Gestalt (Bag.2)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Interaksi Antar Bagian

Bagian-bagian kita saling berinteraksi. Bayangkan mereka seperti sebuah “keluarga di dalam tubuh” kita. Saat kita belajar dari kehidupan dan semakin berpengalaman, umumnya “keluarga parts” dalam diri kita juga semakin tumbuh dan berkembang.

Seperti layaknya keluarga dalam pengertian sesungguhnya, “keluarga parts” kita juga melakukan peran-peran, baik yang fungsional maupun disfungsional. Bagaimana kita menentukan apakah sebuah keluarga melakukan fungsinya atau tidak, saya kira kita tidak bisa mengukurnya hanya dengan pengertian “bahagia” atau aman-aman saja. Sebuah keluarga bisa saja secara bertubi-tubi mengalami persoalan, tapi masih bisa berfungsi dengan baik, sementara ada keluarga yang nampaknya “bahagia” tapi tidak berfungsi dengan baik. Lalu apa ukurannya?

Sedikitnya ada 3 kriteria untuk menentukan apakah sebuah keluarga berfungsi sebagaimana mestinya atau tidak. Pertama adalah apakah keluarga tersebut memiliki batasan-batasan yang jelas? Apakah setiap anggotanya memiliki ruang geraknya masing-masing? Apakah hal ini dipahami dan disetujui oleh anggota lainnya? Setiap individu – anak, bibi, paman, dan seterusnya – harus diperlakukan sebagai sebuah entitas dan memiliki hak serta kewajibannya masing-masing.
Kedua, apakah setiap anggota keluarga yang bersangkutan memainkan peran yang sesuai dengan hirarkhinya? Apakah ayah berperan sebagai ayah dan anak sebagai anak? Karena kadang bisa terjadi orangtua – khususnya yang sudah berpisah – meninggalkan beban yang terlalu banyak pada anak sulungnya untuk merawat adik-adiknya. Bila hal ini terjadi dalam waktu yang cukup lama, anak yang lebih tua boleh jadi semakin mengambil peran ayah atau ibunya. Pada titik tertentu ini akan menjadi tidak layak lagi. Hak dan kewajiban setiap anggota tetap harus sesuai dengan hirarkhinya. Meskipun hubungan antara orangtua dan anak sudah sangat akrab, menurut saya, orangtua haruslah tetap orangtua sedangkan anak tetap saja anak, tidak boleh saling menggantikan peran.

Ketiga, apakah keseluruhan anggota keluarga tahu cara berkomunikasi satu sama lain? Taruhlah mereka bisa duduk di satu ruangan yang sama, tapi apakah ada jaminan bahwa mereka sedang berkomunikasi? Salah satu hal yang paling sulit dalam keluarga adalah komunikasi. Bisa saja mereka memiliki sebuah komunikasi yang terbuka, bisa berbicara tentang keinginan-keinginan mereka, apa yang mereka sukai dan tidak sukai, apa isi hati mereka, dan seterusnya. Persoalannya, seringkali mereka terbentur pada bagaimana cara menjadi pendengar yang baik. Apa yang biasanya terjadi adalah, ketika seorang anggota keluarga mulai mengungkapkan perasaannya, anggota lain mulai membela diri atau berargumentasi. Saat mereka membela diri, mereka tidak lagi mendengarkan, padahal mendengarkan adalah bagian yang paling mendasar dari sebuah proses komunikasi dua arah.

Batasan-batasan yang jelas, adanya hirarkhi dan terjadinya komunikasi timbal balik – jika ketiga hal ini Anda miliki – boleh dibilang Anda memiliki keluarga yang berfungsi dengan baik. Apa pun problem yang muncul tetap akan dapat Anda atasi dengan baik.

Inner Parts

Hal yang sama juga terjadi dalam keluarga inner parts kita. Bila keluarga “di dalam tubuh Anda” berfungsi sebagaimana mestinya, Anda akan dapat menyelesaikan banyak persoalan dalam hidup Anda.

Ada 3 ukuran untuk menentukan apakah keluarga inner parts Anda berfungsi dengan baik atau tidak. Pertama, parts harus dianggap sebagai bagian-bagian yang terpisah, di mana satu sama lain mempunyai identitas dan bekerja pada tempatnya. Artinya Anda harus memahami bahwa ada bagian diri Anda yang cerewet, romantis, pelit, pencemburu, dan seterusnya seperti juga ada bagian tubuh Anda yang kreatif, sigap, disiplin dan seterusnya. Bila Anda tidak mengenalinya, maka Anda tidak dapat berkomunikasi dengannya. Ketika komunikasi macet, bagian atau bagian-bagian ini mungkin tetap akan bersembunyi, atau celakanya lagi bisa menyabotase apa pun yang ingin Anda ubah atau perbaiki.

Kedua, parts memiliki ruang masing-masing dalam satu hirarkhi yang jelas. Beberapa parts mungkin porsinya lebih besar dan meminta lebih banyak ruang gerak, sementara yang lainnya lebih kecil dan tidak membutuhkan ruang yang besar. Part saya sebagai ayah dan entrepreneur lebih besar daripada part saya yang bertanggung jawab pada selera makan saya. Karena saya paling gampang soal makanan.

Kata yang harus digarisbawahi di sini adalah “pada tempatnya”. Artinya KAPAN dan BAGAIMANA parts mengekspresikan dirinya. Sekali lagi, ini mirip dalam sebuah keluarga: seorang bayi yang baru berusia 3 bulan tidak mungkin kita harapkan untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga atau mencari uang sendiri. Setiap anggota terlibat dengan aktivitasnya masing-masing, namun sesuai dengan fungsinya. Hal ini juga berlaku pada keluarga parts kita. Masing-masing parts memiliki cara mengekspresikan dirinya, melakukan fungsinya dan “pada tempatnya”. Namun ini semua hanya untuk kondisi-kondisi tertentu dan tidak dalam kesempatan-kesempatan lainnya. Keseluruhan bagian-bagian ini bekerja saling melengkapi, masing-masing di dalam batasannya dan membangun keutuhan kita sebagai individu yang unik. Ini layaknya seperti sebuah pertunjukan orkestra, di mana masing-masing pemain saling mengisi, melakukan aktivitas sesuai dengan alat yang dimainkannya dan menghasilkan sebuah simfoni yang harmonis.

Ketiga, parts harus berkomunikasi dengan lancar. Artinya, harus ada kanal atau media yang menghubungkannya. Mari kita perjelas hal ini. Dalam sebuah keluarga, seorang bayi usia 3 bulan tidak berkomunikasi lewat kata-kata dan kalimat, namun kita bisa mengamati dan mendengar sinyal-sinyal yang dibuatnya. Bila kita tidak peka terhadap hal ini, mustahil kita bisa tahu bahaya apa yang sedang menimpanya.

Bagian-bagian tubuh kita berkomunikasi dengan kita dengan cara yang khas, yakni lewat gambaran, suara, dan perasaan atau sensasi. Bila kita tidak peka terhadap sinyal-sinyal ini, “mendengarkannya” dan memahami bahwa mereka sedang “berbicara” dengan kita, maka kita mengabaikan bagian-bagian tubuh kita yang mungkin sedang mencoba untuk tumbuh, berubah dan berkembang ini.

Selanjutnya, bila kita tidak berkomunikasi dengan bagian-bagian tubuh kita – dengan seluruh aspek dalam diri kita ini – kita memotong jalur komunikasi kita dengannya, jalur mereka dengan kita dan Anda sudah bisa menebak akibat selanjutnya. Menjadi sulit buat mereka untuk berfungsi dengan semestinya dan akhirnya kita sendiri yang akan rugi.

***

Kembali ke persoalan terapis di atas. Jadi, tugas terapis adalah, pertama, meyakinkan bahwa masing-masing bagian (part) dari pasiennya berfungsi secara optimal. Kedua, terapis membantu memuluskan jalannya komunikasi antar parts sehingga tidak saling menyabotase, saling cuek satu sama lain atau yang paling parah saling menghancurkan satu sama lain. Dan terakhir, yang barangkali justru terpenting, adalah membekali pasien-pasiennya agar bisa melakukan kedua hal di atas secara fleksibel dan mandiri!

Inilah sesungguhnya esensi dari Gestalt Therapy-nya Fritz Perls yang di kemudian hari dimodel oleh NLP.

***

Nah pembaca, kalau kata “terapis” kita ganti dengan “pemimpin” sementara kata “pasien” diganti dengan “staf”, rasa-rasanya kok tidak mengubah esensi tulisan di atas. Bagaimana? Akur?

Sumber :
Buku # 1 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Februari 2015

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *