
DUA RAHASIA SUKSES
- Sahabat, banyak orang menyebut kata “bahagia” sebagai tujuan hidupnya. Hampir setiap tahunorang akan menuliskan kata itu dalam daftar outcome maupun resolusi tahunan yang hendak
dicapainya. Berhasilkah? Sebagian bisa meraihnya, sebagian lagi jauh api dari panggang alias
gagal mendapatkannya.
Lalu, bagaimana caranya supaya di tahun ini kita bisa benar-benar bahagia? Ada dua opsi yang
dapat Anda lakukan untuk memastikan bahwa tahun ini akan menyenangkan. Pilihan ini memiliki
konsep yang cukup sederhana, namun tidak mudah dilakukan. Semuanya ada di dalam diri Anda,
dalam cara berpikir Anda. Dan ini berkaitan dengan sikap serta niat Anda.
SIKAP BERSYUKUR (GRATITUDE)
Sebagai pengguna media sosial, tentu Anda sering mendapat pesan-pesan positif seperti: Tetap
semangat, jangan lupa bahagia, jangan lupa bersyukur, dsb. Pertanyaannya, sikap bersyukur itu
persisnya seperti apa sih?
Studi menunjukkan bahwa orang yang paling bahagia dan paling sukses di dunia adalah mereka
yang secara konsisten menjalani hidup mereka dengan penuh rasa syukur. Kalau Anda pernah
mendengar kisah inspiratif tentang air di gelas, maka orang-orang yang bersyukur akan melihat
gelas mereka setengah penuh, bukan setengah kosong.
Mari kita ambil contoh. Alam dan Marko sama-sama bekerja sebagai petugas pemadam
kebakaran, sama-sama sudah menikah dan punya anak. Kemiripan keduanya berhenti hanya
sampai di situ, karena kehidupan mereka bak siang dan malam, jauh berbeda. Alam seolah selalu
hidup dalam limpahan kegembiraan dan kesuksesan, sedangkan kehidupan Marko sepertinya
selalu diliputi kesusahan. Dimana letak perbedaannya?
Alam adalah pribadi yang sangat optimistis, yang selalu melihat kebaikan dalam segala hal, dan
selalu bersyukur atas apa yang diberikan kepadanya. Dia bersyukur atas pekerjaan, kesehatan,
keluarga dan teman-teman yang dimilikinya hingga saat ini.
Ketika kesulitan muncul, dengan pikiran terbuka dia menghadapinya secara langsung. Bahkan
dia bersyukur atas kesempatan yang dinilainya bisa dijadikan wahana untuk belajar dan
membantu orang lain itu. Dia percaya bahwa secara spiritual dia sedang dibimbing untuk
menerima tantangan sebagai kesempatan belajar, berbagi dan melayani sesama.
Imbas dari keterbukaan dan kepeduliannya, orang-orang menaruh respek dan mempercayainya,
sehingga bisnis sampingan yang ditekuninya juga mendapat kepercayaan dari orang-orang di
sekitarnya. Tentu saja hal ini menciptakan tambahan penghasilan bagi keluarganya. Selain karena
kewajiban secara finansial, dia bekerja karena menyukai pekerjaannya dan gembira menjalainya.
Sedangkan Marko adalah orang yang terus-menerus mengeluh. Semua hal dianggapnya kurang
baik atau kurang memuaskan baginya. Dia senang mencari kambing hitam atas keadaannya,
tidak bertanggung jawab atas perasaannya sendiri, dan tidak memiliki keyakinan bahwa dia
sedang dibimbing secara spiritual. Dia merasa hari-harinya penuh dengan penderitaan dan
kesialan sepanjang waktu.
Akibat stres yang ditimbulkan oleh pemikiran negatifnya, ia menjadi sering sakit-sakitan.
Bukan hanya itu, kehidupan keluarganya pun mengalami banyak masalah. Alih-alih menikmati
pekerjaannya, setiap kali berangkat kerja ia bersungut-sungut. Semua terasa berat baginya.
NIAT UNTUK BELAJAR (INTENT TO LEARN)
Sesungguhnya alam memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih niat, memilih apa yang
paling penting bagi kita pada waktu atau situasi tertentu. Berkaitan dengan niat, ada dua opsi
yang bisa kita pilih, yaitu:
1) Niat untuk belajar, dengan bimbingan spiritual, tentang apa hal yang paling kita sukai dan
orang lain sukai;
2) Niat untuk melindungi diri dari rasa sakit karena penolakan (pain of rejection), pengabaian,
keterikatan, atau kegagalan melalui beberapa bentuk perilaku pengendalian.
Apapun pilihan kita, hal itu akan menentukan pengalaman kita selanjutnya. Mari kita cermati
kisah Henie dan Asti berikut.
Henie dan Asti sama-sama telah menikah dan memiliki anak. Kedua wanita itu bekerja sebagai
perawat. Mereka berdua memiliki tantangan hidup yang sama, baik dalam pekerjaan maupun
keluarga. Namun, kalau Anda melihat Henie lebih jauh, Anda akan berpikir bahwa dia seolah tidak
peduli dengan dunia.
Henie menerima semua tantangan hidup dengan kesadaran yang kuat bahwa dia sedang dalam
perjalanan spiritual jiwa – sebuah perjalanan belajar untuk menjadi orang yang penuh welas asih,
baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain.
Dia menerima tanggung jawab atas perasaan dan perilakunya sendiri, dan terbuka untuk belajar
banyak hal dari orang lain ketika terjadi konflik. Alih-alih menghindar, dia menyambut konflik
sebagai kesempatan untuk belajar tentang dirinya sendiri dan juga belajar untuk menjadi juru
damai bagi lingkungannya. Karena sikapnya ini, Henie merasakan banyak kedamaian dan
kegembiraan dalam hidupnya.
Di sisi yang lain, Asti merasakan hal sebaliknya. Ia merasa terkunci dalam perjalanan kendali
duniawi. Alih-alih belajar dari konflik, ia justru menghindarinya dengan bersikap pasrah, menyerah
atau memberikan respon marah untuk mengendalikan hasilnya. Boro-boro mengambil tanggung
jawab atas perasaannya sendiri, dia malah mencari kompensasi dengan makan dan minum
berlebihan. Pendek kata, pengendalian adalah majikannya.
Asti sering merasa cemas dan depresi karena niatnya untuk melindungi diri malah menjadi
bumerang baginya. Kini ia terpaksa menjalani pengobatan atau terapi untuk mengatasi
kecemasan dan depresi yang dideritanya.
Dari kedua kisah tadi, kita dapat melihat bahwa bukan keadaan hidup yang membuat Alam dan
Henie mendapat lebih banyak kedamaian dan kegembiraan dibandingkan Asti dan Marko. Alam
dan Henie lebih memilih sikap untuk bersyukur dan niat untuk belajar daripada mengeluh dan
berlindung dari semua kesulitan. Keputusan itulah yang membuat perbedaan diantara mereka.
Nah sahabat, jadikanlah tahun ini sebagai tahun terbaik dalam hidup Anda dengan mengamalkan
dua pilihan ini : bersyukur (gratitude) dan niat untuk belajar (intent to learn) atas semua hal yang
terjadi dalam hidup Anda, pahit maupun manis.
Sumber:
Channel Youtube RH Wiwoho

Link Youtube:
Juni 2022