dan ekspansi, di Gramedia & toko buku terkemuka lainnya.

 

January 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *