Terapi Kilat 1 (Bag.1)

Terapi Kilat  1  (1)

 

Apa itu Terapi Kilat?

Siapa maestronya?

Bagaimana ia melakukannya?

 

 

Setiap individu yang masuk ke ruang terapi Anda rata-rata membawa serta suatu model dunia yang kata Milton Erickson – orang yang sering dianggap sebagai penggagas terapi kilat (Brief Therapy) – “sama uniknya dengan sidik jari jempolnya”. Kita masing-masing tidak hanya mengawali hidup dengan rangkaian gen yang unik, yang cuma kita sendiri yang punya, tetapi juga memiliki pengalaman yang unik, dan karenanya tidak ada dua individu yang tumbuh dengan pengalaman yang persis sama.

 

Sadar atau tidak akan hal itu, setiap individu memiliki sejarah pengalaman unik masing-masing dan mengatur pengalaman tersebut menjadi suatu rangkaian penilaian yang sama uniknya mengenai sifat dunia dan serangkaian aturan hidup. Karena itulah masing-masing dari kita punya pandangan dan penilaian yang berbeda-beda tentang dunia dan berbagai peristiwa. Pada gilirannya, perilaku kita akan ditentukan oleh cara pandang dan penilaian kita itu. Karena itu, untuk memahami perilaku orang, kita harus memahaminya dalam kaitan dengan pandangannya tentang dunia dan dalam konteks di mana pandangan tersebut bekerja.

 

Di bawah ini ada dua kisah yang dituturkan oleh Erickson. Kedua kisah ini menunjukkan betapa jelinya ia melihat model dunia seseorang dan memanfaatkannya untuk terapi kilat yang diinginkannya.

 

Kisah pertama,

 

Ada sebuah hal yang mengingatkan saya pada suatu ketika di Florida. Saya dan istri saya masuk ke sebuah restoran, lalu duduk di salah satu tempat di ruangan itu. Tak berapa lama, masuklah pasangan muda bersama seorang anak kecil berusia sekitar delapan belas bulan. Si waitress mengambil sebuah kursi tinggi dan mencoba menggoda anak batita (di bawah tiga tahun) itu. Si bayi menundukkan kepalanya. Orangtuanya yang mengetahui hal itu berkata, “Oh, anak saya ini memang sangat pemalu, takut-takut dan tidak mau melihat orang yang tidak dikenalnya.” Sekejap kemudian makanan dihidangkan kepada si orangtua.Saya tahu apa yang biasa dilakukan seorang bayi. Benar saja, tak lama si bayi mulai melihat sekeliling. Dia memandang ke arah saya, saya menunduk dan dengan cepat saya menunduk lagi. Beberapa saat kemudian bayi itu bermain cilukba dengan saya. Kami terus menerus begitu, dan ketika orangtuanya pergi, si bayi melambaikan tangannya kepada saya. Orangtuanya kaget setengah mati. Sekarang Anda tahu bukan, bahwa Anda harus memahami pasien pada tingkatan si pasien. Pada model dunia si pasien.

 

Artikel berlanjut di bulan November 2017

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Oktober,  2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *