Terlalu PD (Bag.1)

Banyak alumni saya yang menanyakan apakah NLP bisa dipakai sebagai landasan membangun bisnis sendiri. Biasanya, respon saya kurang lebih seperti di bawah ini.

Dibandingkan dengan kelompok “orang-orang biasa”, banyak, banyak sekali orang yang menyelesaikan program sertifikasi IndoNLP (Personal Power, Train the Trainer, Managing with NLP, Certification Program, Business Coaching, dan seterusnya) tampaknya berkeinginan untuk berbisnis sendiri: dari menjadi trainer sampai entrepreneur. Mulanya ini saya anggap sebagai dampak positif perubahan “attitude, technique and methodology”. Kini, saya melihatnya sebagai bagian dari “penilaian” mereka yang beranggapan bahwa NLP memungkinkan mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan.

Ada satu hal yang membuat saya penasaran ketika melihat orang yang baru saja menyelesaikan program NLP tiba-tiba memutuskan untuk “melakukan sesuatu dengan NLP”. Apa sesungguhnya yang membuat perubahan mendadak ini?

Keyakinan dan Kompetensi

Saya tidak ragu bahwa banyak orang memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses berbisnis, namun kurang percaya diri (PD), atau tidak punya dorongan untuk bertindak. NLP akan membuat orang lebih PD serta memiliki passion untuk sukses.

Namun, ada orang yang hanya punya mimpi dan meyakini bahwa NLP dapat membawanya ke sana. Perlu diingat, punya seperangkat keterampilan lalu diartikan sama dengan bisa meraih kesuksesan sebenarnya dua hal yang tidak pantas untuk disandingkan.

Punya kompetensi tanpa disertai keyakinan atau rasa PD (percaya diri) memang menjadikan orang kurang berani menerapkan keterampilannya tersebut. Namun, PD tanpa dibarengi dengan kompetensi bisa sangat membahayakan. Dapatkah Anda bayangkan, seseorang yang tidak bisa berenang tiba-tiba nekat nyemplung di lautan luas untuk menolong orang yang hampir tenggelam?

Sepengetahuan saya, orang-orang yang memanfaatkan NLP (sebagai trainer, coach, konsultan, terapis dan sebagainya) dan sukses adalah mereka yang punya pengalaman mengelola organisasi, atau setidaknya pernah menjadi bagian dari organisasi sebelumnya.

Namun, untuk orang-orang yang tiba-tiba melompat dari sebuah posisi di mana mereka tidak biasa mengambil keputusan, melakukan rekrutmen, memecat karyawan, berhadapan dengan konsumen (individu maupun organisasi), menghadapi kontraktor dan membuat kontrak, memasarkan produk/jasa, dan sebagainya, saya kira mesti bersabar sebentar. (Baca buku saya: 10 Penyebab Kehancuran Bisnis).

………Artkel ini bersambung di bulan Desember 2016

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Nopember 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *