Lugu Itu Perlu (Bag.2)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Beberapa hari kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.

“Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Esok harinya ia melahirkan bayinya dengan selamat,” urai Nasrudin.

Tetangganya itu menerimanya dengan senang hati. Nasrudin pun pulang.
Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini secara tidak sengaja periuknya pecah, dan karena takut, Nasrudin berhari-hari tidak mengembalikannya. Sang tetangga marah dan mendatangi rumah Nasrudin.

Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, “Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan.”

Sang tetangga naik darah, “Ayo kembalikan periukku. Jangan pura-pura tolol.” “Mana ada periuk bisa meninggal dunia!” teriaknya.

“Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia,” kata Nasrudin dengan lugunya.

***

Suatu ketika, Nasrudin pulang malam bersama teman-temannya. Di pintu rumah mereka berpisah. Di dalam rumah, istri Nasrudin telah menanti dengan marah. “Aku telah bersusah payah memasak untukmu sore tadi!” katanya sambil menjewer kuping Nasrudin. Saking kuatnya, Nasrudin terpelanting dan jatuh menabrak peti.

Mendengar suara gaduh, teman-teman Nasrudin yang belum melangkah terlalu jauh kembali lagi ke rumah Nasrudin, dan bertanya dari balik pintu, “Ada apa Nasrudin, malam-malam begini ribut sekali?”

“Jubahku jatuh dan menabrak peti,” jawab Nasrudin.
“Jubah jatuh saja kok ribut sekali suaranya?”
Untuk menutupi rahasia rumah tangganya, dengan lugunya Nasrudin berkilah, “Tentu saja, iya. Karena aku masih ada di dalamnya.”

***

Kali ini ceritanya setelah bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di rumah. Sang istri menyambutnya dengan gembira, “Aku punya sepotong keju untukmu,” kata istrinya.

“Syukurlah,” puji Nasrudin. “Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut.”
Tidak berapa lama kemudian Nasrudin pergi lagi. Ketika kembali, sang istri menyambutnya dengan gembira juga.

“Ada keju untukku?” tanya Nasrudin.
“Tidak ada lagi,” kata istrinya.
Tutur Nasrudin, “Yach, tidak apa-apa. Lagi pula keju itu tidak baik untuk kesehatan gigi.”
“Loh, jadi mana yang benar?” kata istrinya kebingungan. “Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi?”
“Itu tergantung,” kata Nasrudin dengan lugu. “Tergantung apakah kejunya ada atau tidak.”

***

Kisah-kisah Nasrudin di atas dalam NLP dikenal sebagai salah satu pola kepiawaian bicara (sleight of mouth). Pola ini dikembangkan oleh Robert Dilts setelah mengamati Richard Bandler dalam sebuah seminarnya. Ada 17 pola-pola sleight of mouth yang selengkapnya bisa dibaca dalam buku saya Reframing: Kunci Hidup Bahagia 24 Jam Sehari edisi revisi dan ekspansi.

Sumber :
Buku # 3 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Juni 2015

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *