Pasien Juga Manusia (Bag.3)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Si mahasiswi sejenak berdiri mematung, dan bergetar badannya saat mendengar pintu ruang praktik ditutup dengan cara dibanting. Dengan nada heran ia bertanya, “Mengapa bisa begini? Apanya yang keliru? Apa sebab pasien itu tidak mau menerima resepnya?”

Dokter menghela napas dan dengan lembut menyahut, “Sabar. Peluang masih terbuka lebar. Kamu masih memiliki banyak kesempatan untuk belajar dari pengalaman.”

Waktu berlalu. Suatu hari ketika mereka berdua berjalan melewati ruang tunggu, setelah duduk di ruang praktiknya, si dokter bertanya, “Apakah kamu perhatikan wanita tua yang duduk paling pinggir di ruang tunggu tadi?”

“Kebetulan saya tidak memperhatikannya,“ jawabnya. Dia sesungguhnya ragu untuk mengatakan “ya” dan tidak ingin dicela karena minimnya pengamatan yang dilakukannya.

“Oh, sayang sekali,“ kata si dokter. “Coba saja kalau tadi kamu memperhatikannya, kamu akan tahu bahwa pasien wanita itu membutuhkan buat tomat.”

Sang pasien dipanggil masuk, lalu dipersilakan duduk dan dokter duduk di sampingnya sambil berkata, “Ibu, coba ceritakan pada saya,“ dia membuka percakapan. “Apa yang ibu inginkan dari pertemuan ini?”

Pasien ini menjabarkan keluhannya kepada si dokter. Dokter mendengarkannya dengan sangat cermat, hampir tanpa berkedip dan sesekali mengikuti gestur wanita ini. Ia mendengarkan uraian pasiennya hampir tanpa menyela samasekali. Pendek kata, ia hanya mendengarkan.

Setelah tahu bahwa kalimat pasien ini sudah mencapai titik (karena dia paham intonasi suara yang masih berupa koma), dokter mulai berbicara, “Saya menyimak dengan baik cerita ibu tadi. Menurut hemat saya, pengobatan yang ibu perlukan harus melibatkan sesuatu yang alami, menyehatkan dan memiliki daya sembuh. Apa ya menurut ibu? Bentuknya bulat dan di dalamnya ada banyak biji. Barangkali ibu perlu jeruk nipis.”

Sesaat setelah mengamati ujung mulut wanita ini menjengit seakan bereaksi terhadap rasa jeruk nipis yang asam itu (ia melakukan kalibrasi, dalam bahasa NLP), si dokter melanjutkan, “Bukan, tampaknya jeruk nipis terlalu asam rasanya. Bukan itu yang ibu butuhkan. Mungkin jeruk Medan. Tapi jeruk Medan terlalu manis. Rasanya buah-buah ini tidak cocok, baik tekstur maupun warnanya.”

Si dokter jeda sebentar, merenung dengan sangat serius. “Buah apa ya? Aha! Saya tahu jawabannya. Tomat! Kalau ibu secara teratur makan buah tomat, pasti ibu akan merasakan perbaikan,” serunya.

Pasien wanita ini berseri-seri, berdiri dari tempat duduknya, menjabat tangan si dokter erat-erat sambil mengucapkan kata terima kasih berkali-kali. Ia keluar ruang praktik dokter dengan wajah yang sangat sumringah.

Setelah pasien tersebut keluar, mahasiswi magang itu bertanya, “Dokter, mengapa hasilnya bisa berbeda ya? Sewaktu saya menjelaskan bahwa resep yang cocok untuk pasien pria adalah buah tomat, pria tersebut menolak mentah-mentah dan terbirit-birit lari ke luar ruangan. Tapi kali ini, wanita tadi tampak sangat berterima kasih untuk resep yang sama.”

Si dokter menatap mata mahasiswinya dalam-dalam. Ia tersenyum dan berkata dengan penuh welah asih, “Di samping buah tomat, ia juga butuh WAKTU untuk memahami.”

***

Sumber :
Buku # 3 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Juli 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *