Racun Familiaritas (Bag.2)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Anda Adalah Apa yang Anda Pikirkan

Familier dengan kalimat di atas? Begini, menurut para pakar neurosains, cara kerja otak kita dibagi menjadi dua, yakni: “pemikir” (thinker) dan “pembukti” (prover). “Pemikir” amat fleksibel, tidak terbatas dan mampu memikirkan apa pun (misalnya dunia ini datar, dunia ini bulat, tambang intan di mars, orang itu jenius, saya tolol, saya pandai, adikku lucu, saya akan selalu miskin, saya bisa menjadi kaya raya, Tuhan itu Maha Adil, alam semesta punya rencana khusus buat saya, dan seterusnya). Tugas pelaku sangat sederhana: apa pun yang “pemikir” pikirkan, “pembukti” akan membuktikannya. Bila seseorang berpikir bahwa dirinya tolol, ia akan menyaring dan memilah-milah data yang masuk untuk membuktikan bahwa dirinya memang tolol. Bila seseorang berpikir bahwa dirinya pandai, ia akan menyaring dan memilah-milah data yang masuk untuk membuktikan bahwa ia memang pandai.

Sayangnya, “berpikir” adalah hal yang kurang jelas. Yang jelas adalah bahwa “pemikir” dan “pembukti” berhubungan dengan apa yang diyakini orang tentang dirinya dan dunia di sekitarnya. Berita baiknya adalah bahwa ada cara mudah untuk mencari tahu apa yang sedang dipikirkan oleh “pemikir” dan sedang dibuktikan oleh “pembukti”.

Lihatlah hasil yang Anda dapatkan dalam kehidupan Anda. Kondisi kehidupan Anda adalah cermin akurat dari keyakinan Anda tentang diri Anda dan keyakinan Anda tentang dunia ini. Bila seseorang selama 5 tahun mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia pantas untuk mendapatkan BMW, tetapi yang dimilikinya adalah “mobil tua seangkatan kakeknya yang sudah karatan”, itu adalah indikasi dari apa yang dia yakini. Bila Anda telah sekian lama melakukan afirmasi diri bahwa Anda adalah orang yang penuh dengan berkah, tapi nyatanya Anda tetap miskin dan hidup dari mangkok mi instan ke mi instan lain setiap harinya, Anda mungkin perlu mengkaji ulang keyakinan Anda. Bila ragu, lihatlah kenyataannya!

Kongruensi

Milton H. Erickson adalah seorang maestro yang sangat piawai berkomunikasi lewat model dunia kliennya. Keterampilannya membangun rapport dan pacing-leading telah menjadi salah satu pendekatan ampuhnya dalam membantu orang lain memperkaya model dunianya.

Para praktisi NLP adalah orang-orang yang sangat terlatih menggunakan teknik ini dalam membantu kliennya, namun mengapa seringkali orang-orang ini justru gagal dalam membangun rapport dengan dirinya sendiri? Lalu bagaimana cara membangun rapport dengan diri sendiri? Jawabannya: lewat kongruensi dan penerimaan diri.

Penerimaan diri adalah alat pelumas untuk pertumbuhan/perkembangan. Penerimaan diri bukan berarti Anda menyukai, bahagia dengan keadaan tersebut, atau berharap terus mendapatkannya. Penerimaan diri berarti bahwa Anda mengenali kenyataan dari situasi yang sedang terjadi. Beberapa orang memakai baju “berpikir positif” (positive thinking) untuk menolak kenyataan yang sedang berlangsung. Ini kadang malah membuat situasi makin memburuk. Penerimaan diri adalah lawan kata dari penolakan diri. Ketika Anda menerima kenyataan yang sedang terjadi, Anda bebas untuk mengubahnya. Kedengaran seperti paradoks ya? Mengutip Fritz Perls, ada sebuah kalimat pas untuk hal ini: “What you resist persists, but what you accept dissolves.” (Apa yang Anda tolak justru muncul, sedangkan apa yang Anda terima justru larut).

Lalu apa hubungan antara penerimaan diri dengan BMW? Faktanya, Anda tidak dapat membantu seorang pengidap fobia dengan mengatakan kepadanya untuk berhenti merasa ketakutan. Anda pun tidak dapat mengubah keadaan Anda dengan hanya mengatakan apa yang Anda inginkan. Anda membutuhkan rapport. Ketika Anda menerima keadaan saat ini, maka Anda kongruen dengan diri Anda sendiri. Ini adalah titik awal yang sangat ideal untuk menikmati perubahan diri.

………… artikel ini bersambung di bulan Desember 2015

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

November 2015

 

Comments are closed.