The Language of Magic (Bag.2)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Di sebuah seminar, seorang pemuda mendekati dan meminta, “Bibiku tinggal di Milwaukee. Ia kaya raya, taat beribadah, dan tidak suka ibuku. Ibuku juga tidak menyukainya. Bibi punya pembantu yang setiap pagi datang untuk mengurus rumah, mencuci, menyetrika, dan memasak. Dia tinggal sendirian di rumahnya yang besar, pergi ke gereja dan tidak memiliki teman. Ia pergi ke gereja dan dengan diam-diam ngeloyor pulang. Sudah sembilan bulan ini ia mengalami depresi berat. Aku mengkuatirkannya dan mohon anda mampir dirumahnya dan melakukan sesuatu untuknya. Aku satu-satunya kerabat yang dipercayainya.”

Jadi, kita berhadapan dengan kasus seorang kaya yang depresi. Saya memperkenalkan diri secara panjang lebar… dan memintanya berkeliling di rumahnya. Selama berkeliling saya memperhatikannya sebagai wanita kaya, hidup sendiri, nganggur, ke gereja namun tidak mau bertemu dengan siapa pun, lalu pulang secara diam-diam pula.

Saya terus berkeliling ruang demi ruang… sampai saya melihat 3 anggrek ungu Afrika yang baru saja mekar di potnya. Akhirnya saya tahu apa yang mesti saya lakukan dan terapi seperti apa yang cocok untuknya.

Saya memintanya, “Saya ingin Anda membeli setiap anggrek ungu Afrika yang Anda temui…. Semuanya jadi milik Anda. Saya ingin Anda membeli beberapa ratus pot bunga dan menyemai tunas anggrek itu seperti yang sudah Anda lakukan terhadap ketiga anggrek Anda itu. Segera sesudah tunas itu berakar cukup kuat, untuk setiap informasi mengenai kelahiran bayi kirimkan sebuah anggrek. Kalau mendengar ada pertunangan, perkawinan, atau kematian, kirimkan anggrek Anda. Kalau ada bazaar, ikutkan anggrek Anda untuk dipamerkan.”
Saya memintanya, “Saya ingin Anda membeli setiap anggrek ungu Afrika yang Anda temui…. Semuanya jadi milik Anda. Saya ingin Anda membeli beberapa ratus pot bunga dan menyemai tunas anggrek itu seperti yang sudah Anda lakukan terhadap ketiga anggrek Anda itu. Segera sesudah tunas itu berakar cukup kuat, untuk setiap informasi mengenai kelahiran bayi kirimkan sebuah anggrek. Kalau mendengar ada pertunangan, perkawinan, atau kematian, kirimkan anggrek Anda. Kalau ada bazaar, ikutkan anggrek Anda untuk dipamerkan.”

Suatu saat ia memiliki dua ratus anggrek ungu Afrika dan karena harus merawat dua ratus tanaman, ia menjadi sibuk memotong dan membersihkannya. Akhirnya ia menjadi “Ratu” Anggrek di Milwaukee dengan ratusan teman barunya.

Semuanya berubah hanya dengan satu kali kunjungan. Saya hanya menunjuk ke arah yang tepat dan berkata: “Giddy Up!” Dan ia melakukan sisa terapinya sendiri.

Itulah hal terpenting dalam terapi. Anda menemukan potensi yang mungkin untuk klien Anda dan kemudian mendorong dia melakukannya, dan cepat atau lambat ia akan ‘mahfum’ dengan sendirinya.

 

Tampak jelas bahwa Erickson adalah pemerhati manusia yang baik. Dalam bahasa saya, ia adalah contoh pemerhati kelas atas (first class therapist). Ia memahami keunikan kliennya. Ia pahami apa persisnya yang dibutuhkan oleh kliennya dalam upaya memperoleh pembelajaran baru. Kemudian dia membantu dengan mengarahkannya secara cukup rinci.

Erickson juga memiliki keyakinan bahwa bila kliennya dapat melakukan perubahan, kredit seharusnya diberikan kepada kliennya. Peran terapis hanya membantu mengarahkan pada kondisi yang tepat, dan dari situ klien dapat mempelajari sesuatu, dan melakukan perubahan. Setiap perubahan yang terjadi adalah upaya si klien sendiri.

Sumber: R.H. Wiwoho, dalam buku terbaru- nya “First Class Therapy”, terbit 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *