Meributkan Hal-hal Sepele (Schismogenesis) (Bag.2)

Artikel ini lanjutan dari bulan sebelumnya jika belum membaca klik disini

 

 

Sungguh sangat ironis. Tanggapan Asto, “apa lagi?” dimaknai sebagai ejekan ironis pada diri sendiri oleh intonasi dan nada suaranya, tetapi Sekar tidak menangkap sinyal-sinyal itu karena ia tidak terbiasa menggunakan ironi seperti itu. Sebaliknya, ia berpikir dan memaknainya sebagai, “sikap suka menuntut dan memerintah.” Ia tidak heran dengan hal ini karena ia sering merasa Asto senang mengeluarkan perintah terhadapnya. Yang menyakitkan hatinya adalah implikasi dari ucapan Asto yang menunjukkan bahwa ada yang salah dalam dirinya ketika ia bertanya. Sekar juga merasa Asto merendahkannya pada saat ia bersikap penuh perhatian. Ia pun lalu mulai merasa menyesal mempunyai suami yang egois dan suka memerintah seperti Asto.

Sekar dan Asto mencoba menjernihkan kesalahpahaman itu, tetapi segala upaya yang mereka lakukan untuk membuat semuanya menjadi lebih baik justru malah membuatnya lebih buruk. Ketika Sekar tidak bisa menangkap ironinya, Asto menyarankan, “membuat nasi goreng teri” sebagai bukti itikad baik Asto. “Nasi goreng teri“ sesungguhnya dimaksudkan sebagai “nasi goreng lain”. Tetapi Sekar mendengar “nasi goreng teri” yang artinya bahwa memang suaminya benar-benar ingin makan “nasi goreng teri”. Jadi, mula-mula Sekar mendengar suaminya menuntut nasi goreng telor, lalu menuntut nasi goreng teri, lalu menyuruhnya membuangnya. Ia merasa Asto semakin hari semakin piawai main perintah.

Dari sudut pandang Asto, ia tidak mengerti mengapa Sekar bersikeras menolak membuat nasi goreng yang diinginkannya, kemudian membuat nasi goreng yang tidak diinginkannya, dan kemudian menolak membuangnya meskipun Sekar sendiri tidak menyukai hasil nasi goreng buatannya sendiri, dan kemudian malah tersinggung kala Asto berupaya keras menyetujui kemauannya.

Karena Sekar dan Asto menjalani hidup dengan kebiasaan mereka, perbedaan gaya seperti itu selalu muncul. Sekar semakin lama semakin mendapatkan lebih banyak bukti bahwa Asto terlalu menuntut, egois dan merendahkannya.

Asto, dilain pihak, juga semakin mendapatkan lebih banyak bukti bahwa Sekar mudah marah dan hipersensitif. Dalam sehari Sekar bisa merasa sakit hati sampai sepuluh kali. Dan Asto merasa ia tidak bisa berbicara tanpa mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan Sekar (tanpa disengaja).

Semua kesalahpahaman ini – yang tidak mereka lihat sebagai kesalahpahaman tetapi sebagai kurang baiknya kepribadian atau kurangnya kepedulian pihak lain – melunturkan perasaaan cinta mereka satu sama lain dan membuat kehidupan sehari-hari mereka menjadi serangkaian kekecewaan dan sakit hati.

Sekar dan Asto tidak habis mengerti bagaimana mereka bisa sampai ribut soal nasi goreng. Perasaan tidak tahu apa yang dikatakan seseorang untuk menjelaskan maksudnya adalah hal yang biasa, dan ini yang sering membuat seseorang uring-uringan. Berfokus pada kata-kata yang diucapkan sering kali justru menghalangi pemahaman tentang penyebab kemelut itu, karena yang jahat bukanlah kata-katanya melainkan nada suara, intonasi dan implikasi serta asumsi yang tersirat di dalamnya (dalam workshop Personal Power sering saya katakan bahwa kata-kata cuma bermakna 7% dari keseluruhan komunikasi dan sisanya tergantung mutu suara serta gestur seseorang).

Ketika Sekar dan Asto bertengkar mengenai nasi goreng, mereka sebenarnya mempertengkarkan cinta: Apakah kamu mempertimbangkan keinginan saya? Mengapa kamu menyerang saya pada saat saya bersikap baik padamu? Dan seterusnya.

Ironisnya, ketika mereka mencoba menggantikan hilangnya itikad baik, mereka semakin banyak menunjukkan bentuk-bentuk perilaku membesar-besarkan yang menyebabkan timbulnya reaksi negatif dari pihak lain. Asto menjadi lebih suka main perintah, dan Sekar menjadi semakin mudah marah, sebagai reaksi terhadap reaksi pihak lain atas sikap suka memerintah dan hipersensitif yang terlihat jelas.

Dapatkah Anda membayangkan pasangan suami istri di atas seperti kedua anak Anda, yakni si Kakak dan si Adek, yang sedang bermain knop AC mobil? Itulah yang Gregory Bateson sebut sebagai schismogenesis yang saling melengkapi.

 

Ilustrasi Kedua

Sebutlah ada dua orang yang punya jenis tekanan suara berbeda. Artinya yang satu berbicara lebih keras ketimbang yang satunya lagi. Jika gaya mereka sama, salah satu atau keduanya mungkin menyesuaikan tingkat kerasnya suara mereka agar kurang lebih sama. Tetapi jika mereka memiliki gambaran yang berbeda tentang seberapa kerasnya suara yang dianggap wajar, masing-masing akan merasa tidak senang dengan suara pihak lain. Orang yang suaranya keras mungkin akan mencoba berbicara sedikit lebih keras lagi untuk mendorong yang suaranya pelan agar berbicara lebih keras – untuk memberi contoh. Dan yang suaranya agak pelan akan mencoba mendorong yang suaranya lebih keras agar berbicara lebih pelan dengan memberi contoh gaya bicara yang lebih pelan. Karena masing-masing pihak berusaha keras memperbaiki situasi itu, yang satu semakin keras dan keras sementara yang lain semakin pelan dan pelan, akhirnya yang satu berteriak dan yang lain berbisik. Masing-masing tanpa disengaja memancing yang lain untuk menguatkan perilaku yang ofensif. Akibatnya, mereka bukannya memperoleh kesamaan tetapi justru semakin berbeda. Ini juga schismogenesis yang saling melengkapi: menciptakan keretakan dengan cara saling memperburuk keadaan.

 

 

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

………Artkel ini bersambung di bulan Juli 2018

 

 

Juni  2018