Membangun Kesan Pertama – Tips NLP untuk para Dokter (Bag. 2)

Artikel ini lanjutan dari bulan sebelumnya jika belum membaca klik disini

 

Sebagai pasien, berbagai pikiran Anda melintas. Terlepas dari simptom dan gangguan atau rasa sakit yang Anda rasakan, perasaan frustrasi dan bingung, yang pasti Anda merasa percakapan Anda terus menerus diinterupsi oleh si dokter.

Kesan pertama yang muncul ketika Anda memasuki ruang periksa dan si dokter enggan menoleh, barangkali, adalah bahwa secara insting Anda merasakan adanya sesuatu yang “tidak beres”, meskipun sulit menjabarkannya dengan kata-kata. Dalam bahasa NLP, ada semacam kualitas submodality kinestetik: panas, berat, bergerak dan intensitasnya tinggi. Bisa dipastikan hal ini tidak nyaman buat Anda. Antonio Damasio, seorang pakar neurosains menyebutnya sebagai somatic marker, dan dia percaya bahwa ini merupakan learned response yang bertindak sebagai alarm otomatis, sinyal komunikasi psikofisikal yang artinya bisa: “Bahaya… Cepat lari!”

“Somatic markers merupakan pengalaman yang berpasangan”, kata Antonio. Dengan kata lain, kita belajar merasakan satu hal jika Ayah kita tidak pernah memberi pujian atas keberhasilan kita, dan satu hal lain jika Ibu memberi senyum manis setiap kali ibu memandang kita. Dalam kehidupan selanjutnya, kita temukan hal ini, baik lewat interaksi dalam satu kelompok maupun dengan kelompok lainnya. Masing-masing pengalaman ini kita rasakan sebagai distingsi kinestetik atau somatic marker. Dan masing-masing marker (penanda) ini di kemudian hari dapat dipicu oleh tatapan, kata-kata, kualitas suara seseorang yang mengingatkan kita akan pengalaman-pengalaman awal tersebut.

Pemicu tersebut mungkin muncul secara spontan/mendadak, lama setelah pengalaman awal dilupakan. Hanya kemudian pada saat komplain dan atau ditanya oleh pihak manajemen rumah sakit, kita mencoba merasionalkan jawaban kita dengan misalnya mengatakan, “Dokternya kelihatan tidak perduli sama sekali”; “Dia terlalu sibuk untuk bersedia mendengarkan kata-kata saya”; “Saya mencoba memberitahukan bahwa saudari saya telah meninggal, tapi dia terus saja memotong pembicaraan saya.”

(Beberapa pengacara, terutama di luar negeri, benar-benar terlatih untuk membantu klien mereka “menerjemahkan” somatic markers ini ke dalam litigasi atau bahasa pengadilan; jadi berhati-hatilah!)

Stimulus-respons otomatis seperti ini dalam NLP disebut “jangkar” (anchor). Tidak mungkin untuk mengetahui berapa banyak anchor yang telah dibangun seseorang selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya, dokter perlu melakukan sesuatu untuk meminimalkan respon-respon yang mungkin akan merugikan buat orang yang sedang dibantunya.

Hampir tidak mungkin untuk benar-benar menghindari respon tersembunyi yang muncul dari masa lalu pasien, namun tiga saran berikut bisa membantu meningkatkan kualitas relasi dokter-pasien, yakni:

  1. Para pasien mengharapkan dokter menunjukkan bahwa mereka benar-benar peduli, dengan memberi kehangatan/keramahan, minat dan perhatian penuh.
  2. Membantu pasien “merasa lebih nyaman” merupakan faktor penting dalam membantu mereka merasa sembuh.
  3. Pasien cenderung enggan menuntut secara hukum dokter yang mereka sukai, bahkan ketika sebuah kesalahan profesional muncul.

Bagian penting dari konsultasi yang efektif adalah hubungan saling menghormati (respek) antara pasien dan dokter, dan begitu hal ini terjalin, selanjutnya hubungan ini dilanggengkan oleh medium komunikasi: verbal maupun non-verbal. Komunikasi verbal terjadi ketika tukar menukar kata antara dokter dan pasien. Komunikasi non-verbal ditunjukkan lewat: 1) penampilan dan 2) suara.

 

Penampilan Anda

Penampilan adalah faktor terpenting untuk memperoleh kesan pertama yang baik. Meski masih sering diperdebatkan tentang wajib-tidaknya seorang dokter mengenakan jas putih, para pakar komunikasi sepakat bahwa para pasien mengharapkan ahli kesehatan (termasuk dokter) berpakaian rapi dan sopan: mengenakan setelan yang rapi dan serasi, kemeja polos dan dasi untuk pria, serta blazer dan rok untuk wanita. Baik dokter pria maupun wanita harus menghindari corak busana yang ramai atau warna yang terlalu menyolok, perhiasan yang berlebihan dan sepatu yang tidak disemir. Banyak pasien yang tidak suka pada gaya rambut seorang dokter yang terlalu berlebihan atau terlalu trendi.

 

Suara Anda

Orang umumnya tidak terlalu perduli dengan kualitas suaranya karena mereka menganggap bahwa itu adalah bawaan dari lahir, sampai mereka terpana ketika mendengar rekaman suaranya sendiri untuk pertama kalinya. Meskipun begitu, tetap saja hal itu tidak cukup mendorong seseorang untuk menganggap bahwa suara adalah salah satu komponen komunikasi yang paling vital.

Mari kita renungkan hal ini: dalam waktu kurang dari satu menit, suara Anda akan memberitahu tinggi badan Anda, berat badan, ukuran tubuh, jenis kelamin, usia dan pekerjaan, kadang bahkan orientasi seksual Anda – sesuatu yang sesungguhnya tak kasat mata. Seperti yang dikatakan Anne Karpf dalam The Human Voice, “Kita melakukan sesuatu yang sangat intim setiap kali kita berbicara.”

Seperti halnya sebuah alat berat, suara perlu dirawat dan dilindungi jika diharapkan dapat melakukan tugasnya secara efektif. Jika Anda tidak puas dengan kualitas suara Anda dan tidak dapat memperbaikinya dengan beberapa saran di bawah ini, mungkin ada baiknya Anda berkonsultasi dengan voice coach untuk memperbaiki presentasi dan menghindari kerusakan pita suara Anda.

Dua faktor yang sangat mempengaruhi kerusakan suara adalah: pernapasan yang tidak tepat dan dehidrasi. “Jika Anda tidak bernapas menggunakan daerah perut Anda (pernapasan diafragma), maka suara Anda tidak mendapatkan dorongan dan kekurangan tenaga,” kata para pakar. “Ini sama dengan pengosongan energi. Minumlah satu setengah liter air (bukan air yang bersoda, teh atau kopi) setiap harinya untuk memberikan cukup cairan,” saran mereka.

 

Sumber :
Buku # 2  dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

 

………Artkel ini bersambung di bulan Mei  2019

 

 

 

April  2019