Sleight of Mouth (Bag.1)

Mulai bulan ini hingga beberapa bulan ke depan, kami akan menghadirkan tulisan tentang Sleight of Mouth atau kepiawaian bicara. Tulisan ini diambil dari buku REFRAMING edisi Revisi & Ekspansi-nya Pak Wiwoho.

Sleight of Mouth merupakan pemanfaatan lebih lanjut dari teknik Reframing, khususnya untuk membongkar keyakinan seseorang.

Bagi Anda yang baru mengenal NLP, ada baiknya membaca buku Reframing secara menyeluruh untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai topik kita kali ini. Selamat membaca.

SLEIGHT OF MOUTH
(1)

Bahasan kita sekarang adalah bagaimana memanfaatkan reframing untuk aplikasi yang sedikit lebih canggih, yakni: melunturkan atau membongkar keyakinan seseorang. Robert Dilts, yang mengamati pola-pola Richard Bandler dalam sebuah seminarnya, menamakannya sebagai Sleight of Mouth (Kepiawaian Bicara).

Istilah Sleight of Mouth mengingatkan kita pada Sleight of Hand (Kecepatan Tangan) dalam pertunjukan sulap. Di tangan seorang pesulap andal, sederetan kartu bisa berubah dalam hitungan kedipan mata. Misalnya, awalnya audiens ditunjukkan sebuah kartu tujuh hati, lalu ketika si pesulap meraba kartu tersebut serta merta kartunya berubah menjadi As Keriting, dst.

Secara singkat, Sleight of Mouth (SM) adalah komentar, pertanyaan, atau respon-respon pendek serta tajam yang dirancang untuk membongkar keyakinan seseorang. Dalam bidang sales, SM bisa digunakan untuk menangani keberatan (objection) pembeli, sehingga yang bersangkutan mengkaji kembali keberatannya dan akhirnya membeli.

Kalau Anda cukup jeli memanfaatkannya, Anda mampu mengubah keyakinan seseorang cukup hanya dengan mengajukan satu atau dua pertanyaan saja. Namun di sisi lain SM bisa sangat berbahaya. Kalau Anda mengancam keyakinan seseorang, bisa jadi ia malah menjadi sangat defensif, dan akhirnya menolak mentah-mentah. Apalagi bila ia merasa terhina dan diletakkan pada situasi yang tidak mengenakkan. Jadi, gunakan SM dengan anggun, berseni dan welas asih.

Menggunakan SM

Alasan mengapa SM sangat ampuh, yakni karena SM bekerja pada level yang lebih tinggi dibandingkan kata-kata yang diucapkan. Itulah sebabnya dampaknya mampu meruntuhkan landasan keyakinan seseorang.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bahas terlebih dulu tentang keyakinan dan bagaimana cara mengenali keyakinan seseorang. Umumnya orang menyatakan keyakinannya lewat dua cara (untuk lebih lengkapnya, baca buku saya Understanding NLP), yakni:

Pertama, orang menyatakan keyakinannya lewat apa yang disebut sebagai ‘Kesetaraan yang Kompleks’ (Complex Equivalency), dimana A = B (A sama dengan B). Seperti pada pernyataan ini: Joni adalah seorang pecundang (Misalkan, Joni adalah A dan pecundang adalah B, maka A = B). Contoh lain: (1). Tati adalah seorang pecandu kerja; (2). Coklat adalah musuh besar wanita langsing; (3). Saya tidak akan pernah bisa mahir dalam hal ini, dsb.

Contoh-contoh di atas disebut sebagai keyakinan, bukan kenyataan. Kenyataan atau fakta adalah hal-hal yang tak terbantahkan, misalnya: Rumput adalah benda berwarna hijau; Tembok ini adalah tembok yang dicat dengan warna merah.

Kedua, keyakinan kerap dinyatakan dengan rumusan ‘Sebab – Akibat’ (Cause and Effect). Misalnya, (1). Berbicara dengan bos saya membuat saya grogi; (2) Bercakap dengan wanita cantik adalah hal yang menakutkan; (3) Menjalankan usulan itu menjadikan saya terlihat tolol, dst.

Sebelum mempelajari SM, ingat-ingatlah dalam benak: Ini adalah hal yang sederhana, namun ampuh. Juga mohon diingat bahwa orang tidak senang kalau keyakinannya ditentang atau ditantang. Jadi, selain membangun kedekatan hubungan (building rapport), Anda juga harus memperhalus (soften) setiap pola SM yang akan Anda gunakan.

Sebelum kita masuk pada pokok bahasannya, saya minta Anda mengambil sehelai kertas dan buatlah daftar periksa atau check list, apa saja keyakinan-keyakinan Anda, khususnya hal-hal yang tidak mendukung tindakan Anda, yang akhir-akhir ini mudah dikenali. Yang harus Anda lakukan hanyalah bertanya pada diri sendiri: Apa yang sulit untuk saya lakukan? Silakan, waktunya 10 menit.

Penghalus

Sleight of Mouth bisa sangat kasar, tajam dan berbau tantangan. Itulah sebabnya, Anda harus ‘memperhalus’ dulu sebelum menggunakannya.

Dengan menggunakan kalimat penghalus atau pelembut, Anda mengambil jarak terhadap aspek-aspek konfrontatif dari sebuah SM, dan memudahkan memasukkannya ke dalam bingkai percakapan. Meski banyak cara untuk memperhalus kalimat, umumnya penghalus bisa dimasukkan ke dalam tiga kategori besar, yakni dengan:

1. Mengutip orang lain

Misalkan: “….. Ibnu berkata bahwa Anda kurang memperhatikan keteledoran Anda….”

2. Mengutip diri sendiri

Misalkan: “ …. Saya penasaran, kalau saya menjadi Anda … apakah saya akan dikategorikan sebagai orang yang kurang memperhatikan keteledoran saya…”

3. Mengandaikan ciri-ciri yang bisa diterima

Misalkan: “….. Anda kelihatannya seperti seseorang yang ingin langsung pada tujuan, dan dengan pemikiran demikian dalam benak Anda, Anda menjadi kurang memperhatikan keteledoran Anda….”

Penghalus bisa dikombinasikan. Bila Anda ingin menggunakan ‘mengandaikan ciri-ciri yang bisa diterima’ dan ‘mengutip orang lain”, Anda mungkin bisa mengatakan: “Karena Anda adalah seseorang yang berkarakter dan ingin mendengar kebenaran, Ibnu bisa saja mengatakan bahwa Anda adalah orang yang kurang memperhatikan keteledoran Anda.”

Selain tiga di atas, kalimat penghalus lain bisa berbentuk:

“Saya punya adik yang berkeyakinan…. dan kemudian ia menyadari….. (masukkan SM-nya)”
“Ini kedengaran tolol tapi….. (masukkan SM-nya)”
“Saya ingin tahu apa sesungguhnya …..(masukkan SM-nya)”
“Biarkan saya bertanya pada Anda tentang….. (masukkan SM-nya)”
“Saya cuma penasaran … (masukkan SM-nya)”

Latihan: Sekarang, tugas Anda adalah menuliskan tiga pernyataan keras atau sesuatu yang tidak mengenakkan Anda, lalu gunakan tiga penghalus yang sudah dibahas di atas.

Bulan depan: Pola-pola Sleight of Mouth

 

April 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *