Sleight of Mouth (Bag.9)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Praktik di Kelas Praktik di Kelas

Baiklah. Setelah kita membahas secara panjang lebar pola-pola Sleight of Mouth, sekarang berlatihlah dengan kawan yang duduk di sisi kiri Anda. Caranya berlatih: Satu orang mengajukan keyakinan yang membelenggunya, dan partnernya memberikan SM nya. Setelah itu bergantian. Usahakan untuk memberi contoh-contoh faktual dari masalah yang Anda hadapi sehari-hari. Waktunya 30 menit. Be your Best!
*****
Saya mengamati bahwa dalam latihan berpasangan, hampir  semuanya bisa dengan sangat cepat mengenali pola-pola keyakinan partnernya.
Marilah sekarang kita berlatih dengan kasus-kasus nyata. Anda memberikan ‘keyakinan yang membelenggu’ (limiting belief) dan siapa saja boleh memberikan SM nya. Pilih yang paling pas dan karena ini latihan, ungkapkan secepat mungkin agar nantinya Anda terbiasa melakukannya. Untuk sekarang ini, Anda tidak perlu memikirkan penghalus atau pelembutnya, nanti Anda bisa membuatnya sendiri di rumah atau di kantor seusai lokakarya ini. Anda juga boleh menggunakan istilah Inggrisnya kalau itu memudahkan Anda. Silakan!
Dika: Baiklah, saya seorang trainer juga sekaligus pemilik sebuah Lembaga Pelatihan SDM. Kami sering mendapatkan penolakan/keberatan dari calon peserta progam kami. Bentuknya biasanya satu diantara kedua hal ini:  ”Saya tidak mampu bayar untuk mengikutinya.. atau “Saya tidak punya waktu…”  Ada yang bisa bantu saya?
Soni: (Intent) “Bayangkan berapa banyak uang yang bisa Anda tabung ketika Anda meningkatkan pendapatan Anda.”
Caca: (Redefine) “Ini bukan soal waktu atau uang yang memberatkan Anda, namun keengganan Anda untuk memodali diri Anda.”
RHW: Bagus. Ada yang lain?
Dodi: (Chunk Up) “Saya tahu sebuah keputusan buruk dapat sangat mahal ongkosnya. Apakah Anda benar-benar ingin membiarkan ketakutan Anda pada hal yang tidak familier, menarik Anda kebelakang dari suatu hal yang Anda ingin lakukan?”
GunGun: (Chunk Down) “Bukankah hal yang memungkinkan meningkatkan kehidupan Anda, dan masih punya waktu untuk melakukan hal-hal rutin sehari-hari yang memungkinkan Anda mempengaruhi keputusan-keputusan Anda?”
Fani: (Metaphor/Analogy) “Bila seorang petani menginvestasikan waktu dan uangnya didalam menanam benih untuk menghidupi keluarganya, apakah itu artinya ia mengambil sebuah keputusan yang buruk?”
RHW: Lanjutkan.
Gari: (Another Outcome) “Pokok persoalannya bukan apakah Anda bisa atau belum bisa melihat diri Anda berada disana, namun lebih pada apakah Anda menganggap diri Anda berharga untuk dimodali.”
Hana: (Consequence) “Anda tahu, memiliki sebuah keyakinan semacam itu mungkin membuat tidak punya uang hanyalah persoalan waktu.”
“Keyakinan-keyakinan seperti itu ongkosnya lebih mahal daripada yang Anda kira, karena hal itu menjegal Anda mengeksplorasi opsi-opsi lain.”
“Keyakinan-keyakinan seperti itu menjadi Anda termakan sumpah (self-fulfilling prophecies) diri sendiri karena hal itu menyita waktu untuk mempertahankannya.”
RHW: Wow. Hana bisa membuat tiga SM dalam satu tarikan napas! Ayo, siapa lagi?
Lin: (Hierarchy of Criteria) “Tidakkah Anda berpikir bahwa adalah hal yang lebih penting untuk memfokuskan diri pada apa yang Anda inginkan dalam hidup, ketimbang berapa banyak waktu atau uang yang Anda harus alokasikan untuk mencapai kesana?”
Jaka: (Apply to Self) “Itu keyakinan mahal yang harus Anda bayar untuk menggenggamnya.”
“Bayangkan apa yang mampu Anda pikul jika Anda tidak membuang waktu dengan keyakinan-keyakinan macam itu.”
RHW: Mengagumkan! Anda semua sudah mulai lancar memakai pola SM. Ada lagi yang ingin mengajukan keberatan atau keyakinan yang selama ini membelenggu Anda?
Atep: Bagaimana cara menggunakan SM untuk menghadapi pernyataan keyakinan dari seorang remaja wanita yang rumusannya ‘Kesetaraan yang Kompleks’ seperti misalnya: “Kamu terlambat lagi, artinya kamu tidak cinta aku.”Bondan: Boleh saya borong semua SM nya? Saya biasa nih menghadapi cewek macam ini!Hari: Silakan. Mari kita dengar curhat mantan playboy!Bondan: Ha..ha. ha.. Inilah SM saya.
(Intent) “Aku senang kamu cukup perhatian padaku dengan memperdulikan hal itu.”
(Consequence) “Kamu baru saja mencoba untuk membuatku pas dengan skedulmu.”
(Another Outcome) “Apakah kamu lebih suka aku membatalkan makan malam kita, kalau aku tahu aku bakalan terlambat?”
(Counter Example) “Pernahkah kamu mencintai seseorang, namun masih saja datang terlambat?”
(Apply to Self) “Tuduhan semacam itu membuat kedengarannya kamu tidak lagi cinta padaku.”(Reality Strategy) “Bagaimana kamu bisa sampai kesimpulan macam itu? Apakah seseorang pernah menuduhmu hal mirip seperti itu?”
(Model of the World) “Aku menduga bahwa ini bukan benar-benar tentang keterlambatanku, namun kamu perhatian tentang diriku yang tidak memfokuskan pada hal-hal kecil dalam hubungan kita.”
(Meta Frame) “Darimana kamu belajar bahwa tepat waktu identik dengan cinta?”
(Change Frame Size) “Banyak orang yang terlambat hadir dalam rapat-rapat setiap hari… apa yang ingin kamu katakan bahwa tak satupun dari mereka perduli?”
(Hierarchy of Criteria) “Bukankah yang lebih penting adalah bahwa aku benar-benar berupaya untuk hadir disini, lepas dari segala sesuatu yang terjadi sepanjang perjalanan kemari?”
(Chunk Down) “Bagaimana tentang waktu-waktu lain dimana aku sudah datang tepat waktu?”
(Chunk Up) “Apakah kamu menghakimi keseluruhan hubungan kita didasarkan pada absensi waktu?”
(Metaphor/Analogy) “Tidakkah itu seperti mengatkan bahwa kalau kamu tidak memasak untuk aku setiap saat, kamu tidak lagi sayang padaku?”
(Redefine) “Kamu mengatakan bahwa sebuah keterlambatan sedikit mengartikan keseluruhan hubungan kita?”
RHW: Luar biasa! Mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk Bondan. Ada yang lain?
Cici: Bagaimana cara menghadapi orang yang kelihatannya memiliki kriteria (nila-nilai) yang amat tinggi dan sulit untuk dihadapi. Misalnya, adik saya sering punya keyakinan: “Saya tidak akan melakukan hal itu – saya bukan tipe/jenis orang seperti itu”
Ninda: Saya tidak mau kalah dengan Bondan. Saya akan berikan semua SM yang saya miliki… (seluruh peserta bertepuk tangan…).
(Intent) “Hebat sekali bahwa kamu membuat keputusan berdasarkan pada bagaimana kamu memandang dirimu sebagai seseorang.”
(Consequence) “Mengapa kamu fokus pada keputusan-keputusan yang menghindari kamu pergi meninggalkan rumah?”
(Another Outcome) “Namun kalau kamu tidak melakukannya, bisakah kamu berharap berkembang menjadi orang yang seperti kamu dambakan?”
(Counter Example) “Pernahkah kamu melakukan sesuatu yang kamu pikir itu bukanlah “kamu”, meski begitu kamu benar-benar menyukainya?”
(Apply to Self) “Kamu bukan jenis orang yang terlalu awal menghakimi, namun disini, kamu terlalu awal menghakimi.”
(Reality Strategy) “Dan persisnya kamu harus jadi jenis orang yang seperti apa untuk melakukan hal seperti itu?”
(Model of the World) “Apakah setiap orang yang takut mencoba sesuatu yang baru mengatakan seperti itu?”
(Meta Frame) “Kamu cuma berkata seperti itu karena kamu takut apa yang mungkin dipikirkan orang-orang lain.”
(Change Frame Size) “Ya, persis. Hanya orang yang benar-benar berpikiran terbuka akan melakukan hal itu.”
(Hierarchy of Criteria) “Mana yang  lebih penting, mencoba hal-hal baru dan memperluas cakrawalamu atau bermain aman dan membatasi diri pada zona nyaman yang sempit ini?”
(Chunk Down) “Hal itu akan menjadikan orang macam apa, persisnya?”
(Chunk Up) “Apakah kamu selalu menghindari mencoba hal-hal baru dengan ciri memaafkan diri?”
(Metaphor/Analogy) “Orang tidak dilahirkan menjadi astronot.”
(Redefine) “Kamu tidak harus membelenggu identitasmu dengan beberapa tindakan-tindakan.”
RHW: Ini juga luar biasa. Mari kita beri applause pada Ninda! Ia melakukan sama baiknya dengan Bondan. Selanjutnya?
Emilia: Katakan saja seseorang satu atau dua kali terlambat masuk kerja dan bosnya memanggil yang bersangkutan, merasa geram dan mengatakan: “Anda terlambat, itu menunjukkan bahwa Anda tidak perduli dengan pekerjaan.” Ada yang bisa bantu saya? Tidak usah dengan pelembut atau penghalus, biar saya catat dulu, nanti dirumah saya akan buat pelembutnya. Ini terjadi pada sepupu saya, dan ia stress berat karenanya.
Vivi: Baiklah, saya ikut urun rembug empat SM untuk Emilia, barangkali ini bisa membantu sepupunya.
(Reality Strategy) “Bagaimana Anda tahu bahwa keterlambatan dan keperdulian adalah hal yang sama?”
(Model of the World) “Banyak orang yakin bahwa perduli ditunjukkan dengan kualitas kerja dan hasil-hasil yang didapat.”
(Counter Example) “Kita semua tahu orang yang selalu datang tepat waktu dan masih saja keliru begitu mereka datang.”
(Intent) “Tujuan saya bukan terlambat atau tidak perduli namun memberi Anda kualitas waktu kerja terbaik dan produktivitas tertinggi pada saat saya berada disini.”RHW: Bagus. Keempatnya bagus, hanya perlu diberi pelembut/penghalusnya saja. Silakan selanjutnya.
Gurnadi: Saya idem dengan Vivi. Ingin bantu empat juga.
(Redefine) “Itu bukan keterlambatan, saya terjebak macet dijalan.”
(Chunk Up) “Apakah Anda sedang mengatakan bahwa aspek-aspek terpenting pekerjaan saya adalah dengan datang tepat waktu?”
(Chunk Down) “Bagaimana persisnya keterlambatan dan ketidak perdulian adalah hal-hal yang sama?”
(Metaphor/Analogy) “Kalau seorang dokter ahli bedah pulang terlambat untuk makan malam dengan istrinya karena ia menyelamatkan nyawa seseorang, apakah itu artinya bahwa ia tidak perduli tentang masakan istrinya?”
Hariyanto: Saya cuma punya tiga.
(Another Outcome) “Pertanyaan sesungguhnya bukanlah apakah saya terlambat atau perduli. Pertanyaan sesungguhnya adalah berapa banyak yang sudah saya hasilkan buat perusahaan.”
(Consequence) “Kalau saya tidak terlambat saya tidak akan dapat menutup penjualan sementara saya sedang makan pagi itu.”
(Hierarchy of Criteria) “Bukankah lebih penting fokus pada seberapa besar orang memberi pada saat di tempat kerja ketimbang ketepatan waktu?”
Indy: Saya kira sepupu Emilia harus ekstra hati-hati membuat pelembutnya karena yang dihadapi adalah bosnya. Salah memilih pelembut, barangkali bisa mengancam karirnya. Saya juga punya tiga pola SM.
RHW: Indy benar. Seperti yang sudah saya tekankan sebelum kita membahas Sleight of Mouth ini, Anda harus ekstra hati-hati menggunakannya. Berlatihalah dengan pelembutnya sebanyak mungkin dan lihat konteks pemanfaatannya. Artinya, Anda sedang bicara dengan siapa, apakah situasinya menguntungkan untuk berbicara, kapan yang waktu yang tepat untuk mengutarakannya dst. Silakan Indy, ajukan tiga SM Anda.
Indy: Saya ingin menggunakan Apply to Self, Change Frame Size dan Meta Frame.
(Apply to Self)  “Oh Tuhan, saya berharap Anda cukup peduli pada saya, dengan mengatakan hal ini lebih awal.”
(Change Frame Size) “Dengan berjalannya waktu, Anda akan tahu bahwa saya membawa banyak proyek dengan waktu yang lebih canggih untuk perusahaan, dibanding dengan orang-orang yang hadir tepat waktu.”
(Meta Frame) “Banyak perusahaan-perusahaan modern menerapkan aturan waktu yang fleksibel untuk menghasilkan produktivitas tertinggi. Saya selalu berpikir bahwa Anda adalah seorang manajer yang  berpikiran kedepan.”
RHW: Hebat. Hebat sekali. Anda semua bisa dengan cepat menguasai pola-pola SM. Pesan saya, berlatihlah sebanyak mungkin lewat kasus-kasus yang berbeda. Khususnya dalam menggunakan kalimat penghalus atau pelembut, lancarkan dengan cara berulang-ulang mengubah bentuk pelembutnya. Sleight of Mouth adalah salah satu bentuk reframing yang sangat ampuh bila digunakan dengan tepat. Lagi pula, cakupannya luas mulai dari intrapersonal (melancarkan komunikasi atau mengatasi konflik dengan diri sendiri) sampai pada komunikasi interpersonal baik itu dirumah, pergaulan maupun di tempat kerja.
*****

desember  2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *