Sahabatku Bernama Takut (Bag.2)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Andi dan Boas memiliki kemampuan atletik yang sama. Mereka sedang bermain sepakbola. Ketika temannya membawa bola, Andi berkata pada dirinya, “Aku harap dia akan mengoperkan bolanya kepadaku. Ayah ibuku sedang menonton permainanku. Aku merasa sangat siap. Aku tahu aku bisa ‘menggoceknya’ dan mencetak gol!”

Sementara Boas berpikir, “Aku harap temanku ini tidak mengoperkan bolanya kepadaku. Aku tidak siap. Lagi pula ayah ibuku sedang menonton aku bertanding… kalau aku gagal, mereka berdua bisa menertawakanku! Oh, Tuhan, jangan biarkan dia mengoperkan bola kepadaku!”

Andi punya keyakinan akan kemampuannya, dan ia mengubah ketakutannya menjadi antisipasi, berharap akan dioperi bola dan membawanya menjadi gol.

Sementara Boas dihantui oleh kemampuannya, dibekukan oleh ketakutannya dan berharap bola tidak dioperkan kepadanya karena takut tidak bisa membawanya menjadi gol.

***

Takut adalah sebuah emosi yang saat dibarengi dengan sebuah keyakinan positif dan sikap yang sehat justru akan mendorong menuju kesuksesan. Takut sesungguhnya adalah reaksi yang alami dan sehat, serta bisa membantu seseorang mengantisipasi apa yang bakal terjadi pada momen-momen berikutnya; mengkonfrontir, mengelola, dan meneruskannya dalam rangka meraih tujuan-tujuannya. Takut, sejatinya, mengingatkan seseorang bahwa ia berada pada “saat ini” dan dalam keadaan “sekarang”.

Ketika seorang pemain sepakbola, misalnya, antri di lorong ganti pakaian, bersiap-siap memasuki lapangan, ia mesti menempatkan dirinya dengan kejadian-kejadian yang bakal terjadi, memainkan peristiwa-peristiwa ini di benaknya, dan menyiapkan dirinya secara emosional, sebelum memasuki lapangan.

Kamar ganti adalah lorong antisipasi yang dipenuhi dengan adrenalin, dan ya, tentu saja dibarengi perasaan takut. Takut akan mendorong seseorang selama pertandingan berlangsung, membuatnya waspada, dan siap sedia apa pun yang bakal terjadi nanti. Tanpa ini, ia tidak akan siaga, tidak menyiapkan diri dan tidak mampu bereaksi pada kejadian-kejadian yang bakal dihadapinya. Takut adalah salah satu emosi yang mengarahkan seseorang menuju hasil positif yang diharapkannya.

Kalau kata “takut” diubah menjadi “antisipasi”, hal ini akan mengubah emosi seseorang menjadi sebuah kekuatan positif yang menstimulir imajinasinya dan mendorongnya menuju kesuksesan.

Upaya memerangi TAKUT yang sesungguhnya merupakan respon alami manusia jarang menelurkan hasil yang positif. Sebaliknya, Takut justru harus dijadikan sahabat – seperti halnya Fani dan Andi di atas – dan disikapi sebagai pendorong sukses.

Sumber :
Buku # 3 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Februari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *