Ibu, Tenanglah (Bag.3)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Sekolah Unggulan Marga Satwa

Pada suatu hari para hewan berkumpul dan membicarakan sebuah hal penting dalam menghadapi sebuah dunia baru. Rapat yang dihadiri oleh hampir semua jenis hewan itu menelurkan sebuah keputusan: mendirikan sekolah!

Sebuah sekolah? Ya! Sebuah sekolah.

Para pengurusnya mengadakan rapat untuk membuat kurikulum. Akhirnya disepakati bahwa kurikulumnya mencakup kegiatan: berlari, memanjat, berenang dan terbang. Kurikulum ini diberlakukan untuk semua jenis hewan. Artinya semua hewan harus mengambil semua mata pelajaran ini.

Angsa dan hewan sejenis yang pandai berenang (bahkan mungkin lebih pandai ketimbang instrukturnya) lulus dengan angka minimum dalam mata pelajaran terbang dan sangat buruk dalam mata pelajaran berlari. Karena hewan-hewan ini lamban dalam hal berlari, mereka harus tetap tinggal di sekolah seusai jam pelajaran untuk mendapatkan latihan tambahan. Mereka pun harus rela melepaskan mata pelajaran berenang untuk belajar berlari. Ini berlangsung terus menerus. Bahkan kaki-kaki mereka yang berselaput menjadi robek-robek karenanya, namun nilai yang mereka peroleh hanya rata-rata. Sesungguhnya nilai yang cuma rata-rata ini ditoleransi oleh sekolah tersebut. Tak ada yang merisaukannya, kecuali angsa-angsa dan hewan-hewan sejenisnya itu sendiri.

Kelinci, kancil dan harimau merajai kelas berlari, bahkan beberapa dari mereka menjadi juara kelas. Namun mereka dilanda stres dan mengalami depresi mental karena terlampau banyak tugas perbaikan (remedial) dalam mata pelajaran berenang.

Hewan sejenis tupai yang hebat dalam memanjat, membuat kehebohan di kelas terbang karena gurunya merasa frustrasi menyuruh mereka mengawalinya dari tanah ke atas. Tentu saja, karena hewan-hewan itu biasa melakukannya terbalik, yakni dari puncak pohon ke bawah. Tupai dan sebangsanya ini juga terkena sindroma keseleo tangan serta kakinya akibat upayanya yang terlalu ekstrim. Gara-gara cedera itu, yang mengenaskan, mereka malah hanya mendapat nilai 70 untuk mata pelajaran memanjat yang jadi keahlian mereka dan 50 untuk pelajaran berlari.

Sejenis burung elang masuk kategori murid-murid bandel karena sulit didisiplinkan. Untuk mata pelajaran memanjat, mereka rata-rata mengungguli hewan lain untuk sampai di puncak pohon, namun mereka keras kepala minta menggunakan cara mereka sendiri untuk mencapainya. Di pelajaran berenang mereja jeblok.

Ketika wisuda kelulusan, sejenis cicak terbang yang agak cacat mampu terbang dengan baik sekali, sedikit berlari, memanjat maupun berenang. Mereka meraih angka tertinggi secara keseluruhan dan bahkan satu di antara mereka didaulat untuk memberikan sepatah kata mewakili teman-teman seangkatannya.

Hewan sebangsa musang akhirnya memutuskan keluar dari sekolah. Mereka tidak mau membayar uang sekolah secara penuh karena pengelola sekolah tidak mencantumkan mata pelajaran menggali lubang dalam kurikulumnya. Keluarga musang itu lalu mengirim anak-anaknya untuk homeschooling ke keluarga anjing padang rumput. Mereka kemudian bersama-sama dengan keluarga kelinci, marmut, tikus mondog, serta kucing, untuk mendirikan sekolah sendiri. Akhirnya sekolah swasta ini menjadi sekolah yang amat sukses.

Sumber :
Buku # 1 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Agustus 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *