Terapi Kecil untuk Pengambil Keputusan (Bag.2)

Artikel ini lanjutan dari bulan sebelumnya jika belum membaca klik disini

 

Kini, Anda sudah tahu moda-moda pengambilan keputusan terbaik tergantung pada isu, waktu, dan jumlah orang yang terlibat. Di setiap moda terdapat jebakan-jebakan yang mesti disiati. Inilah beberapa hal yang mesti Anda cermati sebelum Anda memilih mana yang paling pas.

 

Jebakan dan Cara Menyiasatinya

 

Moda 1: Instruksi

Dalam sebuah organisasi, sering ditemukan kasus di mana karyawan mengeluh karena leadernya sangat instruksional. Para leader ini suka memberi instruksi bak membagikan gula-gula kepada anak kecil. Tidak hanya memerintahkan apa yang mesti dikerjakan, tapi juga membatasi ruang gerak mereka. Para leader ini memberi instruksi secara sangat rinci. Padahal mungkin akan lebih bijaksana bila mereka membiarkan karyawannya mencari dan menentukan sendiri rincian-rincian instruksi tersebut. Diakui atau tidak, karyawan adalah orang yang paling dekat dengan pekerjaan tersebut dan otomatis paling pakar tentang cara menyelesaikannya.

Dunia sudah berubah. Zaman sekarang, karyawan dan anak-anak ingin lebih dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Mohon petunjuk bukan lagi era orang muda masa kini. Para karyawan ingin ikut berpikir dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Pendek kata, mereka ingin ambil bagian dan bertanggung jawab.

Cara Menyiasatinya?

Ada baiknya ketika instruksi harus diambil sebagai sebuah opsi, Anda mempertimbangkan hal-hal berikut:

Pertama, sebaiknya hindari memberi instruksi seperti memberi gula-gula kepada anak kecil. Jika orang bisa membuat opsi, biarkan mereka melakukannya. Sebaiknya mereka tidak “diborgol” tanpa alasan-alasan yang jelas.

Kedua, jika kita menerima instruksi, amati baik-baik apakah ada ruang untuk berimprovisasi. Misalkan seorang pelanggan telah menentukan sebuah order, meskipun kita tidak bisa menentukan apa yang mesti dikerjakan atau standar yang harus dipatuhi, kita dapat menentukan bagaimana cara mengerjakannya. Carilah ruang-ruang kebebasan dan biarkan orang memilih di antara ruang-ruang kebebasan ini.

Ketiga, usahakan untuk memberi penjelasan di balik keputusan tersebut. Misalnya, kalau Anda memberi instruksi kepada karyawan untuk bekerja lembur demi memenuhi tenggat waktu, jelaskan apa sebabnya. Kalau Anda menyuruh anak Anda untuk menjagai adiknya, jelaskan mengapa Anda mengambil keputusan ini.

 

Moda 2: Berembug

Dalam berembug, kadang orang merasa bahwa kalau mereka kita libatkan dalam berbagi gagasan, mereka berharap dapat ikut mengambil keputusannya. Alasannya, karena mereka dimintai input-nya. Sebaiknya, sebelum orang menyumbangkan gagasannya, usahakan memberikan pengertian bahwa keputusan belum tentu akan diambil lewat cara musyawarah-mufakat.

Idealnya, berembug digunakan ketika diperkirakan banyak orang yang akan terkena dampaknya, informasi relatif mudah diperoleh, orang peduli pada keputusan tersebut, dan ada banyak opsi di mana beberapa di antaranya cukup mengundang pro-kontra.

Cara Menyiasatinya?

Dalam berembug, cobalah untuk memperhatikan hal-hal berikut:

Pertama, jaga kejujuran dan hindari kesan “cuma seakan-akan sedang berembug”. Apabila Anda sudah yakin benar dengan keputusan Anda, segera putuskan! Jangan libatkan orang lain yang menyiratkan seakan-akan Anda ingin berembug, padahal sesungguhnya Anda hanya ingin orang-orang tersebut mendukung keputusan Anda.

Kedua, beritahukan apa yang sedang Anda lakukan dan umumkan keputusan Anda. Pada saat Anda hanya memilih beberapa orang tertentu saja, orang lain harus tahu siapa saja mereka ini. Setelah Anda memutuskan, umumkan dan jelaskan apa alasannya. Sebaiknya tidak menyembunyikan keputusan Anda hanya karena Anda takut menyinggung perasaan orang lain. Kenapa begitu? Karena cepat atau lambat toh mereka akan tahu keputusan Anda tersebut.

 

Moda 3: Suara Terbanyak

Pengambilan keputusan dengan moda pemungutan suara terbanyak biasanya diakhiri dengan adanya pihak yang kalah dan yang menang. Waspadailah! Yakinkan bahwa pihak yang kalah tidak terlalu peduli pada hasilnya. Sebab, kalau tidak, keputusan yang sudah diambil akan berbuntut dan menyisakan PR baru buat Anda.

 

 

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

 

………Artkel ini bersambung di bulan April  2018

 

 

Maret,  2018