Terapi Kecil untuk Pengambil Keputusan (Bag.3)

Artikel ini lanjutan dari bulan sebelumnya jika belum membaca klik disini

 

Cara Menyiasati?

Cobalah Anda pertimbangkan hal-hal di bawah ini sebelum memutuskan dengan memilih moda suara terbanyak:

Pertama, jika masalahnya tidak begitu berat atau membebani, tersedia banyak opsi yang baik untuk dipilih dan ingin efisien dalam segi waktu, Anda boleh memutuskan berdasarkan pemungutan suara terbanyak. Hal ini bisa mengurangi opsi dari sepuluh menjadi tiga, misalnya. Setelah itu bisa diambil keputusan lewat moda musyawarah-mufakat.

Kedua, pemungutan suara terbanyak tidak boleh diambil hanya karena Anda sudah menyerah. Apabila orang-orang sangat peduli dengan masalah tersebut, tetapi punya kendala untuk menyepakati satu opsi, jangan lalu menyerah dan akhirnya menggunakan pemungutan suara terbanyak. Lanjutkan dengan analisa serta dialog yang sabar dan sehat.

 

Moda 4: Musyawarah-Mufakat

Sering orang berpendapat bahwa musyawarah-mufakat adalah moda/cara terbaik dalam pengambilan keputusan. Padahal ada banyak situasi di mana justru moda lainlah yang lebih tepat digunakan.

Contoh, perusahaan Anda memiliki 100 orang karyawan dan Anda berencana untuk mengganti disain ruang kerja mereka dengan cara musyawarah mufakat. Dalam kasus ini rasanya terlalu banyak orang yang harus bermufakat.

Cara Menyiasati?

Inilah hal-hal yang sebaiknya Anda pertimbangkan dalam mengambil keputusan berdasarkan musyawarah-mufakat:

Pertama, mustahil setiap orang bisa mendapatkan pilihan terbaiknya. Musyawarah-mufakat bukanlah cara untuk mendapatkan apa yang mereka masing-masing inginkan, melainkan cara berdialog untuk melakukan apa yang terbaik bagi perusahaan, kelompok atau keluarga. Hal ini menuntut perilaku give and take (memberi dan menerima).

Kedua, usahakan untuk tidak timbul korban. Perusahaan dan keluarga yang sehat akan berhasil mencapai musyawarah-mufakat karena mereka piawai dalam berdialog. Karena masing-masing orang punya hak menyampaikan pendapatnya dengan baik, jarang orang yang sama selalu harus mengalah dan menjadi korban. “Kalau kamu mau ke Ancol, aku akur-akur saja. Jangan terlalu mikirin aku, karena aku bisa bawa komik, jadi tetap masih bisa menikmatinya.”

Ketiga, usahakan untuk tidak memakai pola urut-kacang. Dasarkan keputusan pada azas manfaat atau keuntungan, bukan pada siapa yang menawarkan opsi-opsi. Sebaiknya hindari memakai cara urut-kacang (bergiliran) untuk mendapatkan opsi. “Budi, terakhir kali kamulah yang mengalah, sekarang giliran kami.” Keputusan harus didasarkan pada opsi terbaik yang pas dengan kebutuhan kelompok. Jangan korbankan masa depan organisasi atau keluarga dengan lemparan dadu.

Keempat, hindari melakukan diskusi kembali setelah keputusan diambil. Pengambilan keputusan dengan moda musyawarah-mufakat seyogyanya dibuat secara terbuka oleh seluruh anggota kelompok. Menyimpan ketidaksukaan Anda lalu mendekati anggota-anggota lain setelah musyawarah usai bukanlah tindakan elok, karena artinya Anda tidak berkomitmen pada keputusan.

Kelima, hindari keluhan sesudahnya. Hal yang paling mengganggu adalah ketika seseorang yang sudah menyetujui satu opsi dan opsi tersebut ternyata salah, lalu berkomentar, ”Dari dulu aku sudah menduga bakal seperti ini jadinya!” Kalau seseorang sudah menentukan keputusan kelompok, dukunglah ide itu. Tunjukkan sikap baik. Jika sebuah ide tidak berjalan mulus, semestinya seluruh anggota kelompok menanggungnya secara bersama-sama.

***

 

Secara ringkas ada empat moda/cara pengambilan keputusan, yakni:

  1. Instruksi: Proses pengambilan keputusan yang dibuat tanpa melibatkan orang lain sama sekali.
  2. Berembug: Input dikumpulkan dari kelompok atau anggota, lalu satu atau beberapa orang dari kelompok tersebut mengambil keputusan.
  3. Suara terbanyak: Menggunakan jumlah atau persentase yang sudah disepakati untuk menentukan pengambilan sebuah keputusan.
  4. Musyawarah-mufakat: Seluruh anggota kelompok menyepakati, lalu secara bersama-sama mendukung keputusan yang dibuat.

 

Catatan:

Sebaiknya, apa pun caranya, setelah keputusan diambil lalu tentukanlah “siapa” yang melakukan “apa”, “kapan” dan bagaimana “tindak lanjut”-nya.
Buatlah semuanya tertulis di atas kertas berikut rekam perkembangannya.
Pertahankan komitmen dan yakinkan bahwa semua anggota ikut bertanggung jawab atas janji, dukungan dan ide-idenya.

 

Terapi Kecil dan Terapi Besar

Nah pembaca, tulisan di atas adalah ulasan singkat tentang pengambilan keputusan yang dihadapi oleh banyak orang sehari-harinya. Juga jebakan-jebakan yang muncul pada prosesnya dan bagaimana cara menyiasatinya.

Mudah-mudahan uraian singkat ini bisa menjadi ‘terapi kecil’ untuk Anda yang sering bingung dalam mengambil keputusan. Namun, kalau Anda benar-benar merasa “trauma” untuk mengambil keputusan sekecil apa pun, barangkali Anda membutuhkan “terapi besar”.

Buku saya NLP in Action membahas cukup komprehensif mengenai isu ini.

Selamat bereksplorasi.

***

 

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

 

 

April,  2018