Membangun Kesan Pertama – Tips NLP untuk para Dokter (Bag. 5)

Artikel ini lanjutan dari bulan sebelumnya jika belum membaca klik disini

 

Pada titik ini, pasien telah merasa nyaman, selanjutnya kita lemahkan (depotentiate) dengan wahana linguistik lain yang disebut sebagai “bingkai negatif” (negative frame). Ini adalah pola bahasa yang menimbulkan respon negatif, namun masih tetap dalam bingkai persetujuan. Contohnya:

“Baiklah, mari kita teruskan karena Anda tidak ingin menunggu lebih lama lagi, kan?” (Tidak – berarti, “saya setuju”.)

Ringkasnya, rumusan untuk yes-sets dan negative frames adalah sebagai berikut:

Kebenaran (Truism) + 2. Kebenaran (Truism) + 3. Kebenaran (Truism) + Bingkai Negatif (Negative Frame)

 

Rumusan sebuah negative frame: dimulai dengan sesuatu yang menyenangkan (“langsung melanjutkan”), tambahkan kata “karena”, dan ikuti dengan sesuatu yang tidak diinginkan (seperti “kami tidak ingin menunggu lebih lama lagi”), kemudian tambahkan kalimat tanya: “ya kan?”

Bentuk rumusan bingkai negatif seperti ini:

Tindakan yang diinginkan + “karena” + tindakan yang tidak diinginkan + kalimat tanya [“ya kan?”]

 

 

Keempat, respon yang beralasan

Kata “karena” bertindak sebagai sebuah pencapai keputusan atau tindakan yang kuat – seringkali tidak peduli apa pun keputusan dan tindakannya.

Seorang psikolog sosial Ellen Langer pernah bekerjasama melakukan penelitian dengan pustakawan di universitasnya. Ia meminta pegawai perpustakaan untuk mematikan semua mesin fotocopy dan hanya menjalankan satu mesin saja, sehingga orang harus mengantri untuk menggunakannya. Ketika antriannya sudah panjang, Langer mengirim satu grup yang ia tugaskan untuk menyerobot antrian dan meminta ijin untuk menggunakan mesin fotokopi, tanpa memberikan penjelasan. Sekitar 60% siswa mengijinkan grup tersebut untuk mendahului mereka. Grup kedua meminta ijin untuk lebih dahulu menggunakan mesin, dengan memberikan penjelasan, “Saya terlambat masuk kelas.” Prosentase yang memberikan ijin melonjak menjadi 94%.

Langer menyuruh grup ketiga ke depan antrian dan berpura-pura meminta ijin menggunakan mesin, dengan menjelaskan, “… saya hanya ingin memfotokopi beberapa lembar saja”. Berlawanan dengan dugaan orang, permintaan tersebut samasekali tidak ditolak. Hampir tidak ada seorang pun mengatakan, “Kami tahu. Kami semua di sini juga ingin menfotokopi, jadi tunggulah giliran Anda.” Di sini prosentase sukses hanya turun satu persen saja.

Hal ini, yang juga ditindaklanjuti dengan sejumlah penelitian lainnya, menggambarkan kenyataan (yang kurang menyenangkan) bahwa orang akan merespon pola linguistik pada isi/konten atau makna dari pernyataan/ permintaan tertentu … sepanjang di dalamnya ada alasan. Alasan apa saja… yang penting ada alasan.

Ini menunjukkan bahwa fungsi kognisi manusia seringkali berada dalam keadaan “parkir”. Orang akan lebih merespon pada “bentuk” dari sesuatu ketimbang “makna” dari sesuatu tersebut.

Mudah-mudahan beberapa bukti sekitar “kesan pertama” dan proses “pengambilan keputusan” ini dapat memberi Anda gagasan bahwa tidak cukup hanya menyuruh pasien untuk duduk begitu saja. Berilah alasan dengan kalimat “karena” (misalnya, “karena saya akan segera memeriksa Anda”, “karena saya ingin melihat lebih dekat keluhan Anda”, dan seterusnya).

Rangkuman dari proses membangun kedekatan hubungan (building rapport) dan melakukan pacing-leading untuk dokter adalah untuk meningkatkan “relasi” dengan pasien, dan mengurangi sebanyak mungkin kesalahpahaman atau kecelakaan. Langkah awal dari kontak pertama yang mutualistis (saling menguntungkan) adalah lewat sikap, niat baik, gaya komunikasi, dan perilaku dokter terhadap pasiennya.

Dan, mohon selalu diingat bahwa ketika Anda sedang melakukan pengujian (assesment) pada pasien, si pasien juga sedang melakukan hal yang sama. Diagnosis, sesungguhnya merupakan “komunikasi dua arah”.

***

Latihan:

Agar bisa menguasai teknik-teknik menciptakan kesan pertama yang mengesankan, di bawah ini ada beberapa latihan. 

  1. Yessets merupakan kunci utama agar bisa mahir dalam menguasai topik ini. Baca kembali struktur empat-langkah dan latihlah dengan baik. Buatlah seperti pembicaraan biasa, namun tetap didasarkan pada kebenaran (truism). Kemudian uji efektivitasnya.
  1. Bacalah dengan keras tiga paragraf dari bab sebelumnya. Pada setiap akhir kalimat, latihlah dengan menurunkan alunan nada menjadi lebih rendah (bentuk perintah). Anda dapat merekamnya sebagai sarana pembelajaran.
  1. Latihlah memberi saran atau nasihat pada pasien:
    1. dengan penyampaian ‘ramah’ saja;
    2. dengan penyampaian ‘berwibawa’ saja;
    3. dengan kombinasi ‘ramah’ dan ‘berwibawa’.
  1. Latihlah metode menjalin keakraban dengan cepat (rapid rapport). Misalnya lewat 20 orang yang akan Anda temui beberapa hari ke depan ini.

 

 

Sumber :
Buku # 2  dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

 

 

 

 

 

Juli  2019