
MENGAPA SEBAGIAN BESAR UPAYA PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN GAGAL
- Banyak organisasi menginvestasikan sebagian waktu dan uangnya untuk mengembangkanpemimpin mereka. Sayangnya, hasil dari insvestasi itu banyak yang kurang sesuai harapan. Kok
bisa?
Mari kita cermati cerita berikut.
Ezra, seorang manajer yunior, dipandang sebagai pemimpin yang sedang naik daun di
kantornya. Kolega dan anak buahnya respek padanya. Para seniornya melihat potensi yang ada
pada dirinya, dan mengutusnya untuk mengikuti workshop pengembangan kepemimpinan
perusahaan.
Ezra sangat gembira mendapat kesempatan itu. Dia bertekad untuk maju, berkembang dan
berkontribusi semaksimal yang dia mampu.
Mengikuti workshop adalah langkah positif menuju ke sana. Ditambah lagi dia memiliki
beberapa tantangan dalam pekerjaannya. Jadi, dia berharap bisa belajar bagaimana
menghadapinya dengan lebih baik lagi.
Seminggu sebelum pelatihan dimulai, Ezra menerima email tentang semua detail pelatihan.
Semangatnya kian berlipat, sampai-sampai dia tak sabar menunggu waktunya tiba.
Karena pelatihan itu sangat berarti baginya, dia bertekad untuk fokus selama berada di sana.
Jadi, dia bekerja keras untuk menyelesaikan semua proyeknya sebelum berangkat ke workshop
tersebut.
Ternyata Ezra menyukai workshopnya! Fasilitatornya hebat, kontennya sangat bagus,
teman-teman barunya saling support dan makanannya enak-enak!
Dia sangat termotivasi oleh ide-ide baru dan sharing dari teman-temannya. Dia juga memperoleh
kepercayaan diri sewaktu mempraktikkan beberapa hal yang mereka pelajari.
Di akhir program, dia membuat action plan. Semangatnya luar biasa untuk segera menerapkan
apa yang telah dia pelajari selama dua hari workshop itu.
Setelah Workshop
Ezra bangun keesokan paginya dan melihat action plan-nya. Dia bersemangat karena dia tahu
apa yang akan dia lakukan adalah upaya untuk menjadikannya pemimpin yang lebih baik.
Hal pertama yang dilakukannya setiba di kantor adalah memeriksa pesan suara. Ada 23 pesan
yang harus dia dengarkan satu persatu, dan mencatat hal-hal yang dia anggap penting.
Selesai memeriksa pesan suara, dia beralih membuka email. Ada 91 email yang lagi-lagi wajib
dibaca satu per satu, dibalas serta ditindaklanjuti.
Setelah menyeruput secangkir kopi, Ezra pergi menyapa timnya. Ini memakan waktu cukup
lama karena mereka mengajukan banyak pertanyaan dan hal-hal yang ingin mereka bicarakan
dengannya. Wajar saja, karena telah dua hari dia meninggalkan kantor.
Pada pukul 9:30 dia sudah kembali ke mejanya, siap untuk menangani semua pesan — termasuk
7 email baru yang masuk saat dia menyapa timnya.
Pukul 15:30 dia teringat kembali pada action plan-nya. Dipandanginya catatan itu dengan sedih,
karena dia tahu tak mungkin ia kerjakan hari itu. Waktunya sudah tersita habis. Belum lagi rapat
proyek sudah menunggunya sepanjang hari besok.
Namun demikian, dia masih berkomitmen untuk merealisasikan action plan tersebut, meskipun
dia sendiri tidak yakin apakah dia memiliki waktu untuk itu.
Mengkaji Situasi
Mungkin Anda familiar dengan cerita di atas.
Poin-poin pada bahasan “Setelah Workshop” terlihat sangat ideal: workshopnya dirancang
dengan baik, pesertanya sangat termotivasi, saling support dan bersemangat dengan action
plan-nya.
Memang benar, tidak setiap orang yang menghadiri pelatihan akan bersemangat dan termotivasi
seperti Ezra. Namun hal itu tidaklah penting, karena orang yang sangat termotivasi seperti Ezra
pun tidak bisa mendapatkan apa yang diimpikannya, seperti cerita tadi.
Apa Masalahnya?
Hal itu terjadi karena sebagian besar program pengembangan kepemimpinan berfokus pada
pengembangan kualitas program pelatihan, yang sesungguhnya hanya sebagian kecil dari
sukses yang paripurna.
Ringkasnya, pelatihan adalah sebuah sesi, sementara pembelajaran (termasuk pengembangan
kepemimpinan) adalah sebuah proses.
Kita tidak mungkin mempelajari skills yang penting dan kompleks dalam waktu singkat. Dimana
dalam sekejap kita bisa mendapatkan wawasan, “aha”, dan inspirasi.
Dalam sebuah sesi pelatihan, workshop atau apapun bentuknya, kita mendapatkan ide,
pendekatan, teknik dan pengetahuan secara sekejap.
Sedangkan untuk menguasai keterampilan, perlu waktu yang panjang dan latihan berulang-ulang.
Bahkan kadang memerlukan tantangan yang berbeda-beda.
Bukan hanya lewat satu kali pelatihan — terlepas dari seberapa baik pelatihan itu dirancang, atau
seberapa hebat trainernya.
Keterampilan dikuasai lewat praktik dan jam terbang.
Sekali lagi, pengembangan kepemimpinan adalah sebuah proses. Selama upaya tersebut
dianggap sebagai sebuah sesi, jangan bermimpi akan menghasilkan tingkat pengembalian
investasi yang tinggi.
Sahabat,
Bacalah kembali cerita di atas, lalu kaitkan ke situasi Anda saat ini. Kemudian pikirkan dua hal
yang dapat Anda lakukan untuk membuat proses pengembangan kepemimpinan (baik untuk diri
Anda sendiri maupun organisasi Anda) menjadi semakin sukses.
Selamat mencoba.
Sumber:
Channel Youtube RH Wiwoho

Link Youtube:
MENGAPA SEBAGIAN BESAR UPAYA PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN GAGAL
Desember 2022