NASIHAT UNTUK GURU ONLINE

NASIHAT UNTUK GURU ONLINE

 

*_Agar pembelajaran online tetap nyaman._*

Sahabat, Perubahan situasi dan kondisi dapat berpengaruh pada moda komunikasi, termasuk kegiatan belajar, seperti yang terjadi di masa pandemi saat ini.

Bagaimanapun, kegiatan belajar mengajar tetap harus berjalan. Proses pembelajaran secara online menjadi satu-satunya cara agar kegiatan belajar dapat berlanjut.

Saat mengajar secara online, isyarat visual dan suara menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

Bagi seorang guru, suara adalah harta berharga dan sekaligus senjata utama saat mengajar.

Tetapi ketika memasuki kondisi yang berbeda, guru tidak selalu dapat mengendalikan suaranya. Akibatnya, suaranya terdengar kurang nyaman.

Rebecca Vukovic, dalam sebuah artikelnya di Teacher Magazine (teachermagazine.com.au), menguraikan masalah ini dan memberikan solusinya.

Ia mewawancarai Amy Hume, seorang pelatih vokal dan dosen di bidang suara di Victorian College of the Arts University of Melbourne.

Berikut ini adalah kendala dan solusi yang diungkapkan oleh Hume.

*Bicara Terlalu Keras Saat Mengajar Online*

Ketika memasuki sebuah situasi dan kondisi baru, orang kerap merasa canggung. Guru pun mengalami hal yang kurang lebih sama.

Misalnya, dari pembelajaran secara tatap muka langsung, selama pandemi beralih moda menjadi secara online.

Artinya, yang semula berbicara secara alami, menjadi berbicara menggunakan mikrofon di depan kamera.

Berada di situasi yang baru ini sering membuat guru tidak bisa mengontrol suaranya. Ada kalanya dia bersuara sangat keras. Bisa pula menjadi terdiam tak bisa bersuara.

Ketika keluar dari zona nyaman, sadar atau tidak, seringkali seseorang bersikap berlebihan.

Misalnya, bersuara lebih keras, atau malah terdiam, atau berbicara lebih cepat daripada biasanya. Semua itu bertujuan untuk memastikan bahwa pesannya sampai kepada lawan bicara.

Berbicara keras secara terus menerus, bila dibiarkan dapat menyebabkan  kelelahan vokal (vocal fatique).

Gejala umumnya antara lain kehilangan suara, suara serak, tenggorokan lelah atau gatal, serta nyeri otot di leher atau di laring.

Guru berada pada risiko tinggi untuk mengalami persoalan suara. Dalam sebuah survei terhadap 2.500 guru dan non guru di AS, 58 persen guru dilaporkan mengalami persoalan suara sepanjang hidup mereka. Sementara, yang bukan guru hanya 29 persen saja.

Lalu, apa solusi untuk mencegah atau keluar dari masalah seperti ini?

 

*1. Bergerak dinamis*

Hume mengatakan, banyak guru ketika mengajar secara online merasa bahwa ia harus meninggikan volume suara agar lebih didengar.

Bisa jadi, itu karena mereka tidak menyadari bahwa kamera dan mikrofon sangat sensitif terhadap suara. Ini membuat suara guru terkesan terlalu bersemangat dari biasanya.

Karena tdak terbiasa dengan kamera, maka mereka perlu lebih banyak berkreasi.

Daripada duduk dan hanya wajah mereka yang tersorot kamera, ada baiknya mereka lebih sering mundur sedikit sehingga seluruh tubuh mereka terlihat di kamera.

Dengan demikian, mereka dapat  menggunakan seluruh raga dan bergerak secara dinamis,  bukan hanya berbicara, kata Hume.

Selain untuk menghemat suara, cara demikian juga dapat membantu guru memperkenalkan lebih banyak isyarat visual dan gerakan.

Misalnya, ketika guru hendak menyela pembicaraan murid, dia tidak perlu meninggikan suara untuk didengar. Guru dapat memberi isyarat dengan, misalnya, mengangkat tangan, sebagai tanda hendak bicara.

 

*2. Bicaralah Lebih Lambat dan Lebih Jelas*

Hume menambahkan, sebagian guru dapat mengalami kelelahan vokal karena sering berbicara keras sebagai akibat dari  kesalahpahaman dalam mengelola percakapan secara online.

