Terapi Kecil untuk Pengambil Keputusan (Bag.1)

Anda sering bingung dalam mengambil keputusan? 
Sering menyesali setelah melakukannya?

Adakah terapinya?

Empat Moda

Ada empat moda/cara pengambilan keputusan yang lazim digunakan orang, yakni:

(1) instruksi,
(2) berembug,
(3) suara terbanyak, dan
(4) musyawarah-mufakat.

 

Keempat opsi di atas memperlihatkan tingkat keterlibatan orang yang semakin banyak. Keterlibatan yang makin banyak ini tak pelak lagi membawa keuntungan sekaligus juga kerugian. Di satu sisi, benefitnya adalah bertambahnya komitmen; namun di sisi lain kerugiannya adalah berkurangnya efisiensi waktu pengambilan keputusan.

Lalu, bagaimana kiat untuk memilih yang terbaik dari keempat opsi ini dan kapan menggunakannya – yang benar-benar pas dengan situasi yang sedang kita hadapi?

Mari kita urai pengertian masing-masing dari keempat opsi di atas.

 

Moda 1: Instruksi.

Ini adalah cara pengambilan keputusan tanpa ada keterlibatan apa pun. Hal ini bisa terjadi karena, pertama, adanya tuntutan tekanan dari luar, dan kedua, memang kita menyerahkan keputusan kepada orang lain, dan kita hanya mengikutinya saja.

Contoh tuntutan tekanan dari luar adalah ketika pelanggan menentukan harga, pada waktu supplier menetapkan standar mutu, atau saat pemerintah memberi tuntutan-tuntutan tertentu pada organisasi kita. Kita hanya meneruskan tuntutan situasi, dan tidak ikut terlibat sama sekali. Dalam moda instruksi, tugas kita bukan menentukan APA yang mesti dikerjakan, melainkan memikirkan BAGAIMANA keputusan itu harus dijalankan.

Alasan kita menyerahkan keputusan kepada orang lain mungkin karena kita percaya pada kemampuan orang tersebut, atau kita merasa bahwa masalahnya tidak terlalu penting, sehingga kita merasa tidak perlu terlibat. Di dalam sebuah tim yang solid dan relasinya sangat kuat, banyak keputusan diambil dengan menyerahkan pilihan akhir pada seseorang yang dianggap kompeten untuk mengambil keputusan.

 

Moda 2: Berembug

Berembug adalah cara mengambil keputusan dengan memanggil orang lain untuk mempengaruhi kita sebelum mengambil keputusan. Orang lain itu bisa seorang pakar, kelompok perwakilan tertentu atau orang yang menawarkan jasanya kepada kita. Berembug sangat efisien dalam mengumpulkan gagasan dan dukungan tanpa menghambat proses pengambilan keputusan.

 Leader, orangtua, pasutri (pasangan suami istri) kerap memanfaatkan moda ini dalam membuat keputusan. Mereka mengumpulkan gagasan, menimbang-nimbang opsi, mengambil keputusan dan menginformasikannya pada khalayak atau lingkungan yang lebih luas.

 

Moda 3: Suara Terbanyak

Pengambilan keputusan lewat suara terbanyak bisa sangat pas ketika efisiensi waktu merupakan tuntutan utama. Kita memilih di antara beberapa opsi yang baik. Para anggota kelompok barangkali tahu bahwa mereka tidak memperoleh opsi pertama mereka, tapi mereka sadar bahwa waktu terus menggelinding. Caranya, mula-mula mereka membicarakan satu hal lewat diskusi selama beberapa saat, dan kemudian dilanjutkan lewat penentuan suara terbanyak. Jika kita punya beberapa opsi yang bisa diterima, pemungutan lewat suara terbanyak akan sangat menghemat waktu. Namun, bila anggota kelompok tidak setuju untuk mendukung apa pun keputusannya, lebih baik hindari cara ini. Barangkali lewat musyawarah-mufakat akan lebih baik hasilnya.

 

Moda 4: Musyawarah-Mufakat

Moda ini bak malaikat dan setan. Lewat musyawarah-mufakat artinya kita mendiskusikan masalah sampai setiap orang secara ikhlas menerima sebuah keputusan. Menggunakan moda ini bisa membuat soliditas tim yang hebat dan menghasilkan keputusan bermutu. Namun, ada kalanya salah tempat, sehingga sangat membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Sebaiknya moda ini digunakan untuk situasi-situasi yang sangat rumit dan kritis, atau untuk masalah-masalah di mana setiap orang wajib mendukung apa pun nanti keputusan akhirnya.

***

 

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

………Artkel ini bersambung di bulan Maret 2018

 

 

Februari,  2018