Suara Sang Penghipnosis (Bag. 1)

 

“Dan aku ingin kamu memikirkan suatu waktu di masa lalu ketika kamu masih jadi gadis kecil, sangat kecil. Dan suaraku akan menemanimu. Dan suaraku akan berubah menjadi suara-suara orangtua, tetangga, rekan, teman sekolah, teman sepermainan, guru-gurumu. Dan aku ingin kamu mengingat ketika kamu mendapatkan diri duduk di ruang sekolah, seorang gadis kecil yang sedang merasakan bahagia akan sesuatu, sesuatu yang terjadi lama di masa lalu, yang kamu lupakan di masa lalu.”

Milton Erickson

 

Suara adalah elemen krusial dalam proses sugesti dan hipnoterapi. Sembilan puluh persen keberhasilan terapi bergantung pada komunikasi non-verbal, yakni: nada suara, gestur, postur dan keadaan (state) Anda. Erickson menggunakan suaranya dengan keterampilan yang sangat mengagumkan, maka tak heran jika banyak orang berusaha memodelnya.

Sayangnya, informasi tentang teknik menggunakan suara/vokal dalam proses hipnoterapi sangat terbatas, apalagi mencari pelatihannya. Di internet pun Anda akan kesulitan mencari informasinya. Tulisan berikut adalah beberapa tips melatih suara yang berefek hipnosis, sugesti dan terapi.

Jenis Vokal atau Suara

 Berikut adalah manfaat terapis menggunakan variasi vokal/suaranya:

  1. Membangun relaksasi. Suara digunakan untuk membuat rileks klien Anda. Umumnya musik yang membuat rileks adalah musik yang berirama lembut, pelan, tidak terlalu tinggi alunannya dan bebas dari kontras yang mendadak. Sama halnya dengan kualitas suara, suara Anda akan menginduksi relaksasi apabila nadanya berirama, lembut namun tidak monoton, pelan tapi tidak membosankan. Kata “trans” sendiri sebenarnya merupakan sebuah petunjuk (trans artinya antara). Ketika seseorang masuk dalam trans, baik oleh nyanyian ritual, cerita atau dongeng, senandung, musik, genderang maupun mantra-mantra, rujukannya adalah perasaan dibimbing atau diarahkan ke sebuah dunia di mana “perubahan adalah sebuah pilihan”, dan bukan untuk membuat bosan pendengarnya. Tujuan seorang penghipnosis membuat rileks klien adalah untuk membuka sebuah kemungkinan, bukan membuat kliennya tertidur. Dan ini membutuhkan suara yang menenangkan: suara yang hidup dan bervibrasi, bukannya suara yang monoton dan membosankan.
  2. Membedakan suara untuk trans dan non-trans. Kalau Anda ingin punya kontrol/kendali dalam hipnosis, Anda perlu tahu kapan suara Anda mengarahkan orang ke arah trans (unconscious) dan kapan ke pemikiran otak sadar (conscious). Pembedaan yang tidak mutlak harus ada, namun Anda perlu menggunakan nada-nada berbeda untuk masing-masing.
  3. Sugesti hipnosis. Salah satu hal menarik dari Milton Erickson yang diamati oleh para pemodel awal NLP adalah kemampuannya dalam “menandai informasi”, khususnya yang disiapkan untuk diakses di alam bawah sadar lewat penggunaan nada suaranya. Perintah tersirat (embedded commands) dan ketulusan membutuhkan pilihan kata-kata khusus untuk menonjolkannya, tanpa mengganggu aliran ceritanya. Misalnya: “Anda mungkin tidak merasakan diri Anda merasa mengantuk dan pelan-pelan jatuh tertidur” atau “Anda mungkin merasa bermanfaat untuk membaca halaman ini dengan sangat cermat saat Anda memutuskan apa yang paling pas buat Anda untuk mempelajarinya dengan baik.”

Untuk membuat kata-kata penting tertentu menonjol, Anda harus mengekspresikan makna dari kata-kata tersebut lewat cara menyampaikannya. Hal ini menuntut keluwesan menggunakan vokal/suara Anda. Pikirkan, misalnya, bagaimana Anda ingin mengucapkan kata “nyaman” untuk mengekspresikan maknanya dengan sebuah perasaan nyaman di tubuh Anda sendiri. Mungkin Anda perlu memanjangkan vokal pertama “a”, mendinamiskan konsonan “m” dan melembut di akhir kata. Sangat berbeda apabila Anda mengekspresikan kekuatan kata seperti “Kung Fu”, misalnya, dengan tekanan yang berat pada huruf “K”, berdering pada huruf “ng” dan tajam pada huruf “F” dan “u”. Latihlah kedua kata di atas dengan ekspresi yang berbeda-beda serta fokuskan pada makna yang ingin Anda sampaikan. Erickson mengatakan bahwa “bersenang-senang” (having fun) adalah sebuah keadaan terbaik untuk pembelajaran. Ingat-ingatlah petuah Erickson ini bila Anda sedang mempraktikkannya.

Ketika seorang klien sudah terbiasa dengan suara si penghipnosis, maka yang bersangkutan belajar untuk mengaitkan suara-suara tertentu dengan gagasan-gagasan dan sugesti-sugesti tertentu. Milton Erickson terkenal karena kebiasaannya memperpanjang napas ketika mengucapkan frasa “That’s right” (“Itu dia”). Dia menggunakan pada klien-kliennya untuk mendorong perilaku-perilaku tertentu pada saat itu, memberi keyakinan dan memasukkan trans yang lebih dalam. Seorang penghipnosis bisa menggunakan nada-nada yang berbeda untuk pembelajaran berefek jangka panjang, relaksasi, menyampaikan cerita-cerita, membangunkan rasa penasaran/rasa ingin tahu dan seterusnya. Nantinya, nada-nada tersebut bisa digunakan untuk memicu/memunculkan keadaan-keadaan tertentu yang diinginkannya.

  1. Memadukan sugesti dan implikasinya. Memadukan sugesti dan implikasi yang diinginkan oleh penghipnosis akan ampuh bila disampaikan dalam tarikan satu napas. Misalnya, “Sekarang pada saat Anda menumpangkan kedua kaki Anda dan meletakkan kedua tangan pada paha Anda siap untuk masuk dalam trans.”

 

  1. Perintah dan pertanyaan. Perintah tidak langsung (indirect commands) sering disampaikan dalam kalimat-kalimat yang berbentuk pertanyaan. Sedangkan sugesti paska hipnosis (post hypnotic suggestions) seringkali disampaikan dalam bentuk perintah langsung. Anda perlu punya kendali/kontrol alunan naik untuk sebuah pertanyaan dan alunan turun untuk sebuah perintah, serta mampu mengkombinasikan keduanya bila diperlukan.
  2. Levitasi (tangan mengapung/menggantung di udara). Suara yang ringan akan memudahkan levitasi, sedangkan suara yang berat akan membuat relaksasi yang lebih dalam. Tarikan napas (breath in) akan menginduksi levitasi, dan buangan napas (breath out) efektif untuk memperdalam relaksasi. Menggunakan keduanya bisa menginduksi keadaan trans. Sangat bermanfaat untuk punya kemampuan memainkan suara, dari suara yang mantap lalu berubah menjadi seperti berbisik, lalu kembali lagi ke suara yang lebih kuat, dan seterusnya.
  3. Kedekatan hubungan (rapport). Anda pastinya ingin menyamakan (matching) suara klien sejak awal untuk membangun hubungan yang akrab. Dalam trans, suara adalah makna utama dari hubungan. Anda bisa mempertahankan rapport, meskipun klien Anda sedang dalam keadaan diam dan terpejam, lewat cross-matching suara Anda dengan energi dan keadaan (state) sekeliling.
  4. Hubungan dengan alam bawah sadar. Saat Anda mengarahkan klien masuk dalam trans yang lebih dalam, jauh dari pemikiran sadar (kepala), ke dalam cara-cara lain untuk memahami/merasakan (di dalam tubuh), sangat membantu bila Anda memakai suara yang beresonansi dari dalam tubuh Anda.

Perlu digarisbawahi bahwa kualitas suara hipnosis tidak muncul HANYA dari kemampuan teknis semata. Yang menarik dari Erickson adalah kreasinya dalam menciptakan “hubungan dan ruang hipnosis” – di mana suara Erickson memancar dari “ruang” tersebut. Ia tidak MEMASUKKAN EKSPRESI ke dalam suaranya, suaranyalah yang justru MENGEKSPRESIKAN dirinya: suara tersebut datang dari keadaan (state)-nya. Bagaimana ia menguasai kepiawaiannya merupakan tema sentral dalam setiap pembicaraan tentang suara/vokal dan hipnosis.

Berikut adalah pembahasan teknik-teknik vokal yang bermanfaat untuk keberhasilan trans hipnosis.

 

 

………Artkel ini bersambung di bulan Nopember  2019

 

 

 

Sumber :
Buku # 1  dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

 

Oktober  2019