Kebanyakan orang berpikir bahwa jika mereka tidak didengar atau tidak dipahami, itu karena mereka tidak berbicara cukup keras. Padahal, masalah sebenarnya terletak pada ketidakjelasan ucapan mereka ketika berbicara.

Oleh karena itu penekanan pada diksi dan konsonan, memperlambat kecepatan bicara dan sering mengambil jeda, seharusnya lebih diperhatikan.

Sering berhenti adalah cara yang baik untuk memeriksa apakah yang Anda katakan telah tersampaikan,  dan apakah mereka memahami serta menyimaknya, kata Hume.

 

*3. Jangan Ragu Membuka Mulut*

Salah satu kendala yang membuat suara seseorang terdengar seperti berkumur adalah karena dia tidak membuka mulut dengan semestinya.

Padahal, dengan  membuka mulut membuat kata-kata yang diproduksi terdengar lebih jelas dan bulat.

Gerak bibir juga dapat membantu murid menangkap dan memahami kalimat yang diucapkan sang guru.

Jadi, jangan ragu untuk membuka mulut agar suara terdengar lebih jelas.

 

*4. Gunakan Headset*

Menggunakan headset saat mengajar bisa menjadi salah satu cara untuk menghilangkan tekanan bahwa guru harus berbicara lebih keras agar suaranya sampai ke mikrofon.

Memang perlu penyesuaian bagi yang belum terbiasa. Namun, bila kecanggungan menggunakannya teratasi, dia akan memperoleh eksibilitas lebih luas.

Dia akan dapat berdiri dan bergerak leluasa ketika menyampaikan pelajaran. Persis seperti saat mengajar secara tatap muka di kelas.

Sangat jarang seorang guru memberikan pelajaran hanya dengan duduk saja. Itu sangat asing bagi mereka.

Dengan memakai headset, mereka dapat berdiri dan mundur satu meter ke belakang laptop,  sehingga pelajaran dapat disampaikan sambil berdiri, kata Hume.

Headset juga mampu memberikan  banyak umpan balik secara audio dengan segera.

 

*5. Menyelaraskan Tarikan Nafas*

Mencegah kelelahan vokal dapat dilakukan dengan  menarik nafas dan menyelaraskannya.

Cara ini disebut sebagai diafragma interkostal, yaitu menjaga diafragma bergerak seiring dengan napas.

Hume juga merekomendasikan agar para guru memeriksa lingkungan kerja WFH (working from home) mereka, agar mendukung penggunaan suara yang efektif.

Jika menggunakan laptop, guru dapat melakukan penyesuaian, seperti meletakkan laptop di ketinggian yang memungkinkan kepala dan leher tetap selaras, sehingga tidak harus membungkuk.

Teknik-teknik olah pernafasan, menurut Hume, juga terbukti sangat membantu.

Hume merekomendasikan para guru meluangkan waktu beberapa saat di pagi hari untuk melakukan latihan pemanasan pada suara mereka.

Hal-hal kecil seperti bersenandung lirih, bersiul atau meniup melalui bibir – itu berfungsi sebagai pijatan bagi pita suara. Dan, itu juga jadi semacam persiapan untuk tugas atau pekerjaan hari itu.

 

*6. Istirahat yang cukup*

Hampir semua orang tahu, kurang tidur dapat menyebabkan suara menjadi parau. Tentu ini hal yang harus dihindari, sebagai bagian dari persiapan mengajar.

Dengan istirahat yang cukup, itu artinya memberi kesempatan pada pita suara untuk rileks dan kembali pada kondisi normalnya, sebelum Anda menggunakannya kembali untuk menyampaikan pelajaran.

Kondisi pita suara yang normal, sangat membantu Anda memproduksi kalimat-kalimat dengan jelas.

Nah sahabat, ini saran yang mungkin perlu Anda bagikan kepada guru anak atau cucu-cucu  Anda.

Jika guru dan murid sama-sama nyaman menjalani pembelajaran secara online, materi pelajaran dapat tersampaikan secara efektif bukan?

 

 

Sumber:  
Channel Youtube RH Wiwoho
 

Link Youtube : NASIHAT UNTUK GURU ONLINE

 

 

Maret   2021